5 Ide Bisnis Digital Yang Akan Mengubah Hidupmu

5 Ide Bisnis Digital Yang Akan Mengubah Hidupmu

by
Rian Romadhon
August 26, 2020

Selama ini, mungkin kamu banyak membaca tentang ide-ide bisnis digital yang menguntungkan, hingga cara cepat kaya dengan bisnis online. Ujung-ujung nya, duit lagi, duit lagi. Padahal, banyak hal besar lain yang bisa kamu dapatkan dengan masuk ke bisnis digital. Limitless a.k.a tidak ada batasan. Justru, dengan kamu berorientasi hanya pada uang dan keuntungan, potensi lain yang jauh lebih besar akan sirna begitu saja. Tentu tidak ada yang salah dengan mengedepankan keuntungan atau profit sebagai objektif jelas dalam menjalankan bisnis digital. Namun, jangan jadikan hal tersebut sebagai patokan utama untung rugi secara finansial agar bisnis digital bisa tetap berjalan. Ada banyak faktor lain yang secara jangka panjang justru akan menjadi hal yang mengubah caramu berpikir, bahkan yang paling jauh adalah mengubah hidupmu. Ke arah positif tentu saja. Hehehehe.

bisnis digital

Nah, jika kamu hanya mencari bisnis digital yang menguntungkan atau bahkan cara cepat kaya dengan bisnis online, mohon maaf nih sebelumnya, kayaknya kamu bakal dapet hal lebih banyak daripada itu di sini. Hahahaha.Siap-siap ya! Pada artikel ini kamu bakal dapat beberapa hal nih.

1. Aspek eksternal bisnis digital yang bisa mengubah cara berpikir

2. Faktor-faktor potensial untuk mengembangkan bisnis digital

3. 3 Ide bisnis digital yang akan mengubah hidupmu

Serem-serem gak tuh hahahahaha. Mulai dari yang pertama yuk!

Aspek Eksternal Bisnis Digital Yang Bisa Mengubah Cara Berpikir

Hal mendasar dari terciptanya ide bisnis digital itu kebanyakan justru datang dari hal sekitar. Tentang bagaimana kamu merespon akan perubahaan, rasa ingin memulihkan, rasa ingin mengubah, rasa ingin menjadi kaya dengan cepat (?) Hahahaha. Banyak aspek yang mendorong terciptanya bisnis digital. Namun, ada beberapa aspek sederhana yang sangat berdampak pada bisnis digital. Apa saja?

1. Lingkungan

Perlu diakui, 2020 merupakan tamparan keras bagi banyak orang. Kerusakan lingkungan sudah terlalu jelas di depan mata. Sayangnya, masih sedikit perusahaan yang mau mencoba untuk menerapkan “eco-friendly” dalam business conduct perusahaan. Rata-rata masalah ya sama. Biaya.Padahal, menurut Green Business Bureau, penerapan bisnis yang ramah lingkungan a.k.a eco-friendly itu memiliki financial benefit bagi perusahaan loh.Ada dua jenis financial benefit yang bisa kamu dapatkan dengan menerapkan ini:

a. Direct

Ada keuntungan finansial yang secara langsung bisa kamu dapatkan. Pajak. Yes, dalam hal ini tergantung pada lokasi bisnis kamu beroperasi ya. Tetapi, harusnya sih, dengan bisnis digital, kamu bisa go global dengan mudah. Nah, jika bisnis yang kamu jalankan itu menerapkan metode ramah lingkungan, banyak negara yang akan membantu perusahaan dengan memberikan subsidi melalui pengurangan pajak. Untuk di Indonesia sendiri, memang belum cukup sounding ya akan gerakan ini. Tetapi, kamu bisa banget kok mempelajari perihal “Green Tax”, siapa tahu berguna. Hehehe.

b. Indirect

Memang, kalau secara langsung manfaat yang terlihat tidak terlalu signifikan. Tetapi, tahukah kamu secara tidak langsung program ramah lingkungan akan mempengaruhi harga produk yang diperjual belikan? Di Indonesia sendiri, jika kamu membandingkan harga antara AC non-CFC, dengan AC CFC, maka akan ada selisih 10% dikarenakan pajak hijau a.k.a Green Tax.Selain itu, perusahaan juga akan memiliki citra baik yang akan menambah kepercayaan masyarakat dalam menggunakan produk perusahaan. Kenapa? Masalah lingkungan sedang gencar digemakan. Sehingga, terjadi peningkatan terhadap kepedulian lingkungan di masyarakat. Contoh yang paling sering kamu lihat yaitu pengurangan penggunaan sedotan. Ya kan?Dengan demikian, secara tidak langsung, perusahaan dapat menarik konsumen baru yang memiliki visi lingkungan yang sama. Tiap perusahaan memiliki fokus yang berbeda, dan tiap fokus lingkungan ada marketnya. Ada yang berfokus pada ocean, hutan, perkotaan, dan lain-lain.

2. Sosial

Bisnis digital itu lebih mengarah masyarakat global secara umum. Cobalah menjadi inklusif. Bukan berarti tidak segmented ya. Menjadi inklusif artinya tidak diskriminatif. Menjadi perusahaan yang paham akan masalah sosial itu penting. Kenapa? Apakah kamu pernah mendengar istilah “cancel culture”? Mungkin lebih sering dikenal dengan boikot. Well, kebanyakan, hal tersebut terjadi karena kurang pekanya perusahaan dalam menanggapi situasi sosial.

sosial bisnis digital

Jalan pintasnya? Netral. Yap, jadilah perusahaan yang bisa memeluk semua golongan, ras, agama, gender, atau apapun lah itu. Menjadi inklusif itu tidak sulit. Ego yang kadang mempersulit. Banyak bisnis digital yang akhirnya tumbang karena mendapat stigma negatif akan ketidakpekaan perusahaan terhadap keadaan sosial di masyarakat.Contoh paling mudah yaitu lihatlah bagaimana perusahaan Apple dengan bisnis digital mereka. Mulai dari website produk, hingga iklan digital semuanya inklusif. Orang kulit putih, hitam, perempuan, laki-laki. Ada. Harusnya, bisnis digital di Indonesia akan jauh lebih menarik. Kenapa? Kompleksitas diversity di Indonesia itu jauh lebih luas dari negara lainya. Bahasa, budaya, pakaian, sifat, warna kulit, agama, semuanya bisa disatukan.Bisnis digital itu bukan perkara siapa yang paling jago coding, desain, data analisis. Lebih jauh dari itu, bisnis digital itu perkara siapa yang bisa menyampaikan pesan sebanyak mungkin kepada user melalui media digital. Semakin banyak orang yang kamu rangkul, semakin banyak pesan yang bisa kamu sampaikan. Bukankah menjadi pendorong perubahan sosial era digital merupakan tujuan dari kebanyakan perusahaan?

3. Budaya

Cultural Appropriation. Ada yang tahu ini apa? Istilah cultural appropriation muncul karena adanya penggunaan atribut atau ciri khas budaya minoritas oleh kaum mayoritas, dan minoritas sedang berjuang untuk mendapat pengakuan kesetaraan, dan dengan mudahnya mayoritas menggunakan ciri khas minoritas sebagai komoditas yang dikomersialisasikan. Pusing gak tuh? Hahahaha. Intinya sih, kalau kamu pengen merepresentasikan suatu budaya di dalam campaign atau iklan atau marketing bisnis digital kamu, sebisa mungkin carilah orang atau sosok yang memang menjadi bagian dari budaya tersebut. Kamu ingin membawa budaya Papua? Carilah orang Papua, jangan hanya atributnya saja yang dipakai. Kamu ingin mengangkat budaya Jawa, carilah orang Jawa. Sesimple itu. Namun, jarang perusahaan yang mau memperhatikan hal kecil begini. Pada akhirnya, perusahaan akan di “called out” dan dianggap menormalkan aktivitas cultural appropriation. Coba cek di bawah ini beberapa perusahaan yang diduga telah melakukan cultural appropriation kedalam campaign mereka:

  1. https://www.theweek.co.uk/cultural-appropriation
  2. https://www.cosmopolitan.co.za/style/cultural-appropriation-fashion/
  3. https://www.thoughtco.com/cultural-appropriation-in-music-2834650

Kalo mau tahu lebih banyak kamu bisa baca link di atas. Hehehe.Nah, ketika bisnis digital yang sudah kamu jalankan ingin terhindar dari yang namanya praktek “cultural appropriation”, coba deh untuk kolaborasi dengan orang-orang paham betul masalah ini. Biasanya ada komunitas khusus. Dengan gencarnya kata “diversity” yang makin kerap di gaungkan, harusnya ini akan menjadi salah satu winning poin perusahaan kalian. Sebagai employer branding kalau bisa dibilang. Kenapa? Semua orang ingin diperlakukan sama. Kurang lebih seperti itu.

Faktor Potensial Untuk Mengembangkan Bisnis Digital

1. Intellectual Property Ownership

Ada yang tahu apa arti dari Intellectual Property Ownership? Yang masih bingung, yuk tengok artikel Softwareseni tentang Intellectual Property Ownership. Dalam bisnis digital, produk digital merupakan aset perusahaan yang hak ciptanya harus dilindungi. Namun, banyak perusahaan yang luput akan hal ini. Mereka lebih mengutamakan biaya produksi “murah” tanpa mempertimbangkan implikasi setelahnya. Padahal, unrealistic expectation and budget itu salah satu faktor penyebab kegagalan proyek IT.

intellectual property ownership bisnis digital

Misalnya, bisnis digital yang kamu miliki bergerak dibidang e-commerce, kamu perlu pastikan, perusahaanmu memiliki akses dan dapat memberikan akses terhadap data dalam sistem. Dengan kamu menanyakan kejelasan Intellectual Property Ownership kepada Software House tempat kamu membuat e-commerce, kamu bisa memiliki kekuatan hukum. Sayangnya banyak yang luput. Sehingga, banyak Software House “nakal” yang diam-diam “menambang” data konsumen dalam sistem e-commerce milikmu. Hayo, jangan sampai kejadian ya! Hehehehe.Itu baru satu jenis bisnis digital ya. Kalau kita tarik lagi ke dunia entertainment, sadar tidak jika sekarang platform berlangganan untuk menikmati konten (baik lagu, musik, hingga buku) original semakin marak. Yap, kesadaran masyarakat akan produk bajakan sudah makin tinggi. Dengan mekanisme subscription yang ditawarkan, konsumen tidak lagi dibebankan dengan beli lepas satu produk saja. Konsumen bisa mengakses konten tersebut secara online. Orang awam mengenalnya dengan sistem rental. Netflix merupakan perusahaan yang cukup berhasil mempopulerkan metode subscription ini. Selain membantu para kreator untuk mengurangi pembajakan karya, kamu juga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hak cipta terhadap suatu karya. Intellectual Property merupakan musuh utama perkembangan bisnis digital di Indonesia. Coba tengok laptop kamu sekarang. Ada berapa software bajakan yang ada di dalamnya? Satu, dua, ada banyak? Atau tidak ada sama sekali?Jika kamu mau masuk ke dalam bisnis digital, yuk coba sedikit demi sedikit kurangi software bajakan di dalam laptop kamu. Karena, cepat atau lambat, kamu akan merasakan hal yang sama. Karya digital (web app, mobile app, atau produk digital lain) mu di “jiplak” oleh orang lain. Cara terbaik untuk menghindari hal tersebut adalah dengan memiliki kejelasan akan Intellectual Property Ownership.

2. Keamanan Data

Tidak ada data yang aman. Sistem pasti memiliki celah. Namun, bukan berarti kamu tidak bisa melakukan pencegahan, bukan? Nyatanya, menciptakan perasaan aman kepada konsumen merupakan komponen penting dalam kemajuan suatu platform. Tetapi, lagi-lagi, kamu perlu mengingat bahwa tidak ada sistem yang sempurna. Ini tentang bagaimana kamu mencegah, dan memperbaiki jika terjadi celah. Gimana? Kompleks ya bisnis digital itu? Hehehehe. Tidak kok. Kamu tidak perlu bekerja sendiri. Bekerja sama dengan perusahaan IT outsourcing bisa meringankan beban IT istilah nya tech debt. Jadi, kamu hanya perlu fokus pada pengembangan bisnis digital saja. Apa saja sih resiko jika kamu lalai terhadap keamanan data konsumen?

a. Potensi kerugian material

Ketika memutuskan untuk dengan mudahnya memberikan akses akan data & informasi kepada banyak pihak, kamu meningkatkan potensi kerugian material bagi orang-orang yang terlibat di dalam data & informasi tersebut. Contoh yang paling sering terjadi adalah kasus mama minta pulsa. Data & informasi yang diperlukan juga tidak terlalu banyak. Yap, cukup nomor HP saja sudah cukup. Bayangkan saja jika data & informasi yang diambil lebih dari itu. Mulai dari alamat tempat tinggal, hingga sejarah transaksi. Orang yang tidak bertanggung jawab bisa saja berbuat lebih dari sekadar “mama minta pulsa” yang berujung pada kerugian material bagi pihak yang menjadi bagian data / informasi tersebut.Jika ditarik lebih jauh, bisnis digital mu secara tidak langsung juga akan merasakan kerugian material yang tidak sedikit. Misalnya saja, ketika data / informasi user produk digital mu tersebar di internet, maka kredibilitas bisnis digital milikmu akan diragukan. Jika sudah seperti itu, kamu perlu mengeluarkan uang lebih untuk mengontrol damage yang terjadi. Baik dari segi sistem hingga PR. Dan itu jumlahnya tidak main-main. Selain itu, data yang tidak eksklusif akan kehilangan nilai ekonomi nya. Mau baca lebih tentang nilai ekonomi dari data dan informasi, ya? Hehehe.

b. Risiko penyalahgunaan data / informasi

Consent. Yap, bisnis digital kamu boleh mengelola data user & konsumen asalkan user & konsumen menyetujuinya. Dengan banyaknya kasus penyalahgunaan data / informasi di Internet, European Union telah membuat GDPR untuk melindungi data user & konsumen di Internet. Website SoftwareSeni sudah menerapkan itu dengan memberikan opsi “menyetujui / tidak” untuk SoftwareSeni membaca aktivitas user / konsumen di dalam website SoftwareSeni. Jika menganut GDPR, mengamati aktivitas user secara diam-diam itu bisa didenda loh. Ih serem. Hahahaha. Selain itu, sebagai perusahaan yang bergerak di bisnis digital, kamu perlu sadar akan hal ini. Sekalipun, ya benar jika tidak ada sistem yang sempurna, tetapi kamu perlu memastikan keamanan data konsumen berada di tangan yang tepat. Sekalipun akan terjadi kebocoran data, perusahaan kamu tahu mekanisme untuk memperbaiki celah. Namun, banyak perusahaan yang kewalahan untuk mengatur sumber daya manusia yang dimiliki. Sehingga, mereka memilih vendor untuk membantu mencegah masalah ini. Dengan bekerja sama dengan Software House professional, banyak perusahaan bisnis digital yang bisa kembali fokus ke core business perusahaan.

c. Peluang tindakan kriminal

Tahun 2019, ada kejadian dimana seorang content creator yang cukup dikenal mengaku telah mengalami tidak kriminal di dunia digital. Apa itu? Saldo rekening yang bersangkutan “dikuras”. Yap, pencurian uang secara digital. Buat kamu pemilik bisnis digital dengan platform web app atau mobile app, alangkah baiknya memberikan fasilitas two-factor authentication. Sehingga, “kriminal” yang ingin melakukan sabotase harus kerja ekstra.Bukan tanpa alasan, aset digital itu mudah untuk di duplikasi. Buktinya, kamu bisa melihat banyaknya software bajakan di pasaran, bukan? Hehehehe. Oh iya, kalau kamu ingin membaca lengkap perihal keamanan data. Silahkan baca artikel SoftwareSeni terkait pentingnya keamanan data / data security pada produk digital. Jangan letih menambah ilmu, ya!

3. Otomatisasi

Ini yang banyak disalah pahami oleh banyak bisnis digital. Otomatisasi di sini adalah sistem di dalamnya. Jangan pernah melakukan otomatisasi konten. Kamu mungkin sering melihat itu terjadi di bagian customer service banyak perusahaan bisnis digital di Indonesia. Coba saja bandingkan cara Telkomsel dengan KFC. Kamu akan melihat jika konten yang ditawarkan di akun Telkomsel di twitter, terutama jika berhubungan dengan konsumen itu sangat kaku. Beda dengan KFC yang sangat manusiawi.

otomatisasi bisnis digital

Ingatlah, konten itu punya rasa, yang sampai saat ini belum bisa digantikan oleh mesin. Sistem adalah bagian dari platform yang lebih membutuhkan otomatisasi daripada konten digital. Kira-kira sejauh apa ya manfaat teknologi otomatisasi pada bisnis digital?

a. Meningkatkan produktivitas

Teknologi otomatisasi dapat mempercepat laju workflow dan business process. Sehingga, kamu bisa mengurangi pekerjaan repetitif. Apalagi dalam bisnis digital inovasi itu sangat dikedepankan. Namun, tentu saja teknologi otomatisasi tidak akan berjalan dengan baik jika sumber daya manusianya siap. Karena, pada akhirnya yang akan memakai teknologi otomatisasi tersebut adalah user / konsumen. Dan yang akan mengoperasikan teknologi otomatisasi tersebut adalah perusahaan kamu.Bagaimana jadinya jika perusahaan kamu tidak mampu mengoperasikan teknologi otomatisasi dengan optimal? Atau bahkan bagaimana jika user / konsumen justru kebingungan dalam menggunakan produk digital dengan teknologi otomatisasi yang terlalu mutakhir? Oleh karena itu, dalam implementasi teknologi otomatisasi dalam bisnis digital itu tidak bisa secara cepat dan tiba-tiba. Kamu perlu mengetahui kondisi perusahaan. Apakah sumber daya nya sudah siap atau belum. Juga dengan market perusahaan. Apakah sudah siap atau belum.

b. Mengurangi beban waktu dan biaya

Dengan meningkatnya produktivitas, secara tidak langsung teknologi otomatisasi juga akan mengurangi beban waktu dan biaya. Bagaimana mekanismenya? Jika bisnis digital mu adalah e-commerce, ada sistem payment gateway yang akan mempermudah proses transaksi jual beli. Nah, sebelum adanya payment gateway ini, e-commerce perlu secara manual, melakukan checking satu persatu terhadap pembayaran yang masuk dan mengkonfirmasi satu persatu juga. Bayangkan berapa lama proses konfirmasi pembayaran. Bagaimana jika yang melakukan transaksi lebih dari 1 orang dalam satu waktu? Apa tidak keteteran.Ditengah maraknya jualan online, payment gateway menawarkan teknologi otomatisasi unik untuk mempermudah kamu dalam bertransaksi online. Tentu para mimin olshop e-commerce akan sangat terbantu akan hal ini. Hehehehe. Nah, dengan melakukan otomatisasi pembayaran, sistem bisa memproses beberapa transaksi dalam satu waktu. Beban waktu berkurang. Kurang lebih contoh simple nya begitu. Hehehe.

c. Meningkatkan kepuasan pelanggan

Masih seputar e-commerce nih. Jika kamu menjadi seorang konsumen, apakah kamu selalu menunggu update barang yang sudah kamu beli? Sudah sampai mana ya? Bayangkan jika update status order harus dilakukan secara manual. Butuh berapa lama antrian? Kesal, jika kamu menunggu terlalu lama. Nah, dengan teknologi otomatisasi, sangat memungkinkan sekali untuk melakukan update secara otomatis terkait barang yang kamu beli hanya dengan melakukan scanning QR code pada kode barang. Sehingga, mimin tidak perlu melakukan update barang secara manual. Konsumen happy, perusahaan logistik juga makin happy tidak sih? Hehehehe.Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam perihal teknologi otomatisasi, SoftwareSeni sudah menyiapkan artikelnya. Coba baca: teknologi otomatisasi di Indonesia.

3 Ide Bisnis Digital Yang Akan Mengubah Hidupmu

1. Edutainment

Industri e-learning dan streaming sedang naik daun di 2020. Pandemi COVID-19 memaksa kegiatan belajar mengajar beralih ke online. Begitu juga dengan bioskop yang harus ditutup karena pandemi tersebut. Akhirnya, masyarakat memilih untuk menghibur diri dengan menonton konten streaming online. Ada yang gratis, ada juga yang berbayar.

bisnis digital edutainment

Menariknya, tidak sedikit masyarakat yang memilih untuk subscribe beberapa platform streaming. Nah, pernahkah kamu berpikir untuk menggabungkan keduanya? Uh, biaya produksinya mahal. Uh, susah, tidak ada tenaga ahli IT. Dan lain sebagainnya. Hehehehe.Padahal, kalau kamu lihat, selain memberikan hiburan, kamu juga bisa memberikan pendidikan dengan cara yang lebih menarik. Ada beberapa hal yang perlu kamu pahami jika memang ingin masuk ke bisnis digital ini.

a. Intellectual Property

Originalitas konten itu sangat dijunjung tinggi. Jika kamu tidak mampu membangun konten secara in house, ada banyak production house indie yang bisa kamu ajak bekerja sama. Selain memajukan pendidikan di Indonesia, kamu juga bisa berkontribusi untuk menyediakan wadah bagi konten kreator untuk berkreativitas tanpa harus takut akan ketidak jelasan hak cipta akan karya mereka. Support local content creators!Namun sayang, di Indonesia sepertinya Intellectual Property masih awam sekali. Jangan sedih, mungkin platform edutainment kamu lah yang akan membawa perubahan. Oh iya, kalau kamu ingin membaca lengkap perihal Intellectual Property, SoftwareSeni sudah menyiapkan artikel menarik untuk kamu simak: Intellectual Property Ownership pada Produk Digital.

b. Mekanisme monetisasi

Well, ini bisnis banget. Intinya adalah bagaimana bisa tetap menjaga cashflow bisnis digital kamu tetap baik. Kalau bisa positif. Banyak mekanisme yang bisa kamu terapkan dalam metode ini. Melakukan monetisasi Intellectual Property contohnya. Gimana-gimana? Kamu baru tahu nih jika Intellectual Property itu bisa banget untuk dikomersialisasikan? Hihihihi jangan sedih. Mungkin kamu akan lebih familiar dengan istilah paten daripada Intellectual Property? Selain itu, mekanisme subscribe juga sedang naik daun nih. Kenapa? Pengusaha paham betul, jika tidak semua orang membutuhkan “nilai” dari sesuatu secara menyeluruh. Atau “beli lepas” istilahnya. Misalnya, kamu ingin menonton film Harry Potter. Daripada kamu harus membeli lepas CD seharga 100 ribu rupiah per film, lebih baik kamu menyewa 20 ribu per film. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, kamu tidak memerlukan CD fisik. Kedua, kamu akan jenuh menonton film Harry Potter yang sama berulang kali.

c. Teknologi Platform

Jika sudah siap membangun platform bisnis digital kamu, ada beberapa teknologi yang perlu dipahami untuk tahu bagaimana dampak positif & negatif nya terhadap bisnis digital kamu. Jangan sedih, kamu tidak harus mencarinya sendirian kok. SoftwareSeni punya beberapa link artikel yang beefy banget buat dibaca:

- Web App: Membuat Web App Pakai WordPress Masih Reliabel?

- Mobile App: Membuat Mobile App Menggunakan React Native

- Produk Digital: Tips Sukses Dalam Membuat Produk Digital

2. Konsultasi psikologi online

Mental health itu menjadi isu yang cukup besar akhir-akhir ini. Pasalnya, jarang sekali, terutama di Indonesia, orang yang tahu jika kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan badan. Oleh karena itu, penting banget buat kamu untuk mempertimbangkan platform ini. Selain untuk mengedukasi masyarakat tentang mental health, kamu juga sekaligus mempromosikan dan menormalkan “it’s okay not to be okay”. Gangguan mental itu tidak selalu identik dengan gila. Faktor apa saja yang bisa mendukung bisnis digital ini?

a. Komunitas

Komunitas yang cukup kuat terhadap isu kesehatan mental ini penting. Selain memperkuat pondasi bisnis digital, kamu juga perlu komunitas untuk membantu pengembangan platform. Komunitas ini tidak melulu perihal psikolog kok. Bisa juga komunitas biasa yang memang punya concern tentang mental health.Sekuat itu kah? Yes, komunitas memang punya “magic” dalam bisnis digital di Indonesia. Mau contoh concrete? Lihatlah bagaimana perusahaan Gojek membangun komunitas ojek online yang cukup solid. Tanpa mitra ojek, Gojek tidak akan sebesar sekarang. Memang, mitra ojek bukan satu-satunya penentu, namun mereka punya “bargaining power” yang cukup kuat dalam bisnis Gojek.

b. Paradigma

Nah, ini yang mungkin menjadi tantangan terbesar bagimu. Mengubah stigma atau pandangan masyarakat perihal kesehatan mental ini cukup rumit. Konstruksi sosial yang secara langsung menarik kesimpulan bahwa “gangguan mental = gila”. Status quo ini yang harus kamu tantang. Memang tidak mudah, dan butuh pendekatan unik untuk menarik perhatian masyarakat umum. Kesan “aib, hingga penyakit kotor” harus jauh-jauh dibuang dari paradigma akan kesehatan mental.

3. Indie Brand marketplace

Kebanyakan dari online marketplace yang berada di pasar sekarang sangat generik. Semua produk dari brand besar maupun kecil dicampur menjadi satu. Akibatnya, butuh effort lebih bagi pemain indie untuk lebih dikenal konsumen. Memang, secara bisnis digital marketplace yang generik itu banyak sekali pasarnya. Namun, bukan berarti indie brand marketplace itu tidak ada marketnya kan? Justru, dengan semakin maraknya gerakan #localpride , sudah saatnya indie brand di Indonesia mendapatkan tempat special untuk mereka jualan. Yang tentunya sesuai dengan konsep dan “nilai” yang ditawarkan oleh indie brand tersebut.Mulai dari fashion quirky, hingga music yang sangat segmented, seharusnya justru marketplace ini bisa memberikan kesan “seni” banget. Bukan cuma barang saja melalui flash sale, tetapi lebih dari itu. Sayangnya, masih sedikit orang yang aware akan hal ini. Dan, ini pula yang menjadikan Indie Brand marketplace sebagai peluang bisnis digital yang baik.

a. Sistem lelang

Pemilik brand sangat sadar jika diskon bukanlah program penjualan yang baik. Karena selalu ada kesan “menurunkan” harga untuk sebuah nilai barang. Bagaimana jika, cara itu dibalik, bukan dengan menurunkan harga, tetapi menaikkan harga. Untuk indie brand, terkadang, jumlah ketersediaan barang menjadi masalah utama. Yang jika diamati harusnya menjadi keuntungan brand untuk mengontrol harga, dan kualitas barang. Nah, dari sini, kamu bisa menantang status quo dengan menciptakan online marketplace untuk brand-brand indie di Indonesia dengan sistem lelang. Selain memberikan support untuk perkembangan local brand, kamu juga bisa membantu pasar untuk mengubah pandangan masyarakat akan produk lokal. Gimana tertarik?

b. Branding

Design web app hingga mobile app harus mendukung spotlight atau value dari masing-masing Indie brand. Mulai dari warna, hingga pemilihan kata a.k.a wording, harus dipikirkan benar-benar. Pasalnya, keseluruhan identitas online marketplace akan mempengaruhi apakah justify enough kalau suatu online marketplace bisa dikatakan sebagai “indie brand marketplace”. Kenapa? Jika tidak cukup distinctive, bukankah akan lebih baik jika para indie brand memilih online marketplace yang sudah cukup besar? Nah, oleh karena itu, kamu perlu banget “stand out from the crowd”.

Kesimpulan

Mau tidak mau, banyak perusahaan yang dipaksa masuk ke dalam bisnis digital. Bukan hanya karena pandemi COVID-19 semata ya. Lebih kepada pergeseran perilaku masyarakat. Namun sayang, alih-alih memastikan bisnis digital berjalan lancar, banyak perusahaan yang justru terkesan asal-asalan dalam mengeksekusi bisnis digital. Akhirnya, hasil yang dicapai tidak optimal. Padahal, jika kamu tekuni dengan seksama, bisnis digital akan mengubah caramu berpikir. Dan, yang paling mengejutkan adalah bisnis digital mampu mengubah hidupmu. Dalam menjalankan bisnis digital, ada tiga faktor external yang akan secara langsung, maupun tidak langsung mempengaruhi jalannya bisnis digital. Yang pertama adalah lingkungan. Mungkin kamu akhir-akhir ini mulai merasakan perubahan strategi bisnis banyak perusahaan dalam berlomba-lomba menunjukkan ke “eco-friendly” an perusahaan. Yang kedua adalah sosial. Yap, dunia digital sesungguhnya hanyalah sarana. Pada akhirnya, pemenuhan kebutuhan manusia merupakan tujuan akhir dari bisnis ini. Oleh sebab itu, penting banget bagi kamu untuk bersikap inklusif terhadap demografi konsumen. Dan yang terakhir adalah budaya. Apakah kamu pernah mendengar istilah “cultural appropriation”? Yap, bisnis digital kerap kali dihadapkan pada istilah ini. Niatnya ingin menjadi “inklusif” namun, yang terjadi adalah cultural appropriation.Selain itu, ada 3 faktor potensial yang bisa kamu pertimbangkan untuk mengembangkan bisnis digital. Pertama adalah Intellectual Property Ownership. Hak cipta dari platform yang kamu gunakan atau asset digital yang kamu pakai itu penting banget. Ada manfaat secara komersial yang bisa diperoleh jika kamu memang serius untuk menindaklanjuti kepemilikan hak cipta dari platform & aset digital dari bisnis digital milikmu. Selain itu, ada keamanan data. Yap, siapa yang tidak khawatir jika informasi perihal akun bank kamu disalahgunakan. Hingga yang terparah adalah bisa memicu tindakan kriminal yang melanggar hukum. Jadi, pastikan ya keamanan data konsumen yang berada di platform digital milikmu aman. Memang, tidak ada sistem yang sempurna, tetapi kamu bisa melakukan pencegahan serta recovery (jika memang terjadi kebocoran data). Dan yang terakhir adalah otomatisasi. Sepertinya yang ini tidak harus dijelaskan lebih jauh ya? Hehehehe.Nah, dari semua aspek dan faktor yang sudah dijelaskan di atas, ada tiga ide bisnis digital yang bisa kamu ambil. Pertama adalah edutainment. Kedua adalah konsultasi psikologi online. Dan yang terakhir adalah indie brand online marketplace. Yang pasti, apapun platform digital yang akan kamu ciptakan, jangan sampai salah pilih Software House sebagai partner dalam membangun bisnis digital, ya!

Punya Project atau Ingin Bekerja Sama?

Hubungi kami dan ciptakan software impianmu sekarang!
Office Address Image

SYDNEY

Level 28, 161 Castlereagh St, Sydney 2000
+61 2 8123 0997

YOGYAKARTA

Jl Magelang No 65, Tegalrejo, Yogyakarta, Indonesia 55242
+62 882-1673-4392