Kamu pasti pernah mendengar kata e-commerce dan online marketplace. Menurutmu, apakah ada perbedaan dari keduanya? Nah, artikel ini akan memberikanmu angin segar supaya tidak ada kekeliruan. Kekeliruan? Iya, percaya deh, masih banyak yang belum bisa membedakan website online marketplace dan e-commerce. Kalau kamu, sudah tahu bedanya atau belum? Jika sudah, artikel ini akan memberikan validasi kepadamu apakah pengetahuanmu tentang website e-commerce & online marketplace sudah sepaham dengan general statement atau belum. Jika belum, jangan khawatir! Kamu tidak sendiri! Justru kamu harusnya bersyukur karena sudah menemukan artikel ini. Hihihihi.

Untuk yang bertanya, “Kenapa sih hal kecil macam perbedaan e-commerce dan online marketplace saja perlu diperdalam? Toh tujuannya sama. Sama-sama untuk jual-beli.”

Yakin, tujuannya cuma untuk jual-beli? Untuk yang masih bertanya tentang pertanyaan diatas, coba baca manfaat website e-commerce yuk. 

Tetapi, jika kamu penasaran sebenarnya apa sih perbedaan website e-commerce dan online marketplace, siapkan teh hangat dan cemilan, sekarang! Artikel ini tidak akan membuat perhatianmu berpaling.

Yuk kita mulai.

Pengertian e-commerce & online marketplace

Untuk sebagian orang, e-commerce dan online marketplace adalah sama. Namun, dari segi fungsionalitas, ternyata berbeda. Yuk, buka kamus ala-ala agar pembahasan ini punya fundamental dan tidak asal ngomong. Simak pembahasan berikut ini.

online shop

E-commerce

Menurut E-commerce Guide, e-commerce adalah bentuk transaksi jual beli secara daring (online). Artinya, jika kamu melakukan aktivitas jual beli via online, kamu telah terlibat dalam e-commerce.

Sedangkan menurut TechTarget, e-commerce adalah proses jual beli barang ataupun jasa, atau mengirimkan uang / data, melalui jaringan elektronik, utamanya internet. 

Dari kedua penjelasan dari dua sumber yang berbeda ada 2 benang merah yang bisa diambil.

  1. Jaringan elektronik, utamanya internet
  2. Aktivitas jual beli

Ya, singkatnya, e-commerce adalah bentuk modernisasi aktivitas jual beli dengan memanfaatkan teknologi internet sebagai media penghubung antara penjual dan pembeli. Penjual tidak perlu mengetahui secara personal siapa yang membeli barang. Begitu pula dengan pembeli, tidak perlu mengetahui siapa yang menjual barang tersebut. Semuanya dilakukan secara virtual.

Online Marketplace

Menurut Richard Kestenbaum, salah satu kontributor Forbes yang membahas dunia retail, online marketplace adalah sebuah website atau aplikasi yang menyediakan fasilitas jual beli dari banyak vendor.

Pendapat Study.com juga memperkuat pendapat Richard bahwa online marketplace adalah tempat jual beli online dimana pihak ketiga dapat berpartisipasi dalam menjual barang / jasa.

Ada yang menarik dalam pembahasan online marketplace oleh Study.com. Online marketplace adalah e-commerce. 

Hold my beer. Gimana sih, katanya e-commerce dan online marketplace itu berbeda!

Tenang, tenang. Baca dulu sampai selesai.

Ya, memang semua online marketplace adalah e-commerce. Tetapi, TIDAK SEMUA E-commerce adalah online marketplace. Paham maksudnya? Biar lebih gampang, analoginya begini. Anggap online marketplace adalah iPhone. Sedangkan e-commerce adalah Smartphone. Semua iPhone adalah Smartphone. Tetapi, tidak semua Smartphone itu iPhone.

Hal yang menjadi titik berat perbedaan antara E-commerce dan online marketplace adalah jumlah penjual / vendor.

Perbedaan e-commerce & online marketplace

Setelah kamu tahu pengertian e-commerce & online marketplace, ada 1 tembok tebal yang membuat e-commerce dan online marketplace terlihat berbeda. Coba tebak!

online shop 2

Yap, betul. Jumlah penjual / vendor. E-commerce adalah website yang memiliki 1 dan lebih dari 1 penjual / vendor. Artinya apa? Bagi website jual beli yang menjual barang / jasa HANYA terdiri dari 1 penjual / vendor dianggap BUKAN online marketplace. Tetapi, jika sebuah website jual / beli memberikan fasilitas bagi pihak ketiga untuk berjualan, dapat dikategorikan sebagai online marketplace. Itu karena online marketplace adalah website yang HARUS memiliki penjual / vendor LEBIH DARI SATU.

Dari segi pembuatan software, website / aplikasi yang hanya mengijinkan 1 vendor (e-commerce) untuk berjualan, akan lebih mudah dibandingkan dengan website / aplikasi yang mengijinkan banyak user (online marketplace) untuk menjadi vendor / penjual. Atau singkatnya, pembuatan online marketplace lebih kompleks daripada pembuatan e-commerce biasa.

Meskipun demikian, menurut Richard (Kontributor Forbes untuk Ritel), salah satu daya tarik dari online marketplace adalah masyarakat memiliki kecenderungan menginstal aplikasi yang menyediakan banyak pilihan vendor, produk, maupun harga dari pada aplikasi e-commerce yang hanya memiliki 1 vendor / penjual. Dari segi psikologis, pengguna merasa dapat membandingkan satu barang dengan yang lain secara bersamaan dengan mudah. Nah, experience inilah yang seringkali menjadi pertimbangan dalam membuat website online marketplace.

Akan tetapi, ada satu hal yang menjadi concern vendor / penjual jika menggunakan website online marketplace. Barang counterfeit / bajakan / palsu. Ya, dengan mudahnya orang-orang menjual barang di online marketplace, bukan tidak mungkin keaslian barang menjadi ancaman. Ancaman tersebut berlaku bagi perusahaan brand yang dipalsukan, maupun konsumen yang tertipu oleh penjual barang palsu. Memang, sudah banyak online marketplace yang memberikan diferensiasi pada official store. Tetap saja, karena kecenderungan masyarakat yang memilih barang yang memiliki harga yang relatif murah, tentu barang-barang palsu di online marketplace masih memiliki “pasar” yang cukup banyak. 

Untuk di Indonesia sendiri, pemahaman dan regulasi perihal barang-barang counterfeit / barang palsu masih terbilang lemah. Nah, kelemahan inilah yang menjadi perhatian banyak brand. Sehingga, perusahaan merasa kehadiran e-commerce non-marketplace sebagai tempat yang “aman” bagi konsumen. “Aman” disini adalah jaminan barang 100% asli karena e-commerce tersebut dioperasikan oleh perusahaan brand itu sendiri. Bisa dibilang sebagai perpanjangan tangan. 

Nah, meskipun kini proses membuat website e-commerce dapat diserahkan kepada perusahaan Software House Professional, tetapi ada 1 hal penentu, apakah penjualan produk melalui e-commerce pribadi akan lebih menguntungkan daripada berjualan di marketplace.

Brand

Brand? Kok bisa?

Ketika kamu ingin berbelanja online. Apa yang akan kamu lakukan pertama kali? Mencari di peramban Google dengan keyword barang yang ingin kamu beli, bukan? Misalnya membeli sepatu olahraga.

sepatu olahraga ( Online marketplace )

Ya, 3 urutan organik teratas dengan keywords: sepatu olahraga di mesin Google adalah online marketplace. Bagaimana jika kita masukkan pula nama brand terkenal. Yuk mari. 

sepatu olahraga nike ( Online marketplace )

Masih sama. Online marketplace. Yap, untuk sekelas Nike dan sekaligus pemegang brand Nike saja membutuhkan bantuan Ads / iklan untuk mendapatkan posisi halaman pertama untuk kategori keywords: sepatu olahraga nike. Bagaimana bisa?

Coba lihat statistik dibawah ini, ya.

online marketplaces win google search

(Keywords: Sepatu Olahraga)

sepatu olahraga nike ( Online marketplace ) 2

(Keywords: Sepatu Olahraga Nike)

Dari data statistik di atas, ada selisih yang sangat tinggi pada volume pencarian “sepatu olahraga” dan “sepatu olahraga nike”. Rinciannya sebagai berikut.

Sepatu olahraga: 5200 volume pencarian (tiap bulan)

Sepatu olahraga nike: 600 volume pencarian (tiap bulan)

Dari data tersebut, bila dilihat dari pandangan seorang analis, kebanyakan orang masih melakukan pencarian menggunakan kata generik produk daripada spesifik menyebut produk + brand. Memang, yang mencari produk + brand masih layak untuk diperhitungkan. Akan tetapi, tetap saja yang berada di halaman pertama mesin pencarian Google adalah online marketplace.

Meskipun demikian 600 volume pencarian bukanlah jumlah yang sedikit. Lebih dari 10% calon pembeli sepatu olahraga memilih nike. Tentu karena Nike adalah merek / brand besar. Tetapi bagaimana dengan perusahaan rintisan dengan brand entitasnya sendiri? Tentu cukup was-was ya (?)

Lalu, jika online marketplace memiliki kekuatan di mesin pencarian Google, mengapa pertumbuhan e-commerce semakin pesat?

Pertanyaan yang menarik. Memang, perlu diakui meskipun kekuatan online marketplace cukup merajai wilayah Google, pertumbuhan e-commerce mulai menggerus sedikit demi sedikit kekuatan online marketplace.

Sebenarnya apa sih yang membuat e-commerce non-marketplace semakin digemari? Simak penjelasan berikut.

1. Meningkatkan daya saing bisnis

E-commerce merupakan salah satu bentuk dari transformasi digital bisnis. Fokus transformasi digital bisnis adalah untuk meningkatkan daya saing bisnis. Jika perusahaan dapat mengimplementasikan e-commerce dengan tepat guna, tentu akan menjadi nilai tambah / value added bagi perusahaan. Namun, yang cukup memprihatinkan adalah ketika website e-commerce hanya dijadikan aksesoris dan tidak diberdaya gunakan. Akibatnya, website e-commerce hanya menjadi beban perusahaan karena butuh biaya maintenance, dan dll. Jika sudah demikian, bisa dibilang transformasi digital bisnis gagal. Padahal, biaya untuk membangun e-commerce itu tidak sedikit. 

Nah, jika kamu pemilik perusahaan / bisnis yang berencana untuk membangun e-commerce, baca tips/trik e-commerce yang bisa membantu bisnis kamu. Jangan sampai manfaat e-commerce yang begitu besar tidak bisa kamu utilized dengan maksimal. Jadikan e-commerce sebagai channel distribusi yang bisa kamu andalkan.

SoftwareSeni punya beberapa artikel yang akan membantu kamu untuk menyusun strategi dalam membangun e-commerce yang profitable.

2. Konversi akan lebih cepat

Konversi tinggi adalah impian semua pelaku bisnis. Bukan begitu? Ketika kamu hanya mengandalkan online marketplace sebagai channel distribusi produk mu, berapa banyak kompetisi bertingkat yang akan kamu hadapi? Logikanya seperti ini. Masih dengan sepatu. Kamu adalah pemilik indie brand sepatu sneaker dengan brand mu sendiri. Ketika calon pembeli mencari sepatu sneaker secara online, mereka akan mencari di google dengan keywords “sepatu sneaker”. Dan kalian tahu apa yang akan muncul?

Yap, online marketplace. Lalu apa yang akan dihadapi oleh calon pembeli jika sudah memilih salah 1 online marketplace? 

market competition

Produk sepatu sneakers mu harus bertarung dengan 2808 produk sneakers di online marketplace tersebut.

Akan ada 2 kompetisi yang akan kamu hadapi sebelum bisa terkonversi sebagai pembeli produk. Mungkin akan ada pertanyaan begini.

“ Tapikan, kita bisa menjual produk di semua platform online marketplace, jadi masih ada peluang dong?”

Tetap saja, kamu akan sulit melakukan diversifikasi produk. Sehingga, calon pembeli akan menganggap semua sepatu sneakers yang berada di kategori tersebut memiliki nilai / value yang kurang lebih sama.

Namun, jika kamu memiliki website e-commerce yang didedikasikan hanya untuk menjual produk sepatu sneakers brand mu sendiri, kamu hanya perlu menghadapi 1 kali kompetisi, yaitu kompetisi di mesin pencarian Google. SEO, ya kamu harus mengerti hal ini. Kenapa? Karena saingan website e-commerce mu adalah online marketplace besar yang memiliki banyak vendor dan produk yang serupa. 

Tetapi jangan khawatir jika kamu paham dan mengenal segmen konsumen mu, kamu bisa memenangkan pertandingan dengan SEO pada website e-commerce mu. Setelah itu, calon pembeli akan memilih barang dan potensi untuk menjadi konsumen produk akan jauh lebih besar. 

NB: jika kamu benar-benar ingin menggenjot posisi website e-commerce mu di mesin pencarian Google, fasilitas Adwords layak untuk kamu perhitungkan.

3. Menguatkan branding pada produk

Ya, produk yang memiliki dedicated website e-commerce akan memiliki dampak yang positif pada Brand produk tersebut. Kenapa? Personalisasi website / aplikasi e-commerce yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan persona dari brand tersebut. Berbeda dengan online marketplace dimana kamu tidak bisa melakukan branding secara optimal. Produk. Ya, kamu hanya bisa menjual produk. Kamu tidak bisa menjual pengalaman / experience yang membuat pembeli ketagihan untuk membeli produk lain dari website e-commerce produk kamu. 

Padahal, kekuatan sebuah bisnis terletak dari intensitas repeat order atau repurchase. Dengan memberikan personalisasi lebih terhadap website e-commerce untuk brand produk mu, kamu bisa mendapatkan eksposur lebih. Misalnya saja, kamu bisa mendapatkan informasi pembeli berupa email yang nantinya bisa kamu gunakan untuk melakukan e-mail marketing. Atau mungkin memberikan kustom paket dengan nama brand. Tentu itu akan menciptakan pengalaman yang berbeda. Yang tentu saja tidak bisa konsumen dapatkan jika membeli produk melalui online marketplace. 

Justru, jika kamu ingin menanamkan nilai / value suatu barang dan menginginkan optimasi brand yang baik, online marketplace bukanlah surga untukmu. Kenapa? Kamu tidak bisa mempresentasikan produk mu dengan maksimal. Penjelasan historis yang menjual akan sulit untuk disampaikan. Padahal penyampaian ide yang membuat suatu brand produk lebih dari sekadar nama, patut untuk dijunjung tinggi.

Intinya, dedicated website e-commerce akan memberikanmu kekuatan lebih dalam hal branding. Penyesuaian template website e-commerce bisa di sesuaikan dengan brand dan masih banyak lagi. Kalau kamu mau tahu sejauh mana dedicated website e-commerce untuk brand dan produk bisnis kamu, coba baca manfaat e-commerce.

Ya, dari tiga alasan tersebut bisa kamu lihat kenapa sekarang begitu banyak brand yang mulai membangun dedicated website e-commerce. Meskipun online marketplace masih merajai pencarian di Google, tetapi tetap saja fleksibilitas dedicated website e-commerce belum bisa dikalahkan (setidaknya sampai artikel ini dibuat).

Meskipun demikian mungkin tidak semua pemilik brand / produk membutuhkan dedicated e-commerce. 

E-commerce vs Online Marketplace

Mungkin sekarang kamu bingung. Apakah kamu harus mulai membuat dedicated website e-commerce atau cukup mengandalkan online marketplace untuk menciptakan kondisi bisnis yang baik. Pembahasan dibawah ini cocok buat kamu!

marketplace

Kapan kamu harus membuat dedicated website e-commerce?

1. Fokus pada pengembangan brand & produk

Dedicated website e-commerce akan memudahkan kamu untuk menganalisis produk mana yang paling dibeli dan produk mana yang paling mendapatkan apresiasi dari konsumen. Dua hal yang berbeda. Tetapi, jika kamu bisa menganalisis dan menggabungkan antara produk yang paling laris dan produk yang paling banyak mendapatkan review positif tentu kamu akan bisa mengembangkan produk yang memiliki 2 element tadi. Laris dan diapresiasi. 

Selain itu, jika kamu fokus akan kelangsungan brand dari produk-produk mu, akan lebih baik jika memiliki dedicated website e-commerce. Kenapa? Konsumen dapat mengenal siapa kamu, latar belakang brand kamu, hingga tujuan kamu menciptakan brand tersebut. Konsumen akan merasa engage dan beruntung  jika kamu bisa menyentuh sudut psikologis calon pembeli dengan brand kamu. Mereka bisa menjadi agen “words of mouth” secara gratis bagi brand kamu.

Memang tidak mudah. Kamu perlu menyusun begitu banyak hal mulai dari visi, misi, hingga historical value dari brand produk. Tetapi, dengan bantuan dedicated website e-commerce, kamu bisa melakukan deliver pesan tersirat brand mu lebih mudah. Sehingga, calon pembeli akan mendapatkan nilai / value lebih terhadap produk yang mereka beli.

2. Perkenalan Produk hingga Ekspansi bisnis

Mungkin, dipasaran ada banyak vendor yang menawarkan jasa pembuatan website e-commerce dengan embel-embel “murah”. Tetapi, jangan sampai kamu terkena jebakan batman. Kebanyakan penyedia yang menawarkan harga “murah” untuk dedicated website e-commerce menyembunyikan harga riil dari produk tersebut. Akibatnya, ada biaya bulanan / tahunan yang cukup tinggi. Minimalnya personalisasi website untuk kebutuhan branding. Dan parahnya,  banyak fungsi e-commerce yang tidak berjalan dengan baik. Tentu akan sangat menghambat ekspansi bisnis. 

Namun, jika eksekusi dedicated website e-commerce dapat dilakukan dengan baik, ekspansi bisnis bukan menjadi khayalan lagi. Kamu bisa mendapatkan cangkupan pasar yang lebih luas.

Ada yang perlu dijadikan pertimbangan untuk menciptakan dedicated website e-commerce. Pengenalan produk. Pada posisi mana produk mu ingin ditempatkan. Apakah masuk kategori low-price, mid-price, high-price. Kategori ini bukan murah mahal ya, karena relatif. Tetapi, perbandingannya adalah harga produk serupa dipasaran. Lucu rasanya jika kamu memasuki wilayah mid - high price tetapi kamu melakukan launching di online marketplace. Online marketplace masih bisa dipakai, namun akan sangat aman untuk brand kamu jika memiliki dedicated website e-commerce.

Selain itu, dalam hal ekspansi bisnis juga lebih mudah. Pasalnya, dedicated website e-commerce memberikan kamu akses untuk melakukan e-mail marketing untuk produk-produk baru hingga promosi-promosi menarik yang tidak diberikan oleh online marketplace. Semua otoritas data ada di tangan kamu. Oh iya, jangan sampai lupa. Jika kamu memiliki dedicated website e-commerce keamanan data / data security pengguna itu penting banget loh!

3. Concern pada originalitas produk

Salah satu yang menjadi kelemahan kebanyakan online marketplace adalah jaminan originalitas produk kepada konsumen. Ya, meskipun sudah banyak e-commerce yang memberikan fitur “official store” bagi para penjual, tetapi, tetap saja masih banyak penjual / vendor yang menjual barang counterfeit / bajakan / palsu. Tentu ini sangat merugikan pemegang brand produk maupun konsumen.

Bagi pemilik brand produk tentu dedicated website e-commerce adalah tempat terbaik. Itu karena operasional website dipegang sepenuhnya oleh perusahaan pemegang brand produk. Sehingga, originalitas barang dapat terjaga. 

Jadi, dedicated website e-commerce kurang cocok untuk siapa?

1. Reseller

Ya, reseller (kecuali authorized reseller) kurang cocok untuk membangun dedicated website e-commerce. Pasalnya, dari segi waktu dan biaya, jenis dedicated website e-commerce hanya akan membebani anggaran operasional. Justru akan menarik jika kumpulan reseller (yang menjual produk berbeda) ini bergabung untuk membuat online marketplace untuk menantang raja online marketplace di Indonesia. Selain bisa berbagi anggaran, juga bisa berbagi risiko.

Sehingga, profit margin akan jauh lebih besar. Selain itu, jika reseller membuat dedicated website e-commerce sedangkan perusahaan pemilik brand produk pun memiliki dedicated website e-commerce tentu akan membuat bingung calon pembeli. “Website mana yang harus aku percaya”. Bukankah begitu?

Kecuali, untuk beberapa kasus khusus, seperti brand Apple. Karena Apple dilarang untuk menjual produknya melalui Apple Storenya, Apple harus memiliki Authorized Reseller yang secara legal bekerja sama dengan Apple sebagai distributor resmi produk Apple di Indonesia. Nah, authorized reseller tersebut justru SANGAT dianjurkan untuk memiliki dedicated website e-commerce. Kalau bisa, bahkan pengalaman yang diberikan setidaknya nyaris sama atau bahkan sama persis dengan website Apple. Hal tersebut karena, Authorized Reseller tersebut menjadi representative brand Apple di Indonesia. Akan lucu jika sebuah brand yang terkenal akan teknologi nya tetapi tidak memiliki website e-commerce. Atau, jika pun bisa tidak bisa dikirim ke Indonesia karena regulasi. Rumput bergoyang pun akan tertawa, bukan?

Oh iya, bukan hanya kasus brand Apple, ya. Tetapi juga brand-brand lain yang menjual produknya dengan konsep yang sama. 

2. Brand bukanlah fokus utama

Tentu semua pemilik produk memiliki strategi bisnis yang berbeda-beda. Ada yang fokus pada brand ada yang fokus pada hal lainnya. Nah, kalo kamu punya strategi bisnis dimana brand bukanlah prioritas kamu, mungkin dedicated website e-commerce kurang cocok. Karena apa? Salah satu manfaat dari dedicated website e-commerce adalah optimasi branding. Untuk apa membuat sesuatu yang manfaat nya tidak bisa dioptimalkan? 

Jika kamu fokus terhadap produk tangible dimana low-cost adalah strategi utama. Sudah tentu biaya pembuatan dedicated website e-commerce tidak mendukung strategi low-cost tadi. Sehingga, online marketplace lah yang lebih cocok untuk diimplementasikan. Kecuali, kamu tergiur dengan tawaran murah. Tetapi, yakin deh, setelah kamu baca “low-cost software development bukan ide yang bagus”, kamu akan berpikir 1000 kali untuk membuat website e-commerce “murah”. 

3. Jarang berinovasi

Kalian pernah melihat dedicated website e-commerce yang hanya berjualan produk semen dari suatu brand? Kalo website company profile perusahaan pemilik brand semen pasti ada. Tetapi tidak untuk dedicated website e-commerce (setidaknya hingga artikel ini dibuat). Kenapa?

Ya, dari dulu hingga sekarang, semen ya semen aja. Sangat jarang, bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada inovasi yang berarti dalam produk semen. Sehingga, konsumen tidak memerlukan informasi terkini tentang produk semen. Apalagi tentang historical value dari semen. Website company profile dirasa sudah cukup. Semen hanya salah satu dari banyak produk yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah berinovasi. 

Sehingga, pengenalan produk secara berkala dirasa kurang efektif.

Dari penjelasan di atas, lalu apakah jika memiliki dedicated website e-commerce maka tidak lagi perlu memanfaatkan online marketplace?

Tentu tidak. Meskipun kamu sudah memiliki dedicated website e-commerce, kehadiran online marketplace nyatanya masih mendorong laju aktivitas jual beli. Selama online marketplace masih memberikan konversi penjualan yang baik, kenapa harus ditinggalkan? Tetapi, fokus terhadap pengembangan dedicated website e-commerce akan membantu kamu untuk membangun brand dan produk yang lebih baik.

Kesimpulan

Tidak banyak orang yang tahu jika e-commerce dan online marketplace adalah dua istilah yang berbeda. Nyatanya, ada satu poin dimana e-commerce dan online marketplace berbeda. Point tersebut yaitu terletak pada jumlah penjual / vendor. Ya, untuk e-commerce sendiri, memiliki arti aktivitas jual beli elektronik khususnya di internet yang melibatkan satu hingga lebih dari satu vendor dalam satu platform. Yang artinya, semua online marketplace adalah e-commerce. Tetapi, tidak semua e-commerce adalah online marketplace.

Yang perlu kamu perhatikan adalah kebutuhan bisnismu. Apakah online marketplace adalah pilihan yang tepat? Atau justru dedicated website e-commerce untuk brand produk mu lah yang lebih tepat? Atau bahkan keduanya?

Tentu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut harus melalui analisis terlebih dahulu. Tidak ada sistem yang sempurna. Begitulah kata orang-orang. Secanggih-canggihnya online marketplace, ada satu kekhawatiran para pelaku bisnis (apalagi para pemegang brand produk). Tidak lain tidak bukan adalah kehadiran barang counterfeit / palsu / bajakan. 

kesimpulan marketplace

Maka dari itu, sekalipun online marketplace merajai mesin pencarian Google, tetap saja pertumbuhan dedicated website e-commerce tidak bisa terbendung. Nampaknya, jurus jitu yang ditawarkan oleh online marketplace dengan label “official store” kurang mujarab, ya?

Tetapi, bukannya tanpa alasan. Jika kamu memutuskan untuk membangun dedicated website e-commerce, ada beberapa keuntungan bagi bisnis. Yang pertama adalah bisa lebih fokus terhadap pengembangan brand dan produk. Alasannya? Tentu saja karena kemampuan website e-commerce untuk menyimpan data yang akan berguna sebagai dasar pengembangan produk. Selain itu, fleksibilitas serta kreativitas tanpa batas yang ditawarkan oleh dedicated website e-commerce sangat membantu kamu untuk optimasi brand. Selain itu, kamu juga bisa meminimalisir pemalsuan brand produk. Sehingga, keamanan konsumen terhadap produk yang mereka beli dapat ditingkatkan. 

Namun, tentu tidak semua pemilik bisnis / usaha memerlukan dedicated website e-commerce. Ada beberapa kategori yang dinilai belum membutuhkan dedicated website e-commerce untuk pengembangan bisnis. Yang pertama adalah reseller (non-authorized reseller), brand bukan menjadi fokus utama, dan jarang berinovasi.

Meskipun demikian, optimasi antara dedicated website e-commerce dan online marketplace tidaklah buruk. Hanya saja, proporsikan lebih kepada platform yang dapat membantu bisnis berkembang dalam jangka waktu yang lama.

Nah, jika kamu merasa dedicated website e-commerce adalah yang paling tepat untuk bisnis kamu, jangan sampai kena jebakan batman akan harga “murah” nya, ya. Selain itu, pastikan Software House Berpengalaman lah yang membangun platform tersebut buat bisnismu. Jadi, jangan sampai salah memilih partner jasa pembuatan website e-commerce. Simak cara memilih software house yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *