SENTOR: SoftwareSeni Toilet Monitor (Implementasi IoT)

SENTOR: SoftwareSeni Toilet Monitor (Implementasi IoT)

by
Rian Romadhon
October 19, 2020

Sebagai perusahaan Software House professional, SoftwareSeni dipaksa & dituntut untuk selalu melakukan innovasi terhadap implementasi teknologi, salah satunya yaitu implementasi IoT (Internet of things). Tujuannya tentu saja untuk melakukan optimasi terhadap teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Tetapi, tahukah kamu terkadang innovasi hebat itu tidak melulu tentang seberapa canggih / mutakhir teknologi bisa merubah dunia? Justru, kebanyakan innovasi hebat datang dari hal yang sederhana.

Dari toilet misalnya. Serius. Jangan ketawa. Jangan cengar cengir juga.

Apakah kamu pernah menghitung berapa banyak waktu orang yang terbuang hanya untuk mengantri toilet? Atau bahkan pernahkah kamu menghitung berapa banyak waktu yang kamu habiskan ditoilet?

Jangan kaget ya, kalau kamu tahu dengan melihat data statistik yang sudah dibuat oleh tim SoftwareSeni.

Hahahaha, jangan kaget begitu dong. SSLab SoftwareSeni, memang diciptakan oleh perusahaan sebagai pembawa “perubahan”. Oleh karena itu, idea yang kadang tidak terpikir justru bisa membawa perubahan besar, setidaknya di kantor SoftwareSeni. Dan kamu perlu mengingat, terkadang justru idea brilian datang bukan dari buku filosofi, atau bahkan jurnal ilmiah yang sudah teruji dan terukur. Tetapi, bisa jadi idea brilian datang dari tempat yang sering kamu kunjungi.

Kebetulan, Tim SSLab SoftwareSeni ditantang oleh management untuk membuat alat “sederhana” sebagai salah satu partisipasi dalam implementasi IoT di Indonesia. Tim SSlab pertama yang beruntung untuk mempresentasikan “mainan” baru kantor adalah Tim SENTOR.

SENTOR? Apapula itu?

Ya, SENTOR adalah kependekan dari SoftwareSeni Toilet Sensor. Dari namanya sendiri sudah bisa ditebak ya, darimana inspirasi mereka berasal. Hihihihi.

Piss Pot? Bukan, jangan sedih.

Ada latar belakang yang luar biasa berbobot loh, ya!

Latar Belakang SENTOR (Implementasi IoT)

Coba baca ini dan renungkan dengan hati terdalam kamu. Resapi, Bayangkan, kamu pasti menangis. Bisa jadi dua hal sih kalau kamu menangis. Merasa terharu akan penemuan dari Tim SoftwareSeni. Atau menangis karena tulisan ini sungguh hiperbola.

Okay lanjut. Jadi, ini latar belakang kenapa SENTOR itu perlu. Tentu latar belakang masalah hadir karena ada oknum-oknum yang gemar mencari masalah. Baiklah, ini adalah oknum-oknum tersebut.

Software Engineer
(Dari kanan ke kiri: Anjas, Alun, Obet, Rudi, Bayu)

Sudah tahu kan, seperti apa wajah-wajah pencari masalah SoftwareSeni.

Jadi begini ceritanya, suatu hari dipagi yang cerah, ada pemandangan yang kurang menarik mata. Sekumpulan makhluk hidup bernafas mengantri di toilet. Menunggu atau mengantri adalah dua hal yang paling membosakan. Tahukan seperti apa bosannya jika kata menunggu dan mengantri dijadikan satu?

Nah, dikala bosan mengantri & menunggu toilet, para manusia pencari masalah tadi berpikir, berapa banyak kerugian yang perusahaan (SoftwareSeni) alami karena hal sepele seperti antrian toilet?

Dan di bawah ini adalah hasil corat-coret Tim SSLab SoftwareSeni.

Berdasarkan penelitian panjang dengan lebih dari 10 tahun pengalaman mengamati perilaku manusia (hahahahaha), ternyata karyawan (105 manusia) SoftwareSeni telah menghabiskan waktu kurang lebih 4 menit perhari untuk mengantri & menunggu toilet. Yuk hitung, berapa kerugian yang dialami oleh SoftwareSeni. 105 x 4 menit = 420 menit (7 jam / hari)7 jam / hari x 30 AUD = 210 AUD / hari atau 4200 AUD / bulan. Kamu tahu apa yang lebih mengaggetkan?

Motor Sport

Ya, itu setara harga motor di atas. Setahun? 1 Mobil operasional baru. Hehehehe lumayan ya. Coba bayangkan jika kasus mengantri & menunggu toilet terjadi pada perusahaan yang memiliki 1000 manusia atau bahkan lebih. Berapa banyak kerugian imaterial yang dialami perusahaan.

Perlu diakui, para pencari masalah itu terkadang benar.

Implementasi IoT SENTOR Sebagai Solusi

Tidak fair dong, jika para pencari masalah tadi hanya bisa mencari-cari masalah. Solusi juga harus diberikan dong. Kata Socrates, jadilah orang kritis yang solutif (entah ya, Socrates pernah bicara seperti itu atau tidak, penulis cuma ingin kelihatan pintar, sedikit).

Nah, karena sedang heboh Internet of Things di Indonesia, tim SSLab SoftwareSeni tertantang untuk membuat alat yang bisa digunakan sebagai bagian dari implementasi IoT di kantor SoftwareSeni.

Tercetuslah nama SENTOR sebagai kependakan dari SoftwareSeni Toilet Monitor. Sebenarnya, bagaimana cara kerja SENTOR dan bagaimana bisa membantu mengentaskan masalah yang dihadapi oleh SoftwareSeni perihal menunggu & mengantri toilet tadi? Satu persatu jawabnya ya. Hehehehe

Cara kerja SENTOR

SENTOR merupakan suatu sistem yang dapat mendeteksi kosong tidak nya toilet. Sehingga, staf SoftwareSeni tidak perlu mengantri & menunggu toilet kosong. Dan waktu dapat dihemat untuk aktivitas yang lebih produktif.

Bagaimana cara mendeteksi kosong / tidaknya toilet? Sistem SENTOR memanfaatkan sensor ultrasonik untuk mendeteksi terbuka / tertutupnya pintu. Dengan pantulan ultrasonik dari sensor tersebut, sistem secara otomatis akan mengetahui jarak antara daun pintu dan tembok. Itulah yang akan menjadi indikasi status toilet. Informasi status toilet, akan dikirim via wifi yang sudah terinstal pada perangkat SENTOR ke sistem webapp yang sudah diciptakan oleh tim SSLab SoftwareSeni.

Lalu, dengan menggunakan teknologi HTML, informasi status toilet bisa ditampilkan pada laman website. Sehingga, semua orang yang memiliki alamat URL dapat melihat toilet mana yang kosong. Terlihat sederhana, bukan? Tetapi percayalah, semuanya tidak sesederhana yang terlihat. Serius.

Memang, pada tahapan awal, SENTOR masih memiliki banyak kekurangan. Namun, seiring dengan pengembangan kedepannya, SENTOR memiliki masa depan yang cerah. Tertarik untuk mencoba? Jangan sedih. SoftwareSeni tidak pelit informasi, loh! Justru SoftwareSeni senang jika kamu tertarik untuk mencoba membuat SENTOR sendiri. Meskipun kecil, tetapi peranmu cukup besar loh terhadap kesuksesan implementasi IoT di Indonesia. Mulai dari teknologi yang digunakan ya!

Berikut adalah teknologi yang dipakai dalam SENTOR:

- An Ultrasonic Sensor

Yap, dalam implementasinya, SENTOR memanfaatkan sensor ultrasonik untuk mendapatkan informasi perihal status pintu toilet yang tertutup / terbuka. Tim SSLab SoftwareSeni menggunakan sensor ultrasonik dengan seri HC-SR04 (mungkin ada yang mau beli). Hehehehe.

Kenapa sensor ultrasonik? Sensor ultrasonik merupakan instrumen yang dapat mengukur jarak sebuah objek menggunakan gelombang ultrasonik. Itu sudah cukup bagi tim SSLab untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Karena objek dari SENTOR adalah terbuka / tertutupnya pintu toilet, sehingga informasi mengenai jarak antara daun pintu & tembok adalah yang dibutuhkan.

Selain itu, ultrasonik sangat reliabel di segala kondisi cahaya, dan bisa digunakan pada kondisi lingkungan / ruangan yang tertutup maupun terbuka. Sensor ini sangat baik jika digunakan untuk melakukan pendeteksian non-contact (proximity) dari keberadaan, level, posisi, dan jarak. Tidak berhenti sampai disitu. Sensor ultrasonik tidak bergantung pada cahaya, asap, debu dan warna.

- Arduino Wemos D1 (Board)

Pastinya sensor ultrasonik tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada board yang membantu distribusi informasi antara sensor ultrasonik dan sistem web app. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tim SSLab SoftwareSeni memutuskan untuk menggunakan board milik Arduino dengan jenis Wemos D1. Begini wujudnya.

adruino untuk implementasi IoT

Apakah hanya Arduino dan tidak ada board yang lain? Jawabannya adalah ada. Kenapa lebih memilih arduino wemos D1? Itu karena dari segi spesifikasi dan fitur, board ini adalah yang paling bisa optimalisasikan fiturnya. Sebenarnya ada banyak board dipasaran. Tetapi, spesifikasi yang dimiliki antara “overkill” atau “underspec” sehingga tidak akan optimal penggunaannya.

Ditambah lagi, SENTOR yang diciptakan oleh SSLab adalah masih merupakan fase prototype, harga yang yang dipatok untuk board tersebut tidak lah mahal. Singkatnya, optimal guna dan dana. Hahahahaha.

Sebenarnya spesifikasi arduino wemos D1 ini seperti apa? Ini dia spesifikasinya:

  • Beroperasi pada tegangan operasional 3,3 V
  • Memiliki 11 pin digital IO termasuk didalamnya spesial pin untuk fungsi i2c, one-wire, PWM, SPI, interrupt
  • Memiliki 1 pin analog input atau ADC
  • Berbasis micro USB untuk fungsi pemrogramannya
  • Memory flash : 4Mbyte
  • Dimensi module : 34,2 mm x 25,6 mm
  • Clock speed : 80MHz
  • Menggunakan IC CH340G untuk komunikasinya

Nah, kalau digabungkan antara sesor ultrasonik dan board, maka penampakannya akan seperti ini:

implementasi IoT dengan SENTOR

Tenang, karena port di board Arduino wemos D1 bersifat plug and play, kamu tidak perlu untuk melakukan las-las kabel terhadap port. Tidak berhenti sampai disitu. Agar alat dapat berkerja dengan baik, tim SSLab SoftwareSeni harus melakukan injeksi dan instalasi program via USB yang tersedia. Gunanya yaitu agar alat memiliki komando / perintah, sehingga dapat bekerja sesuai dengan keinginan developer. Tenang, SoftwarSeni tidak pelit kok. Nanti ada part dimana kamu bisa melakukan copy paste program yang sudah dibuat oleh tim SSLab untuk dikembangkan. Seru kan! Baca sampai habis, ya!

- A Sophisticated Real-time Web Technology a.k.a HTML

Pada awal pembahasan SENTOR, sudah sempat sedikit menyinggung tentang sistem web app. Ya, untuk melakukan prosessing & showing data yang didistribusikan oleh alat sensor ultrasonik, developer perlu membuat interface agar data yang ditampilkan mudah untuk dimengerti oleh staf SoftwareSeni. Seperti ini tampilannya:

user interface SENTOR (Implementasi IoT)

Kamu bisa mengakses laman tersebut melalui web browser yang sering kamu pakai, baik melalui desktop ataupun mobile. Kamu bisa melihat ada tiga pintu pada gambar tersebut. Banyaknya pintu adalah indikator jumlah toilet yang berada di kantor SoftwareSeni.

Perlu diakui bahwa interface yang saat ini digunakan masih memiliki banyak kelemahan. Salah satunya adalah interface seperti ini lebih cocok digunakan untuk kantor yang memiliki kurang dari 10 toilet. Jika lebih dari itu, interface seperti ini kurang user friendly. Tetapi, dalam menciptakan interface yang memiliki fungsi “near to realtime” itu tidak lah mudah.

Oleh sebab itu, SoftwareSeni ingin berkolaborasi dengan kamu; orang-orang kreatif diluar sana untuk terus mengembangkan SENTOR. Di bawah ini adalah html yang bisa kamu gunakan untuk mengoprek SENTOR ini.

<begin>

<div>

<gak ngerti>

<bodo amat>

<div>

<end>

Hehehe maaf bercanda. Ini linknya: https://github.com/ssanjas/sentor

Biaya Membuat SENTOR

Mungkin setelah kamu mengetahui teknologi apa saja yang dipakai untuk membangun SENTOR, kamu mulai bertanya-tanya berapa ya kira-kira biaya yang dibutuhkan. Jangan sedih, we keep it 100 & transparan. Untuk membuat 4 alat SENTOR, dibawah ini merupakan rincian biaya yang dibutuhkan:

Biaya implementasi IoT

Jangan kaget begitu dong. Hehehehe. Ya, SoftwareSeni hanya membutuhkan biaya untuk membeli hardware sebesar IDR 657,000.00 untuk 4 alat SENTOR atau sekitar IDR 164,250.00 per alat SENTOR. Menurut kamu, harga segitu cukup terjangkau atau mahal? Tulis di kolom komentar ya!

Potensi SENTOR dalam Implementasi IoT

Meskipun bisa dibilang idea teknologi SENTOR datang dari toilet, tetapi jangan sedih, potensi terhadap teknologi SENTOR itu cukup besar loh. Tidak percaya? Yuk kupas tuntas satu per satu.

- Utilitas

Dalam proses implementasi IoT, segi utilitas terhadap alat yang diciptakan harus jelas. Maksudnya apa? Misalnya saja kamu membeli lampu pintar. Fungsi lampu itu apa? Sebagai sumber penerangan kala gelap. Dengan disematkannya teknologi pintar, lampu akan bisa memiliki fitur lebih dari sekadar sumber cahaya. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, utilitas lampu sebagai sumber cahaya tidak boleh hilang.  

Begitu juga dengan SENTOR. Ketika tim SSLab SoftwareSeni membuat SENTOR, mereka memiliki tujuan yang nantinya alat tersebut akan berfungsi sebagai pendeteksi availability ruangan, khususnya toilet di kantor. Apakah SENTOR sudah memenuhi utilitas? Sejauh ini, ya.

Seturut perkembangannya, SENTOR ternyata memiliki beragam fitur pendukung. Misalnya, menghitung rata-rata waktu yang dihabiskan di toilet untuk tiap karyawan, hingga membantu petugas keamanan dalam melakukan pengecekan terhadap ruangan yang masih terbuka / belum terkunci. Kamu mungkin berpikir, “Apa? Pergi ke toilet saja dihitung? Seperti dimata-matai”.

Eits, sebelum kamu berpikir sampai disana. Ada perihal yang jauh lebih penting loh. Misalnya saja, ada orang yang terkunci di dalam toilet. Jika alat SENTOR dapat menghitung rata-rata waktu yang dihabiskan di dalam toilet, jika ada satu pola janggal terhadap lamanya waktu yang dihabiskan di toilet, maka penanganan akan jadi jauh lebih cepat. Tentu bukan hanya di toilet. Bayangkan jika suatu gedung memiliki lebih dari 100 pintu keluar masuk. Betapa repotnya pihak keamanan memantau pintu mana yang masih terbuka / tertutup.

Dengan SENTOR, tentu akan jauh lebih mudah. Ya kan?

- Bisnis

Kamu harus tahu, pasar IoT itu sedah bergerak kearah positif. Maraknya implementasi IoT di perumahan, perkantoran, hingga jalanan, turut menjadi stimulan bagi para manusia beridea brilian. Bayangkan saja, pada tahun 2022, pasar IoT di Indonesia menyentuh angka  444 Triliun rupiah dan akan menjadi 4 kali lipatnya pada 2025. Wow, pertumbuhan pasar hingga 400% dalam waktu 4 tahun. Bukan angka yang sedikit bukan?

Oleh sebab itu, SoftwareSeni juga tidak mau ketinggalan bermain dalam implementasi IoT di Indonesia. Jika dilihat dari segi Bisnis, SENTOR itu memiliki pasar yang cukup besar. Alasannya? Yang pertama adalah keamanan dan privacy. Tentu kamu tidak diperkenankan memasang CCTV di toilet bukan? Jadi, kamu tidak bisa mendeteksi apakah ada orang atau tidak didalam toilet tersebut. Jangan sedih, dengan SENTOR, kamu bisa memiliki alat pendeteksi ruangan tanpa mengganggu kenyamanan & privacy orang lain.

Tidak berhenti sampai disitu. Sebenarnya, selain untuk mendeteksi toilet, SENTOR juga bisa dipakai mendeteksi tertutup / tidaknya pintu. Coba saja hitung berapa gedung perkantoran di Indonesia? Berapa banyak pintu dalam gedung tersebut. Baiklah, kita semua tahu jika pintu-pintu dalam ruang perkantoran sudah menggunakan sistem autolock. Tetapi, itu tidak pada semua pintu. Jadi, kamu bisa hitung sendiri potensial market di Indonesia untuk teknologi SENTOR. Bukan hanya toilet saja, tetapi juga ruangan lain yang membutuhkan sistem deteksi buka / tutup pintu.

Kesimpulan

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang IT, SoftwareSeni harus dan dipaksa untuk selalu berinovasi. Itu karena perkembangan IT yang semakin pesat. Dalam melakukan sebuah inovasi, tentu akan terdapat banyak sekali pembelajaran yang didapatkan. Satu hal yang pasti. Inovasi tidak melulu tentang teknologi canggih seperti kantong ajaib Doraemon. Inovasi bahkan bisa datang dari hal sederhana.

Tetapi, untuk dapat berinovasi tentu harus ada masalah terlebih dahulu. Hal itu untuk memastikan, inovasi yang dilakukan memiliki manfaat guna. Bukan cuma untuk keren-kerenan saja. Untungnya, SoftwareSeni memiliki tim pencari masalah. SSLab namanya. Kadang, masalah yang mereka cari cukup unik. Toilet misalnya.

Di kantor SoftwareSeni, tim SSLab melihat kejanggalan pada toilet kantor. Antrian makhluk hidup. Kenapa harus mengantri toilet? Setelah ditelaah lebih lanjut, Tim SSLab SoftwareSeni cukup tercengang. Wow, begitu besar kerugian yang dialami oleh SoftwareSeni karena antrian di toilet. Bayangkan saja, kamu bisa membeli motor sport tiap bulan. Jika masalah tersebut dapat diatasi, tentu dalam satu tahun SoftwareSeni bisa menghemat anggaran setara satu mobil operasional kantor.

Dari situlah, teknologi SENTOR berasal. Kalau dipikir-pikir, sedikit lucu memang. Tetapi, kembali lagi, inovasi hebat bisa dapat dari suatu hal yang sederhana. Hehehehe. Teknologi SENTOR dapat mendeteksi kosong / tidaknya toilet dengan indikator tertutup / terbukanya pintu toilet. Nah, ini bisa menjadi langkah awal menuju gerakan SoftwareSeni anti antri-antri club. Serius! It works! Hahahahaha.

Dalam SENTOR, tim SSLab Softwareni menyematkan sensor ultrasonik. Sensor ultrasonik memiliki kemampuan untuk mengukur jarak tanpa kontak atau non-contact sensor. Nah, dari pantulan gelombang ultrasonik yang dihasilkan oleh sensor, diproses sedemikian rupa oleh sehingga dapat menghasilkan command / perintah bahwa pintu tertutup / pintu terbuka. Kamu bisa mengetahui status toilet pada halaman website yang sudah diintegrasikan dengan sensor. Bagaimana cara sensor mengirimkan informasi pengukuran? Kebetulan, tim SSlab menggunakan board arduino wemos D1 yang memiliki teknologi Wifi / nirkabel. So, tidak akan ada kabel mbrundet. Oh iya, kalo kamu ingin mengembangkan teknologi ini, kamu bisa download source code nya disini, ya! Hehehehehe.

Tahukah kamu jika teknologi SENTOR itu punya banyak potensi? Misalnya saja dari segi utilitas, bukan hanya toilet, kamu juga bisa memasang teknologi SENTOR pada ruangan lainnya. Bayangkan betapa bermanfaatnya teknologi ini bagi petugas keamanan. Selain itu, dari segi cuan, pembuatan SENTOR tidak mahal kok. Bahkan relatif murah untuk teknologi sekeren itu. Dengan pertumbuhan pasar IoT yang semakin besar, implementasi IoT juga semakin gencar.

Yuk, bantu Indonesia untuk melakukan implementasi IoT dengan sukses. Kontribusi kecil juga bisa membuat perubahan loh!

Punya Project atau Ingin Bekerja Sama?

Hubungi kami dan ciptakan software impianmu sekarang!
Office Address Image

SYDNEY

Level 28, 161 Castlereagh St, Sydney 2000
+61 2 8123 0997

YOGYAKARTA

Jl Magelang No 65, Tegalrejo, Yogyakarta, Indonesia 55242
+62 882-1673-4392