Angular vs React: Mana Yang Terbaik?

Angular vs React: Mana Yang Terbaik?

by
Rian Romadhon
July 29, 2021

Meski banyak teknologi yang bisa digunakan untuk membuat laman interaktif, Angular vs React adalah dua dari sekian banyak teknologi yang paling ramai diperdebatkan. Para front-end developer sendiri tentu memiliki preferensi tersendiri dalam penggunaannya. Karena berpengaruh pada hasil akhir, klien pun berhak untuk menentukan JavaScript mana yang mau dipakai. Nah, kewajiban bagi para developer dan desainer untuk menjelaskan apa kelebihan dan kekurangan dari JavaScript tersebut. 

Kali ini, kita akan membahas dua JavaScript atau bahasa pemrograman dalam software development yang paling populer, yaitu Angular dan React. Keduanya digunakan oleh perusahaan dan brand ternama sehingga Anda bisa melihat langsung gambaran hasil akhirnya. 

Angular dan React sama-sama bisa digunakan untuk pembuatan single-view website. Seperti apa, sih, single-view website? Kalau Anda pernah memperhatikan website yang bisa di-scroll atau geser terus ke bawah, itulah yang disebut aplikasi website single-view. Website tidak memiliki banyak laman, tetapi bisa terus digeser untuk melihat konten baru. Anda mungkin lebih mudah mengenalinya ketika sistem itu dipakai di media sosial seperti Instagram, Facebook, dan YouTube. 

Apa itu Angular dan Perusahaan Besar yang Menggunakannya

Angular pertama kali diluncurkan oleh Google pada tahun 2010 dan dikenal sebagai Angular JS. Kemudian, bahasa pemrograman ini ditulis ulang dan dikembangkan pada tahun 2016 dan dikenal sebagai Angular saja. Sejak saat itu, Angular terus diperbarui hingga mencapai Versi 10 pada tahun 2020 ini.

angular vs react

Beberapa perusahaan ternama yang menggunakan Angular di website-nya adalah Microsoft, McDonald’s, Apple, Upwork, Udemy, PayPal, YouTube, Nike, Telegram, Lego, GoPro, Adobe, UPS, iStockPhoto, The Guardian, dan tentu saja, Google sendiri.

Dengan menggunakan Angular pada bahasa pemrogramannya, laman website perusahaan tersebut bisa lebih interaktif dan memberikan tampilan tidak terputus tetapi tetap tersegmen dengan jelas. 

Sebelum masuk ke perbandingan, mari kita bahas mengenai kelebihan dan kekurangan Angular yang berbasis framework ini. 

Kelebihan Angular

  • Code dimiliki dan dipelihara oleh Google.
  • Angular memiliki language service yang bisa autocomplete untuk file eksternal HTML.
  • Dokumentasi Angular lebih mendetail.
  • Pembaruan fitur dilakukan hampir setiap tahun.
  • Risiko error kecil karena memiliki two-way data binding. 
  • Pola MVVM (Model – View – ViewModel) memungkinkan pengerjaan terpisah untuk satu bagian aplikasi yang sama dengan data yang sama.
  • Struktur dan arsitektur web bisa digunakan untuk skala besar. 
  • Bisa dilakukan dependency injection pada fitur yang berkaitan dengan modul.

Kekurangan Konsep Angular 

  • Karena masih merupakan bahasa pemrograman awal, bahasa masih cukup kompleks dan sulit dipelajari.
  • Banyak istilah yang perlu dimengerti dari awal.
  • Jika tidak ditangani dengan tepat, performa bisa lebih pelan. 
  • Kontrol proses render dari komponen harus dilakukan secara manual.

Kesimpulannya, Angular memiliki environment tersendiri yang harus dimengerti sejak awal. Penggunaan istilah yang banyak mungkin membingungkan. Namun, melihat banyak perusahaan besar yang menggunakan Angular, tampaknya maintenance website menggunakan Angular cocok untuk perusahaan yang membutuhkan laman yang interaktif, sederhana, tetapi bisa memiliki banyak komponen atau bagian.  

Penjelasan Sederhana React dan Siapa Saja Penggunanya?

Dikembangkan oleh Facebook, bahasa pemrograman React bersifat open source dan bisa digunakan oleh siapa saja. Fungsi utamanya sama dengan Angular, yaitu membangun satu laman utama yang interaktif. React bisa digunakan untuk membangun website dan aplikasi sehingga Anda tidak perlu bingung memilih apakah perlu membangun aplikasi website atau aplikasi mobile terlebih dahulu.

angular vs react

Beberapa perusahaan dan brand besar yang menggunakan React dalam strukturnya adalah Facebook, Netflix, Instagram, Yahoo, Whatsapp, New York Times, Slack, AirBnB, Tesla, Codecademy, dan Dropbox. Anda bisa melihat langsung nyamannya scrolling menggunakan tampilan web app dan mobile app milik perusahaan-perusahaan tersebut.  

Berbeda dengan Angular yang memiliki elemen mendetail, React memungkinkan desainer membangun komponen-komponen secara berkelompok. Jadi, jika ada yang perlu diganti atau diperbarui, tinggal mengganti komponen tersebut.

Ada tiga fitur utama React JS:

  1. Deklaratif. React bisa membuat antarmuka atau interface yang interaktif. Desainnya mudah dibuat dan bisa digunakan untuk setiap kondisi dalam aplikasi. Tampilan deklaratif membuat aplikasi lebih mudah dipelihara dan bug bisa lebih mudah diperbaiki. 
  2. Berbasis komponen. Komponen yang disiapkan bisa disimpan dan dipergunakan atau dipakai ulang sewaktu-waktu. Dengan susunan komponen, antarmuka yang lebih rumit bisa dibuat.
  3. Mudah diedit dari mana saja. React memiliki fitur tersendiri yang memudahkan developer melakukan maintenance atau menambah fitur tanpa harus mengubah coding yang lama. Adanya Node JS dan React Native mempermudah pengubahan. 

Mempelajari React Native

Ketika menggunakan React JS dan ingin berkembang ke ranah Android atau iOS, mempelajari React Native akan sangat berguna. Pada dasarnya, React Native juga terdiri dari komponen-komponen yang bisa digunakan dan dipakai ulang. Perbedaannya, ketika Anda membawa model website untuk penggunaan tampilan mobile, React Native bisa membuatnya lebih nyaman digunakan untuk sistem operasi mobile seperti Android dan iOS.

Alih-alih hanya memindahkan konten dari website untuk tampilan mobile browser menggunakan JavaScript, React Native membuatnya interaktif dan responsif sesuai dengan handling mobile. Hal ini mungkin dilakukan oleh React Native karena ada dua alur yang digunakan.

angular vs react

Pertama adalah alur utama yang ada di aplikasi standar. Alur utama mengatur tampilan elemen antarmuka pengguna dan mengidentifikasi perilaku pengguna. Alur lainnya adalah yang bertugas untuk membagi pemrosesan code JavaScript menjadi dua di mesin JavaScript yang berbeda. Aplikasi akan memiliki logikanya tersendiri apabila dibuka di browser PC dan browser mobile. Alur utama dan alur JavaScript tidak berkomunikasi satu dengan lainnya karena merupakan dua proses yang berbeda. 

Di antara main dan JavaScript, terdapat bridge yang menjadi jembatan komunikasi di antara keduanya. Jembatan ini memiliki tiga karakteristik:

  • Asynchronous. Jembatan memungkinkan adanya komunikasi yang tidak perlu tersinkronisasi di antara kedua alur. Ini memastikan kedua alur tidak saling memblokir. 
  • Batched. Pesan komunikasi dilakukan dalam batch sehingga lebih terkelompok dan optimal. 
  • Serializable. Kedua alur tidak pernah berbagi atau beroperasi dengan data yang sama. Mereka berkomunikasi melalui pesan beruntun. 

Penting bagi seorang developer untuk mengerti tentang penggunaan React Native terutama untuk memenuhi kebutuhan klien akan web app dan mobile app. Jadi, tampilan di keduanya nantinya akan tetap nyaman untuk digunakan dan formatnya pun akan tetap interaktif tanpa mengorbankan fitur. 

Secara singkat, berikut adalah kelebihan dan kekurangan React.

Kelebihan React

  • Dibandingkan bahasa lain, React relatif lebih mudah dipelajari dengan desain yang sederhana.
  • Template menggunakan sintaksis seperti HTML yang bernama JSX sehingga dokumentasi bisa lebih detail. 
  • Developer bisa membangun dengan lebih cepat karena berupa library bukan framework yang harus dibangun dari awal.
  • Memiliki virtual DOM yang membuat proses render jadi lebih cepat.
  • Proses render bisa dilakukan secara server-side sehingga konten masih bisa tetap diakses walau sedang ada pemeliharaan.
  • Bisa dikatakan sebagai Progressive Web App (PWA) karena memiliki app generator dengan command “Create-React-App”.
  • Punya one-way data binding yang mengurangi kemungkinan error. 
  • Mudah untuk melakukan migrasi antar versi karena ada codemods yang menjalankan otomatisasi.
  • Code mudah untuk dites dan bisa dipakai ulang dengan konsep Functional Programming (FP).
  • Komponen yang sudah ada bisa diganti atau digunakan ulang.
  • Bisa dikembangkan melalui jadi React Native.

Kekurangan React

  • Karena kemungkinannya sangat luas, developer atau software house harus menentukan sendiri proses pengembangan yang baik. 
  • Tercampurnya template dan logic yang awalnya untuk memudahkan, mulai membingungkan karena overlapping. 

Walaupun terkesan lebih mudah dibandingkan Angular dalam hal penggunaan, React sebenarnya juga memiliki komponen yang cukup banyak. Developer harus memiliki tim untuk memutuskan dengan cepat, komponen seperti apa yang mau digunakan dan menciptakan sistem yang terintegrasi. Jika tidak, pengerjaan akan memakan waktu lama. 

Kalau berhubungan dengan tampilan dan interaksi dengan user, developer juga bisa berdiskusi dengan klien untuk menentukan kenyamanan yang diinginkan. Hal ini untuk memastikan website yang dibangun sesuai dengan kebutuhan klien. 

Perbandingan Tujuh Fitur Utama Angular vs React

Dilihat dari fitur dan gambaran aplikasi yang sudah digunakan oleh perusahaan ternama, tampaknya keduanya memberikan tampilan yang sama-sama interaktif dan mudah untuk digunakan.

angular vs react

Agar lebih jelas, berikut adalah perbandingan dari tujuh fitur utama Angular vs React.

1. Angular adalah Framework, sedangkan React adalah Library

Itu menjelaskan bagaimana React terdiri dari komponen yang bisa langsung dipilih, sementara Angular dibangun dari awal sebagai kerangka aplikasi. Angular bisa membuat aplikasi website dari nol, sedangkan React hanya membangun tampilan menggunakan komponen yang sudah ada. Data yang ada nantinya akan berbentuk tampilan. Maka dari itu, Facebook mengembangkan Flux yang membantu React untuk bekerja. Flux merupakan pola arsitektural yang melengkapi React. 

Flux mengatur aliran data dan membuatnya satu arah. Mesin ini juga yang akan memilah data ke komponen-komponen yang sudah dipilih. Adanya Flux semacam gerbang yang akan membantu data masuk ke komponen masing-masing. Dengan begitu, data akan lebih teratur dan memudahkan pengembangan ke depannya. 

2. Pendekatan Berbasis Komponen

Sebagai bagian paling dasar, bayangkan komponen sebagai bagian dari pohon Angular yang bercabang. Dalam coding Angular, sebuah komponen ditandai dengan “@component”. Di dalamnya terdapat metadata termasuk template, gaya desain, dan tampilan lainnya. Karena berbentuk pohon, mudah untuk melihat ke mana arah aplikasi dalam struktur desain Angular. 

Sementara pada React, komponen berupa fungsi yang memiliki input dan output yang berbeda. Jadi, developer perlu menentukan komponen mana yang akan digunakan untuk menghasilkan fungsi atau reaksi tertentu dari web app

3. Bahasa yang Digunakan

Aplikasi yang menggunakan Angular menggunakan bahasa TypeScript, sebuah pengembangan dari ECMA2015. Code tersebut nantinya akan dikompilasi dan diubah menjadi JavaScript. Secara sederhana, TypeScript adalah bahasa yang lebih mudah dimengerti dan bisa dikonversi ke JavaScript. Penulisannya menggunakan dekorator, pengelompokan, dan fitur antarmuka. Angular menggunakan JavaScript melalui TypeScript dan HTML. 

Sementara itu, React menggunakan bahasa JavaScript dan JSX. React memungkinkan pengguna untuk menyematkan XML atau HTML ke JavaScript melalui JSX yang dikompilasi melalui pemroses seperti Babel. Namun begitu, Anda juga bisa tetap menggunakan coding React.createElement ( ) jika tidak ingin menyematkan HTML ke JavaScript.

4. Pengecekan Angular vs React

Dalam Angular vs React, terdapat pula perbedaan dalam pengecekan. Di Angular, yang digunakan adalah TypeChecking, sementara React menggunakan PropTypes. Sebelum diluncurkan, susunan code perlu dicek untuk melihat apakah ada ketidakcocokan atau error. 

Di Angular, memungkinkan untuk membuat alias atau nama lain untuk satu set code yang sudah dicek.  Sementara itu, proses checking di React bisa menggunakan code PropTypes dan mengecek satu string code. 

PropTypes ini sendiri merupakan library untuk mengecek code. Jika ada code yang tidak berfungsi, akan ada semacam peringatan untuk mengganti code. 

PropTypes sangat berguna untuk mendeteksi bugs. Tentu saja, dalam pemeliharaan sebuah web app, pendeteksian bugs perlu dilakukan secara berkala agar semua sistem berjalan dengan normal. Tidak jarang, bugs juga dilaporkan oleh pengguna atau end-user ketika menemukan ada yang tidak beres dengan aplikasi. Hal ini tentu akan memudahkan developer untuk menemukan sumber permasalahan bugs atau gangguan yang terjadi. 

5. Sistem Scaffolding

Scaffolding atau perancah menyediakan penyangga bagi struktur website yang akan dibangun. Nyatanya, membangun arsitektur website memang cukup sulit. Maka dari itu, dibutuhkan waktu yang cukup lama dari mulai perencanaan awal hingga website bisa diluncurkan. Sebelumnya, developer perlu melakukan pengetesan dan pengecekan untuk meminimalisasi kesalahan pada code. Maka dari itu, biaya jasa pembuatan aplikasi web pun tergantung dari kerumitan web yang akan dibuat. 

Google dan Facebook sebenarnya sudah mempermudah langkah strukturisasi website melalui Angular dan React. Kalau Angular memiliki Angular_CLI, React memiliki create-react-app. 

Dengan format yang cukup mendasar, Angular_CLI bisa melakukan banyak hal dari mulai membuat perintah untuk mengetes unit struktur web hingga mengetes website dari awal hingga akhir. 

Sementara itu, pengetesan di React perlu dilakukan dengan mengetik manual perintah “create-react-app”. Yang dilakukan hanya mencoba penggunaan aplikasi pada browser menggunakan npm. Secara singkat, Angular lebih bisa mendeteksi kesalahan karena pengetesan dilakukan secara menyeluruh. 

6. Pengikatan Data

Dikenal juga sebagai data binding. Pada Angular, data binding dilakukan secara dua arah, sementara pada React hanya satu atau one-way binding. Pengikatan dilakukan antara teks atau data mentah aplikasi dan tampilan. Jadi, ketika nanti struktur lain ada yang berubah, struktur yang sudah fixed tidak akan terpengaruh. Karena dua arah, Angular memungkinkan mengubah tampilan lalu diikuti oleh model, atau mengubah model yang lalu diikuti oleh tampilan. 

Sementara pada React, pengikatan data dilakukan top-down atau dari komponen besar ke komponen turunannya. Jika ingin memotong sebuah susunan komponen atau code string, bisa dilakukan melalui callbacks yang ada pada komponen induk. Susunan komponen mungkin dipotong dan dipropagasi atau dikembangkan menjadi sebuah susunan komponen lain. 

Untuk itu, developer perlu menemukan bagian mana yang perlu dipotong dan dikembangkan tanpa perlu mengorbankan komponen awal. Hal ini dilakukan jika ada penambahan fitur atau laman yang ingin dikembangkan dari fitur awal. 

7. Proses Render

Ada sebuah proses render yang dikenal sebagai cara yang cukup dasar yatu server-side render. Artinya, ketika server sedang mengembalikan file HTML untuk pengecekan atau pemutakhiran, web bisa tetap diakses dan tampilan terlihat oleh pengunjung. Di luar teknik ini, ada pula client-side rendering yang mengembalikan seluruh dokumen HTML, stylesheet, dan berkas teks JavaScript. 

Bagaimana dengan Angular vs React? Keduanya bisa melakukan server-side atau client-side rendering meski cara kedua lebih populer di kalangan front-end developer. Kekurangan client-side render adalah dampaknya terhadap SEO karena isi HTML bisa jadi tidak lengkap ketika Anda membagikan tautan ke media sosial. 

Angular sendiri memiliki solusi untuk persoalan ini yang dikenal dengan Angular Universal. Jika ingin memaksimalkan mesin pencari web app Anda, penggunaan Angular Universal cukup direkomendasikan. 

Dengan menggunakan Angular Universal, website secara keseluruhan di-render dari server dalam hitungan detik, setelah itu barulah sistem client-side rendering berjalan. Hal ini memberikan dampak yang cukup baik yaitu pengguna atau pengunjung web tidak akan tahu kalau di balik website yang dikunjunginya, sedang ada proses maintenance atau rendering. 

Berbeda dengan Angular yang menggunakan Angular Universe, React menggunakan dokumentasi Redux yang mengatur proses rendering. Proses render bisa memakai komponen BrowserRouter atau StaticRouter yang bisa ditemukan di library react-router. Selain Redux, React juga bisa mencoba next.js yang bisa membantu optimalisasi performa website. 

angular vs react

Dari beberapa poin di atas, bisa dilihat bahwa Angular memiliki elemen yang lebih lengkap untuk pembuatan website dari awal hingga akhir. Berbeda dengan React yang membutuhkan banyak mesin dan fitur tambahan seperti Flux atau Redux. Tentu saja, hal tersebut berpengaruh pada proses pembuatan dan kerumitannya. 

Angular yang sekarang ada merupakan perkembangan dari Angular JS yang lebih dahulu ada. Ini artinya, dari segi pengalaman dan perkembangan, Angular lebih kompleks tetapi mumpuni. Sementara itu, React lebih sederhana, tetapi masih membutuhkan tambahan elemen agar bisa menciptakan web app yang diinginkan

Jadi, Mana yang Terbaik?

Sebenarnya, cukup sulit membandingkan Angular vs React sebab yang satu merupakan framework dan yang satu lagi adalah sebuah library. Meski begitu, keduanya memang bisa digunakan untuk membuat web app berformat single-view atau yang bisa dilihat dari kesederhanaan tampilannya. 

Dari segi developer, keduanya memang memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Selain berpatokan pada hasil akhir, perdebatan antara Angular vs React berkisar antara serumit apa pembangunan struktur website dan pemeliharaannya.

angular vs react

Ingat, membangun website bukan pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dalam hitungan minggu. Sebab, ada proses teknis dan kreatif di sana. Developer perlu menciptakan sistem yang interaktif dan mudah digunakan bagi end-user atau pengunjung web, tampilan estetika yang enak dilihat, dan web app yang mudah untuk dipelihara. 

Walaupun saat ini mobile app development sudah bisa membuat banyak fitur, aplikasi website masih dibutuhkan terutama terkait kenyamanan pengguna. Selain itu, website bisa menjadi anchor untuk perusahaan atau brand yang Anda usung. Itulah kenapa perusahaan harus membuat website

Dari segi klien, yang paling penting dalam website development adalah bagaimana aplikasi tersebut bisa memenuhi kebutuhan user dan memudahkan mereka untuk melihat tampilan website dengan nyaman. Sebagai klien, Anda perlu berkomunikasi dengan IT consultant mengenai kebutuhan akan website dan fitur yang diinginkan. 

Saat ini, pilihan fitur atau tampilan sudah sangat beragam. Secara sederhana, kalau Anda masih bingung mau memilih sistem yang seperti apa, coba kunjungi aplikasi website yang disebutkan di atas, baik menggunakan Angular atau React. Setelah itu, perhatikan pengalaman Anda selama menggunakan: kecepatan loading, waktu respons, sebanyak apa bagian yang bisa mengarah ke bagian lain, serta tingkat interaktif yang ditawarkan. 

Dengan begitu, Anda bisa lebih membayangkan, aplikasi website seperti apa yang diinginkan. Langkah selanjutnya, Anda tinggal hubungi kami di SoftwareSeni. Seperti apa pun website yang Anda inginkan, mari cari solusinya bersama SoftwareSeni.co.id!

FAQ

Table of Contents

+ Show

Punya Project atau Ingin Membuat Aplikasi?

Hubungi kami segera dan konsultasikan kebutuhan aplikasi Anda lebih lanjut
Office Address Image

SYDNEY

55 Pyrmont Bridge Road,
Pyrmont NSW 2009 Australia
+61 2 8123 0997

YOGYAKARTA

Unit A & B
Jl. Prof. Herman Yohanes No.1125, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55223