SoftwareSeni Logo

Siap menyambut Internet of Things (IoT), Indonesia?

May 29, 2019

SoftwareSeni

Apa itu Internet of things (IoT)

Apakah kalian pernah mendengar istilah Internet of Things di Indonesia?

Internet of Things atau yang biasa disingkat IoT adalah suatu sistem dimana terhubung & terintegrasi nya perangkat satu dengan yang lainnya. Internet merupakan jaringan penghubung antar perangkat sehingga dapat terintegrasi. Hasil dari integrasi perangkat tersebut menghasilkan kode atau data yang dapat diidentifikasi. Lalu, dari identifikasi kode dan data tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan manusia.

Misalnya, ketika jam tangan pintar terhubung dengan smartphone, aktivitas user akan terekam oleh jam tangan pintar yang digunakan. Lalu, hasil rekam jejak dari jam tangan pintar tersebut dikirimkan secara nirkabel ke smartphone. User akan dengan mudah mengetahui berapa langkah, dan seberapa jauh jarak yang sudah ia tempuh. Hasil data tersebut dapat digunakan sebagai acuan apakah user sudah melakukan cukup banyak gerakan atau masih kurang. Tentunya hal ini dapat meningkatkan kualitas hidup si pengguna jam tangan pintar dan smartphone tersebut.

Singkatnya, IoT ini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan perangkat dengan perangkat, perangkat dengan user (manusia), dan user dengan user secara seamless.

Lalu, sebenarnya berapa besar pengaruh Internet of Things di Indonesia?

Memang masih jarang pihak yang membahas mengenai pengaruh Internet of Things di Indonesia karena Indonesia baru memfokuskan pada penyebaran akses internet yang merata melalui proyek Palapa Ring nya. Tetapi itu tidak membuat SoftwareSeni enggan untuk membahas tentang peran Internet of Things di Indonesia.

Internet of Things

Sejarah Internet of Things di Indonesia

Sebelum membahas lebih dalam tentang peran Internet of Things bagi Indonesia, yuk napak tilas sejarah singkat perkembangan Internet of Things di Indonesia! Simak pembahasan berikut ini.

Meskipun 4 tahun terakhir pengembangan terhadap teknologi Internet of Things cukup pesat, tetapi perkembangan Internet of Things di Indonesia itu tidak semulus yang dibayangkan. Pada awal pengembangan Internet of Things di Indonesia, para developer belum mendapatkan kemudahan secara regulasi. Padahal, dalam konteks teknologi, setiap dua tahun setidaknya terjadi perubahan yang membutuhkan uji coba secara berkala. Namun, nampaknya regulasi di Indonesia belum mendukung fleksibilitas dalam hal administrasi bagi para developer untuk mendapatkan kemudahan uji coba perangkat.

Menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika Indonesia, pada tahun 2017 ada tiga hal yang membuat dilema pada regulator.

  1. Standar Frekuensi
  2. Standardisasi perangkat
  3. TKDN

Meskipun ada kendala mengenai regulasi, apakah pengembangan Internet of Things di Indonesia lantas terhenti begitu saja?

Tentu tidak, pengembangan perangkat Internet of Things di Indonesia terus berjalan yang berfokus pada 5 fungsi:

Yang pertama adalah tagging (Identifikasi). Fungsi tagging untuk mengidentifikasi suatu aktivitas ini memiliki tujuan untuk mengumpulkan data aktivitas atau transaksi.

Fokus kedua adalah monitoring. Setelah aktifitas di identifikasi, monitoring bertujuan untuk memantau apakah terdapat aktivitas tidak biasa yang dikirim oleh tagging.

Ketiga adalah tracking. Tracking berfungsi untuk melacak lokasi.

Fungsi keempat yaitu kontrol. Perangkat IoT yang memiliki fungsi kontrol bertujuan untuk memberikan hasil dari aktivitas-aktivitas atau data yang konsisten.

Terakhir adalah analisis. Tentunya fungsi analisis bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat dipahami dari aktivitas atau data yang didapat.

Lima fungsi di atas merupakan hal yang paling mendasar pada perangkat IoT. Apalagi, di tahun 2019 gencar akan gerakan industri 4.0. Tentu saja permintaan akan produk IoT akan semakin besar. Jadi, lima fungsi tersebut dapat sebagai patokan untuk pengembang dapat terus berinovasi. Akan lebih hebat jika developer dapat memperluas fungsi IoT.

Perusahaan Internet of Things di Indonesia

Beberapa perusahaan yang sudah mulai mengembangkan IoT di Indonesia

SoftwareSeni Indonesia

Yang pertama adalah SoftwareSeni Indonesia. Selain menciptakan produk digital (website, software, dan mobile apps), SoftwareSeni juga melakukan pengembangan IoT. Melalui team SSLab yang dipimpin oleh Heryno Cheung, pengembangan IoT yang dilakukan SoftwareSeni memang belum pada tahapan untuk dapat diproduksi secara masal dan dipakai oleh masyarakat. Namun, tentunya ini menandakan kesiapan dari perusahaan SoftwareSeni untuk menghadapi masa depan.

Pada tahap awal, team SSLab berhasil menciptakan dua perangkat IoT.

1. Package Notifier

Perangkat ini memiliki fungsi tagging atau identifikasi. Tujuannya, untuk mempermudah team SoftwareSeni untuk mengetahui paket apa yang datang, untuk siapa dan dari mana. Terlihat sepele memang, tapi SoftwareSeni percaya bahwa sesuatu yang besar itu bisa dari hal kecil.

Sistem kerjanya adalah ketika ada paket masuk ke kantor SoftwareSeni, maka akan ada perangkat untuk mengambil foto paket tersebut. Kemudian, foto informasi paket akan secara otomatis terkirim ke dalam sistem intra-chat milik SoftwareSeni.

2. Waton Ayam

Pernahkah kalian kehabisan air galon? Lupa membeli air isi ulang? Atau mungkin penasaran berapa banyak kebutuhan air minum galon untuk keluarga kalian?

Water Gallon Alert System (Waton Ayam) adalah perangkat kedua yang berhasil diciptakan oleh SSLab. Fungsinya sebagai identifier air galon. Jika air galon menyentuh titik batas pengisian galon, maka akan ada notifikasi yang dikirimkan ke hp orang yang bertanggung jawab mengisi galon. Lebih hebat dari itu, perangkat ini juga akan bisa mengukur berapa banyak galon yang SoftwareSeni butuhkan dalam waktu satu bulan. Hari apa yang paling efisien untuk mengisi ulang galon, dan masih banyak fungsi lainnya.

Itu baru tahap pertama pengembangan IoT di perusahaan SoftwareSeni. Team SSLab sedang dan akan mengembangkan IoT secara berkesinambungan.

Qlue

Kedua adalah perusahaan Qlue. Perusahaan startup yang terkenal dengan proyek Smart City nya itu juga mengembangkan IoT. Beberapa pengembangan IoT yang Qlue lakukan adalah:

  1. Pengembangan Traffic Lamp yang terhubung dengan Command Center.
  2. Kotak sampah pintar
  3. Air Pollution detector

Tentunya, pengembangan produk IoT tersebut untuk menunjang proyek Smart City kota-kota besar.

eFishery

Ketiga adalah perusahaan eFishery. Produk IoT yang mereka kembangkan adalah perangkat pemberi makan ikan secara otomatis dan real time. Alat ini akan secara otomatis bekerja sesuai dengan jadwal pemberian makan ikan yang sudah di setting sebelumnya. Dapat pula jika dibutuhkan, memberikan makan sesuai dengan kehendak pemilik. Hal ini tentu saja untuk memastikan gizi ikan terpenuhi dan sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Nodeflux

Yang keempat adalah Nodeflux. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan Big data dan machine learning. Nodeflux berfokus pada pengembangan IoT di ranah industri.

Hara

Terakhir adalah Hara. Perusahaan ini mengincar industri pertanian dan pangan dengan teknologi IoT nya. Sistem kerjanya, Hara dapat memprediksi berapa hasil panen yang dapat dihasilkan, serta jenis pupuk yang paling efektif untuk petani. Input data melalui smartphone dan diolah via web-analytics.

Tentu masih banyak perusahaan yang mengembangkan IoT. Tetapi, apakah Indonesia kini sudah siap untuk menyambut IoT?

Internet-of-things

Internet of Things di Indonesia

Secara masal, Indonesia memang belum siap untuk mengadaptasi IoT, namun, ada beberapa kota yang sudah siap secara infrastruktur untuk mengadopsi IoT. Meskipun demikian, ada 2  syarat yang perlu dinilai apakah kota tersebut merupakan pasar yang cocok untuk pengembangan IoT.

1. Transformasi digital

Untuk dapat mengembangkan dan mengimplementasikan IoT, keterbiasaan menggunakan perangkat digital untuk menyelesaikan suatu task sangat diperlukan. Itu karena sebagian besar interaksi antara perangkat IoT dengan User terjadi dalam bentuk digital. Selain itu, keahlian dalam membaca data digital untuk menunjang proses pembuatan keputusan juga sangat krusial. Apa jadinya jika user diberikan data digital dan user tersebut tidak bisa membaca informasi yang diberikan dengan tepat. Tentu output yang dihasilkan juga tidak akan maksimal. Dan justru ada kecenderungan untuk menghambat proses lainnya. Misalnya, user diberikan data mengenai kebiasaan masyarakat kota dalam berlalu lintas. Lalu, user diberikan tanggung jawab untuk membuat laporan yang informatif sebagai kebutuhan pengelolaan tata ruang. Namun, karena user tidak dapat mengolah data menjadi sesuatu yang informatif, bukannya mempercepat proses pengambilan keputusan, justru harus mengulang proses analisis yang seharusnya selesai di tangan user. Maka dari itu, literasi digital sangat diperlukan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan IoT di Indonesia.

2. Smart City

Selain literasi digital, program Smart City di Indonesia juga dapat sebagai acuan apakah kota tersebut adalah pasar yang cocok untuk mengembangkan dan mengimplementasikan IoT. Itu karena IoT masuk dalam kebutuhan Smart City. Selain itu, dengan adanya program Smart City, pengembangan IoT secara berkesinambungan bisa terwujud untuk memajukan program Smart City tersebut. Meskipun demikian, program Smart City tidak bisa menjadi patokan utuh bahwa setiap kota yang memiliki program Smart City menjadi otomatis cocok dalam pengembangan dan implementasi IoT.

Pada tahapan apa program Smart City suatu kota dapat dijadikan acuan pengembangan dan implementasi IoT? Ada 9 tahapan menuju Smart City. Dan setelah menyelesaikan tahapan transformasi digital, maka kota tersebut siap menyambut pengembangan IoT dan implementasi IoT. Alasannya, tentu saja kembali lagi pada literasi digital.

Perlu diketahui bahwa tidak semua kota sudah melakukan transformasi digital. Dan pula, tidak semua kota yang memiliki program Smart City sudah mencapai tahapan transformasi digital. Kota yang memiliki dua kriteria di atas dapat menjadi pasar yang baik untuk mengembangkan dan mengimplementasikan proyek IoT.

Selain fokus pada kota-kota yang sudah melek digital. Bidang industri juga memiliki pasar yang besar untuk pengembangan dan implementasi IoT. Syarat yang sama juga berlaku pada perusahaan-perusahaan pasar IoT. Mereka HARUS melek digital.

Memang, untuk skala Nasional, Indonesia masih jauh dikatakan siap untuk implementasi proyek IoT ini. Namun, dengan mulai pada beberapa area yang sudah “matang” bukanlah langkah yang buruk, hal tersebut akan mempercepat pengembangan dan implementasi IoT sehingga, proyek IoT tidak berhenti.

Internet-of-things-di-Indonesia

Manfaat Internet of Things di Indonesia

Sebenarnya, apa saja manfaat dari pengembangan dan implementasi Internet of things di Indonesia?

  1. Meningkatkan efisiensi penggunaan Sumber Daya
  2. Mengurangi beban kerja
  3. Mengurangi cost dan meningkatkan produktivitas
  4. Real-time marketing
  5. Pengambilan keputusan berdasarkan data
  6. Meningkatkan pengalaman pengguna
  7. Meningkatkan kualitas data

Yuk bahas satu per satu!

1. Meningkatkan efisiensi penggunaan Sumber Daya

Dengan mengembangkan dan mengimplementasikan Internet of things di Indonesia, efisiensi penggunaan sumber daya akan menjadi optimal. Itu karena fungsi dari perangkat IoT yang dapat mengidentifikasi, memonitor, melacak dan mengontrol sesuatu. Dari fungsi tersebut, waste atau hasil buangan dari suatu sumber daya dapat ditekan. Dengan penekanan residu tersebut, penggunaan sumber daya akan menjadi lebih optimal.

Misalnya, sebelum menggunakan perangkat IoT pada bidang peternakan, peternak secara manual memberi makan hewan ternaknya. Namun masalahnya, ada kemungkinan jumlah pakan yang diberikan akan berubah-ubah setiap harinya karena pengukuran dosis kurang presisi. Dengan mengimplementasikan IoT, peternak dapat menjadwalkan kapan hewan ternak diberi makan dengan dosis yang lebih konsisten. Selain itu, perangkat IoT juga dapat mengukur dan memprediksi jumlah pakan yang dibutuhkan dengan menganalisis informasi dan data dari kebiasaan hewan ternak.

Dengan demikian, selain peternak dapat mengurangi beban kerja, juga dapat mengatur pengeluaran untuk pakan ternak dengan lebih optimal. Selain waktu, biaya pun dapat dihemat. Menarik bukan?

2. Mengurangi “beban” kerja

Dengan meningkatnya efisiensi penggunaan sumber daya, beban untuk mengerjakan suatu task juga akan berkurang. “Beban” disini lebih ditekankan pada lama lamanya waktu pekerjaan. Misalnya ketika peternak 3 kali sehari harus membelikan makan hewan ternak secara manual, setelah menggunakan perangkat IoT, iya hanya perlu menyiapkan makan hewan untuk 3 kali porsi dalam satu waktu. Sisanya, perangkat IoT yang akan bekerja. Dengan demikian, peternak dapat menggunakan waktu sisa untuk melakukan hal produktif lainnya.

3. Mengurangi cost dan meningkatkan produktivitas

Teknologi IoT akan memangkas cost secara radikal. Cost ini bukan hanya masalah biaya. Tetapi juga masalah waktu. Jika waktu untuk menyelesaikan suatu task dapat dikurangi, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk aktivitas produksi lainnya. Misalnya, dalam industri peternakan. Sebelum menggunakan teknologi IoT, peternak hanya mampu menangani 1000 ekor ayam. Itu karena keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki. Keterbatasan sumber daya manusia yang dimaksud misalnya tenaga yang dibutuhkan untuk memberi pakan hewan ternak.

Namun, setelah mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi IoT dalam sistem kerja perternakan, kini peternak dapat menangani 1500 ekor ayam. Itu karena teknologi IoT dapat membantu peternak untuk mengukur dosis pakan dan jadwal yang tepat untuk ternak. Dengan jumlah tenaga yang sama dan waktu yang sama, peternak dapat meningkatkan produksi hingga 50%.

Memangnya semudah itu? Tentu tidak! Tetapi ada 3 hal mendasar kenapa teknologi IoT yang dapat mendorong peningkatan produktivitas.

  • Perekaman data secara digital terjadi sepanjang hari 24/7
  • Penggunaan sensor dapat meningkatkan efisiensi sumber daya
  • Perangkat pintar IoT meningkatkan pengalaman pengguna dalam mengolah data

Jadi, dari tiga hal di atas, secara tidak langsung membantu peternak untuk dapat meningkatkan produktivitasnya. Dengan adanya perekaman data digital sepanjang hari, membuat akurasi data tentang prediksi berapa banyak telur yang akan diproduksi dan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih baik. Dengan demikian, pemangkasan biaya sebesar 50% bukanlah hal yang mustahil, bukan?

4. Real-time marketing

Dengan adanya sistem perekaman data yang mencatat aktivitas selama 24/7, hasil real-time day to day dari aktivitas marketing yang dilakukan dapat diukur dengan baik. Yang nantinya, jika ada suatu kesalahan atau ketidaksesuaian hasil marketing dengan tujuan, dapat direvisi secara real-time. Selain itu, jika sumber daya marketing tersebar di beberapa wilayah, teknologi IoT sangat memungkinkan untuk berbagi data secara real-time untuk membaca wilayah mana yang memiliki agresivitas pasar yang baik, dan mana yang kurang menarik untuk dilanjutkan. Tentunya, hal ini akan berimbas pada peningkatan efisiensi biaya marketing yang dikeluarkan.

5. Pengambilan keputusan berdasarkan data

Teknologi IoT memungkinkan untuk menganalisis secara komputasi dengan machine learning. Hasil dari analisis akan menyusun data yang terekam menjadi informatif dan mudah untuk dimengerti. Misalnya, ketika suatu kota ingin melakukan survey secara massive untuk mengetahui kebiasaan, kebutuhan dan ekspektasi dari warga kota, pemerintah menggunakan Aplikasi berbasis web untuk menyebar dan menganalisis data. Aplikasi berbasis web melibatkan fungsi geo tagging untuk mengidentifikasi perangkat di dalam suatu wilayah. Dengan demikian, Secara otomatis hasil survey akan tersaring berdasarkan wilayah. Dan hebatnya, data akan secara otomatis menganalisis data menjadi informasi yang mudah dipahami.

Selain itu, kualitas data dan hasil yang diolah oleh aplikasi berbasis web dengan teknologi IoT akan lebih akurat. Dengan itu, pengambilan keputusan pemerintah kota untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan lebih presisi. Tentunya, manfaat dari pengambilan keputusan ini tidak hanya sebatas untuk pemerintah saja. Pelaku industri juga dapat menggunakan data dari teknologi IoT yang bahkan bisa memiliki pengaruh yang jauh lebih besar lagi. Misalnya, memutuskan apakah akan memperluas pasar, mencari pasar potensial, atau bahkan mengukur untung rugi dari aktivitas eksport dan import.

Maka dari itu, teknologi IoT akan membantu manusia untuk menentukan pilihan atau membuat keputusan secara baik dengan data penunjang yang akurat.

6. Meningkatkan pengalaman pengguna

Apakah kalian familiar dengan istilah User Experience atau UX? Ya, teknologi IoT merupakan hasil dari pengembangan User Experience untuk meningkatkan efisiensi penggunaan suatu produk digital. Dengan sistem integrasi pada setiap perangkat yang memiliki teknologi IoT, menjanjikan kemudahan untuk berbagi informasi secara seamless. Misalnya, jika kalian memiliki perangkat smartwatch, dan smartphone, kalian bisa berbagi informasi mengenai aktivitas kalian setiap harinya yang direkam oleh smartwatch pada smartphone. Begitu juga sebaliknya, smartphone kalian juga bisa berbagi informasi dengan smartwatch mengenai telepon masuk, pesan masuk dan informasi lagu yang sedang diputar. Itu hanya contoh kecil yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari. Untuk skala industri, teknologi IoT membantu manusia untuk memudahkan membaca data atau analisis. Tidak perlu lagi report menghafal rumus excel untuk mengolah data, karena secara komputasi teknologi IoT dapat mengolah data sesuai dengan kebutuhan.

7. Meningkatkan kualitas data

Kemampuan untuk merekam data 24/7, menjadikan data yang dihasilkan menjadi sangat padat dengan sampel yang lebih luas. Selain itu, dengan sistem komputasi yang ditawarkan teknologi IoT, proses pengolahan data akan lebih efisien dengan standar error yang lebih kecil. Dengan demikian, tingkat akurasi dalam mengolah data akan meningkat dan secara otomatis, kualitas data pun akan meningkat.

IoT-di-Indonesia

Hal yang perlu disiapkan untuk menyambut Internet of Things di Indonesia

Setelah mengetahui banyak manfaat dari teknologi IoT, baik pada sektor industri, pemerintahan, bahkan perseorangan, ada 3 hal yang perlu disiapkan untuk dapat mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi IoT di Indonesia.

Regulasi

Indonesia harus menyiapkan regulasi yang dapat mempermudah proses pengembangan dan implementasi teknologi IoT. Tanpa regulasi, developer tidak memiliki acuan yang kuat secara hukum untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi IoT yang aman bagi masyarakat. Kata “aman” disini maksudnya reliable, dan durable. Ketika pemerintah memiliki aturan yang jelas mengenai standarisasi teknologi IoT, maka pengembang akan dengan mudah menyesuaikan perangkat IoT untuk mengikuti aturan yang ditetapkan.

Namun, masalah akan muncul jika kejelasan regulasi akan teknologi IoT masih abu-abu. Misalnya saja, pada proses pengembangan teknologi IoT. Jika pemerintah tak kunjung membuat standar mengenai teknologi IoT baik pada sisi frekuensi, tingkat komponen dalam negeri dan kualitas, developer akan terombang-ambing. Developer akan bertanya-tanya apakah perangkat IoT yang mereka buat bisa memenuhi regulasi jika sewaktu-waktu pemerintah mengeluarkan standar teknologi IoT. Hal ini pula yang menghambat pertumbuhan teknologi IoT di Indonesia.

Infrastruktur

Baik skala industri, pemerintah, atau individu, untuk memanfaatkan teknologi IoT, infrastruktur menjadi hal yang krusial. Bagaimana kalian bisa merasakan kecanggihan teknologi IoT tanpa adanya jaringan internet yang stabil, dan mudah diperoleh?

Tentu pada teknologi IoT, internet merupakan jantung pada sistem. Agar bisa memastikan sistem bekerja dengan baik, internet dengan kecepatan stabil sangat dibutuhkan. Jika internet tidak bisa dijangkau atau bahkan tidak stabil, maka teknologi IoT akan mati. Seperti smartphone kalian tanpa paket data dan wifi, tentu fasilitas pintar dalam ponsel tidak akan bisa bekerja secara maksimal, bukan?

Sumber Daya Manusia

Agar teknologi IoT dapat bekerja dengan baik, interaksi antara perangkat IoT dengan manusia atau user harus berjalan dengan baik. Fungsi dari IoT tidak akan bekerja dengan maksimal jika user tidak bisa mengoperasikannya dengan baik. Tidak, bukan perihal membuat rumus seperti yang kalian lakukan di excel, tapi lebih kepada pemanfaatan fungsi seperti mengatur jadwal, on/off perangkat, dan membaca informasi digital yang dihasilkan teknologi IoT.

Manusia / user yang memiliki peran untuk mengambil keputusan harus dapat membaca informasi yang telah diolah oleh perangkat IoT. Jika user tidak dapat membaca informasi tersebut dengan baik, bisa jadi keputusan yang dibuat akan bertolak belakang dengan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, menyiapkan sumber daya manusia untuk melek digital sudah menjadi keharusan. Karena lagi-lagi, dunia digital sudah di depan mata. Jika tidak bisa beradaptasi dengan teknologi, maka jangan harap pengembangan dan implementasi IoT akan berjalan dengan baik.

IoT-di-Indonesia

Kesimpulan

Teknologi Internet of things di Indonesia sudah harus berjalan. Itu karena revolusi industri 4.0 sudah ada di depan mata. Tanpa adanya bantuan teknologi, Indonesia tidak bisa mengejar produktivitas negara-negara yang sudah menggunakan teknologi IoT. Alasannya tentu saja karena salah satu manfaat IoT itu dapat meningkatkan produktivitas. Regulasi yang berkaitan dengan teknologi IoT yang masih abu-abu diindikasikan menjadi salah satu penyebab penghambat pengembangan dan implementasi teknologi IoT di Indonesia. Maka dari itu, ada tiga hal yang perlu disiapkan untuk memastikan pengembagan dan implementasi IoT di Indonesia berjalan dengan baik. Yang pertama adalah regulasi. Kedua adalah infrastruktur. Dan yang terakhir Sumber Daya Manusia. Pemanfaatan teknologi IoT dapat dirasakan mulai dari perseorangan hingga skala industri multinasional. Oleh sebab itu, menjamin berlangsungnya pengembangan dan implementasi teknologi IoT di Indonesia, seperti yang sudah dan sedang SoftwareSeni lakukan akan berdampak baik bagi masa depan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *