Heboh gerakan industri 4.0 turut meningkatkan permintaan pasar akan teknologi otomatisasi di Indonesia. Sebenarnya, sudah sejauh apa penerapan teknologi otomatisasi di Indonesia? Kira-kira industri apa saja yang HARUS segera menerapkan teknologi otomatisasi pada sistem? Memang, tidak bisa dipungkiri jika transformasi digital bisnis tidak lagi cukup ampuh untuk membendung persaingan bisnis yang semakin menuntut modernitas. Apalagi jika berbicara tentang sistem.

Tidak ada sistem yang sempurna. Itu yang harus ada di kepala tiap individu. Artinya apa? Pasti ada celah. Nah, pengembangan teknologi terus berjalan guna memperkecil  “celah” tersebut. Hingga muncul teknologi otomatisasi di Indonesia pada sektor industri yang diprediksi mampu meningkatkan produktivitas karena dapat menjalankan pekerjaan repetitive dengan hasil & standard error yang terukur. 

WOW. Bau-bau pengangguran nih!

Untuk kamu yang takut jika lapangan pekerjaan manusia akan dijajah oleh teknologi otomatisasi, coba baca “Robot Artificial Intelligence Akan Menggantikan Peran Manusia, Benarkah?”. Mungkin yang kamu takutkan itu karena kamu terlalu malas untuk belajar hal baru, ya? Hehehehehe

Tenang, fokus artikel ini bukan kepada penjajahan robot di dunia kerja, ya. Tetapi, pada optimasi teknologi otomatisasi di Indonesia, khususnya pada sektor industri. Nah, sebelum membahas teknologi tersebut lebih jauh. Sudah tau contoh teknologi otomatisasi yang ada disekitar kamu, belum? 

Ya, sebenarnya kamu sudah merasakan manfaat dari teknologi otomatisasi di kehidupan sehari-hari. Misalnya saja mesin cuci. Ada teknologi mesin cuci yang dapat bekerja dengan 1 tombol. Secara otomatis, mesin cuci tersebut akan melakukan proses mencuci hingga pengeringan.  

Masalahnya, baju tidak memiliki akal pikiran. Benda mati. Akan mudah untuk menciptakan sistem yang dapat bekerja dengan baik. Tetapi, bagaimana jika yang diatur oleh sistem adalah manusia? Ya, jangan kaget begitu dong. Teknologi otomatisasi tidak hanya digunakan untuk benda mati saja. Tetapi, manusia juga. Yuk, simak contoh ini. 

Pada dasarnya, pengembangan teknologi diperuntukan bagi manusia. Begitu pula dengan pengembangan teknologi otomatisasi di Indonesia. Misalkan pada divisi customer services. Teknologi otomatisasi memungkinkan sistem mengatur flow inbound - outbound dari customer kepada operator. Sehingga, tidak ada lagi istilah “tunggu-tunggu” an. Itu karena, otomatisasi sistem memungkinkan untuk memasukkan satu nomor panggilan layanan pada banyak operator. Jadi, ketika lebih dari 1 konsumen yang menghubungi secara bersamaan, sistem dapat membagi panggilan kepada operator yang tersedia. 

Yap, cukup sekilas infonya. Yuk, bahas lebih serius lagi!

Apa itu teknologi otomatisasi?

Seperti biasa, sebelum masuk lebih dalam bedah dulu pengertian teknologi otomatisasi. Pemaparan tentang definisi teknologi otomatisasi oleh Technopedia cukup jelas merangkum kompleksitas otomatisasi. Otomatisasi adalah pembuatan dan implementasi teknologi untuk mengontrol dan memonitor produksi dan delivery produk baik barang maupun jasa.

Dari penjelasan Technopedia, teknologi merupakan kunci dari otomatisasi. Ya, untuk dapat menjalankan sistem otomatis, teknologi perlu masuk kedalam sistem. Bukan lagi sebagai sistem pendukung, tetapi justru harus menyatu dengan sistem. Maksudnya? Jadi begini, sebelum teknologi otomatisasi di Indonesia ramai diperbincangkan, teknologi belum dapat melebur dengan baik terhadap sistem (baik sistem produksi, sistem pemerintahan, dan sistem yang lainnya). Jadi, jika terjadi masalah dalam pada teknologi, maka sistem tidak akan terganggu. Nah, setelah permintaan akan teknologi otomatisasi meningkat, terutama setelah gagasan industri 4.0 digaungkan, mau tidak mau teknologi harus masuk kedalam sistem. Akibatnya, ada kemungkinan sistem akan terganggu jika terjadi masalah pada teknologi.

Eits, tenang. Berkat kemajuan teknologi yang begitu pesat. Nampaknya, ketakutan akan teknologi yang bermasalah akan mengganggu sistem sudah tidak begitu terlihat. Kenapa? Ya, fitur cloud, fitur IT disaster recovery management, dan lainnya, sudah cukup ampuh untuk meng-backup jika suatu hal buruk terjadi pada sistem. Sehingga, sistem bisa terus bekerja dengan baik.

Sistem Informasi dan Teknologi Otomatisasi

Dari tadi bicara tentang sistem. Pusing nih. Jadi, objek dari otomatisasi itu sistem? Sistem yang seperti apa? Kan sistem itu punya makna yang terlalu luas.

Betul. Objek dari otomatisasi adalah sistem. Tetapi, tujuan akhir dari teknologi otomatisasi tersebut adalah manusia. Utamanya, jika implementasi teknologi otomatisasi di Indonesia pada sektor industri, harapannya yaitu dapat meningkatkan produktivitas yang berujung pada peningkatan profit. Kesejahteraan perusahaan beserta karyawan akan meningkat. 

Nah, tentu untuk mencapai tujuan tersebut tidak mudah. Sistem adalah kumpulan dari berbagai elemen / komponen yang terorganisir guna mencapai suatu tujuan. Kata “terorganisir” ini lah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya suatu sistem. Terkadang, suatu sistem bisa gagal jika elemen / komponen didalamnya tidak bisa diorganisir. Entah karena ada elemen / komponen yang memang tidak seharusnya ikut dalam sistem, atau hanya mismanagement. 

Kata “terorganisir” ini lah yang akan menjadi metode tiap orang dalam penerapan sistem guna mencapai tujuan. 

Dari sini, yuk kerucutkan pada satu sistem di perusahaan (termasuk manufaktur).

Sistem informasi merupakan salah satu komponen penting dalam bisnis dan perusahaan. Kenapa? Itu karena sistem informasi dapat membantu perusahaan dalam membuat planning, formulasi strategi bisnis, hingga membantu membuat keputusan guna mencapai tujuan perusahaan. 

Dengan berkembangnya teknologi internet, integrasi pada setiap elemen pada sistem informasi akan semakin baik. Bisa dibilang, end-to-end. Tentu integrasi saja tidak cukup. Butuh otomatisasi sistem. Dimana sistem secara otomatis dapat merekam, membaca, menampilkan, hingga mendistribusikan informasi. Disinilah tantangannya. Di era yang serba cepat, perusahaan dipaksa untuk memotong value chain. Jika sistem informasi yang perusahaan pakai kurang efisien dan memakan banyak waktu, tentu target untuk memotong value chain akan gagal. 

Kok dari tadi bicara tentang value chain terus. Memang ada apa dengan value chain? 

Coba kamu baca artikel Trend & Manfaat E-Commerce Bagi Perkembangan Bisnis. Pada artikel itu, ada studi kasus dimana perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon hingga Netflix berhasil memangkas value chain mereka. Kunci semua itu tentu ada pada sistem informasi yang berhasil mereka kembangkan. Otomatisasi bisnis bilangnya. 

Contoh gampangnya. Ketika kamu memesan tiket di OTA (Online Travel Agent), dalam proses pembayaran, kamu akan diberikan nominal unik di total pembayaran. Misalnya kamu membeli tiket sebesar 50000, maka ketika kamu check out nominal yang tertera adalah 49.921. Nah, tiga angka terakhir adalah merupakan identifier. Sehingga, sistem akan secara otomatis melakukan verifikasi pembayaran tepat setelah kamu melakukan transfer. Bayangkan jika yang melakukan pembayaran sebesar 50000 ada seribu orang. Operator membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencari nama pengirim, mengecek nominal dan lain-lain. Merepotkan.

Itu contoh sederhana dari sistem informasi yang sudah menerapkan teknologi otomatisasi di Indonesia. Tentu, realitanya akan lebih kompleks dari itu. Tetapi, setidaknya contoh di atas cukup dapat menggambarkan dimana sistem secara otomatis dapat merekam, membaca, menampilkan, hingga mendistribusikan informasi.

Nah, kalo sistem yang ada di perusahaan kamu sudah apakah sudah terotomatisasi? Coba ceritakan di kolom komentar, ya!

Hambatan Teknologi Otomatisasi di Indonesia

Tetapi, sayangnya masih banyak perusahaan yang merasa enggan untuk segera meremajakan sistem informasi mereka. Semoga bukan perusahaan milikmu atau tempat kamu bekerja, ya. 

Perlu diakui ada beberapa hambatan yang menyebabkan perusahaan atau bahkan organisasi cenderung lambat atau bahkan enggan melakukan otomatisasi pada sistem informasi yang mereka gunakan. Simak beberapa poin berikut ini:

1. Culture Resistance (Budaya yang tidak mendukung)

Poin ini menjadi yang terpenting. Kenapa? Karena budaya kerja suatu perusahaan (Corporate culture) akan berdampak pada bisnis proses perusahaan tersebut. Menariknya, corporate culture ini sudah mendarah daging dan akan sulit untuk dirubah. Tetapi, kamu tidak usah khawatir, jika perusahaanmu atau tempat kamu bekerja memiliki budaya adaptasi yang cepat. Biasanya, culture resistance ini banyak terjadi pada perusahaan yang cenderung jarang melakukan inovasi.

Memangnya kenapa sih, ada beberapa perusahaan yang memiliki culture resistance terhadap teknologi otomatisasi di Indonesia?

Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi salah satu pemicu culture resistance dalam proses implementasi teknologi otomatisasi di Indonesia. Check this out!

a. Takut kehilangan identitas

Ketakutan akan hilangnya identitas suatu perusahaan karena hadirnya teknologi otomatisasi dalam sistem mereka. Misalnya, jika suatu perusahaan memiliki identitas dimana nilai-nilai tradisionalitas menjadi competitive advantage. Nah, jika perusahaan tersebut mengadopsi teknologi otomatisasi pada sistem informasi mereka, ada ketakutan akan kehilangan touch dari tradisional. Tentu jika itu terjadi akan bahaya bagi perusahaan. 

Padahal justru sebaliknya. Yuk, kita ambil contoh brand yang paling digemari kaum jet set di dunia. Hermès. Brand Hermès merupakan brand kalangan atas. Spesialisasi mereka adalah produk berbahan kulit dengan kualitas tinggi. Yang membedakan brand tersebut dengan yang lain adalah proses pembuatan produk 100% dilakukan by hands. Tetapi, yang membuat brand tersebut lebih menarik adalah cara konsumen melakukan pembelian produk di flagship store mereka di Paris.

Budaya “tidak semua orang bisa masuk seenaknya ke dalam toko” yang membuat banyak orang rela menunggu hingga mingguan, bulanan, hingga tahunan hanya untuk mendapatkan produk dari Hermès. Tetapi, brand Hermès menerapkan sistem informasi dengan teknologi otomatisasi, loh. Kok bisa? Mereka tahu bahwa kekuatan brand mereka ada pada produk (produk yang sangat terbatas). Mereka tetap mempertahankan sentuhan tangan pada setiap lini produk. 

Yang mereka ubah adalah cara konsumen mereka dalam mengantri. Kamu tidak bisa tiba-tiba datang mengantri di toko mereka. Ada beberapa tahapan yang harus kamu lewati. Registrasi via website, memohon antrian, lalu menunggu notifikasi konfirmasi bahwa kamu bisa datang ke toko mereka. Bukan hanya itu, bahkan Hermès memberi detail jam berapa kamu dapat datang ke toko, hingga nama sales associate yang akan melayanimu. Dan tentunya, pada sales associate juga akan tahu siapa yang akan mereka temui hari itu, dan berapa banyak. 

Tidak berhenti sampai situ. Semua data pengunjung toko Hermès akan terdokumentasi dengan baik. Dimana mereka dapat melakukan pemetaan demografi, hingga melakukan e-mail marketing guna meningkatkan rasa “desireable” pada produk mereka. 

Jadi, sesuatu yang tradisional itu seharusnya bukan untuk diganti atau dihilangkan. Tetapi, penyempurnaan adalah kata yang tepat. Tidak ada identitas yang hilang dalam implementasi teknologi otomatisasi dalam sistem. Jika, penggunaannya tepat.

b. Kuatnya budaya “we do it this way”

Apa yang menjadi kesulitan dari banyaknya perusahaan untuk berkembang? Kompetisi? Atau justru mereka sendiri yang menjadi hambatan dalam berkembang?

Terlalu nyaman di zona aman itu bahaya. Apa lagi sejak hadirnya internet. Teknologi yang memungkinkan banyak orang melakukan hal yang sulit untuk diprediksi. Siapa menyangka ada sistem ojek online? Dari dulu ojek sudah ada. Bahkan kehadiran Gojek juga tidak merubah cara ber-ojek. Yang Gojek lakukan adalah otomatisasi sistem pemesanan dan pembayaran. Layanan? Ya, ojek. Sampai-sampai perusahaan sebesar Blue Bird harus keteteran. Ya, meskipun pada akhirnya Blue Bird bisa segera beradaptasi. Coba bayangkan jika Blue Bird menolak untuk menggunakan teknologi otomatisasi pada sistem mereka. Tetap pada budaya “we do it this way” adalah ide yang buruk. Pengguna masih harus telepon minta di jemput, hingga pembayaran yang masih konvensional. Ribet, kata anak millennial.

Contoh tadi dapat diartikan bahwa kamu tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Mungkin hari ini perusahaan kamu masih menjadi market leader. Tetapi, bisa saja esok hari kamu bisa kalah dengan teknologi baru. 

2. Kekurangan tenaga ahli IT

Banyak perusahaan yang baru saja melakukan transformasi digital bisnis mereka. Bukan karena ingin. Tetapi, memang terpaksa. Harus go digital. Nah, di sini mulai terlihat masalahnya, ya? Ketidaksiapan perusahaan karena proses transformasi digital yang tiba-tiba. Padahal, akan banyak sekali hal yang perlu disesuaikan. Itu baru pada tahap transformasi digital bisnis mereka. Belum lagi jika mulai mendalami teknologi otomatisasi dalam sistem. 

Kurangnya tenaga ahli IT yang memiliki pengalaman dalam menghandle sistem serta jaringan berbasis web dalam perusahaan terkadang dianggap sebagai hambatan. Memang, peran ahli IT dalam perusahaan yang sedang dalam proses transformasi digital bisnis hingga menciptakan otomatisasi sistem adalah sangat penting. 

Dalam membangun atau mengembangkan sistem yang memiliki teknologi otomatisasi, memerlukan banyak orang. Bukan hanya 1 atau 2 orang saja. Tentu dari segi organisasi, divisi IT harus berdiri sendiri. Bayangkan yang harus dilakukan oleh HR perusahaan. Melakukan rekrutmen, dan seleksi. Ya kalau perusahaan sudah mengerti teknologi apa yang akan mereka gunakan. Kalau belum? Tentu akan mempersulit proses rekrutmen dan seleksi. Memakan waktu dan biaya. Butuh persiapan yang panjang, bukan?

Itu jika sepenuhnya akan dikerjakan oleh pihak internal. Atau yang biasa disebut insourcing. 

Nyatanya, justru banyak perusahaan dimana IT bukanlah inti dari bisnis mereka lebih memilih bekerja sama dengan pihak ketiga untuk memastikan kebutuhan IT, mulai dari pembuatan website, hingga sistem internal perusahaan. Wah, bahaya dong? Bagaimana jika keamanan data tidak terjamin?

Siapa bilang? Balik lagi ke kepada siapa kamu bekerja sama. Hihihihihihihi.

Satu hal yang harus kamu tahu. Membuat produk digital itu tidak mudah. Apalagi untuk membuat otomatisasi sistem. Butuh orang yang memiliki pemahaman kuat tentang software architecture. Jika salah dalam memilih partner dalam mengembangkan proyek IT. Bisa-bisa gagal mencapai tujuan dari proyek IT.

Nah, kira-kira kapan harus menggunakan ahli IT insourcing dan outsourcing? Simak ilustrasi berikut.

Perlu digaris bawahi bahwa tidak semua Software House memiliki integritas dalam membangun produk digital. Nyatanya, masih ada pihak-pihak yang mempermainkan konsumen dengan iming-iming harga murah. Akibatnya, semua data yang sudah di input ke dalam sistem tidak bisa konsumen kelola sendiri dan harus meminta pada provider yang “nakal” tersebut untuk mengelola konten. Duit lagi, duit lagi. Niatnya berhemat, tapi malah membuat kantong jebol. Yuk simak 4 cara memilih software house yang tepat.

3. Masalah Biaya

Memang, dalam proses transformasi digital hingga teknologi otomatisasi di Indonesia memerlukan biaya yang relatif besar. Tentunya, butuh rencana jangka panjang untuk mempersiapkan biaya tersebut. Tetapi, kamu masih ingat di poin pertama tentang banyaknya perusahaan yang terpaksa untuk go digital sehingga tidak memiliki persiapan yang matang? 

Sebenarnya masalahnya itu bukan berada di sedikit banyaknya biaya. Tetapi, lebih kepada persiapan dan rencana anggaran yang sudah ditargetkan. Jika tetap dipaksakan untuk melakukan implementasi teknologi otomatisasi dengan anggaran yang belum siap, jangan sampai kamu terjebak akan tawaran “murah” dari vendor-vendor ya. Bukannya tidak boleh mengembangkan sistem dengan murah. Tetapi, harus memenuhi standar-standar yang tidak boleh merugikan 1 pihak. 

a. Keamanan data / data security 

Pastikan vendor yang kamu pilih aware akan keamanan data / data security. Caranya? Coba minta ke calon vendor untuk menandatangani perjanjian credential di atas materai untuk menjamin kerahasiaan dokumen serta data yang akan dikembangkan. Kenapa? Jangan sampai tanpa kamu sadari ada yang memata-matai sistem perusahaan kamu. Lebih parahnya merekam aktivitas hingga menjual data dalam sistem.

Selain itu, dengan teknologi otomatisasi akan membutuhkan banyak informasi penting dalam prosesnya. Mulai dari informasi user, hingga nomor kartu debit yang digunakan konsumen untuk bertransaksi dengan perusahaanmu, akan ada di dalam sistem. Jika informasi tersebut bocor, wah, bukan cuma perusahaan yang dirugikan. Konsumen juga. 

b. Transparansi

Ini harus ditekankan. Kamu harus tahu server apa yang digunakan, biaya apa saja dan untuk apa saja yang dikeluarkan, hingga progress pengembangan sistem. Kenapa? Kamu tidak mau jika vendor hanya melakukan copy paste dari sistem yang pernah mereka buat untuk kamu pakai? Jika begitu, kenapa tidak beli produk sistem yang sudah jadi saja? 

Selain itu, jika vendor hanya memberikan estimasi pembuatan sistem dengan teknologi otomatisasi tanpa memberikan detail progress tiap minggunya akan ada indikasi kecurangan yang tidak kamu tahu. Misalnya, proses pembuatan sistem logistik terotomatisasi dengan bea cukai akan memakan waktu selama 3 bulan. Nah, selama prosesnya, kamu tidak diberikan pembaruan apa-apa mengenai proyek. Bisa saja, proyek sudah selesai lebih awal, karena mereka memiliki produk jadi. Mereka hanya mengulur waktu agar seolah-olah, mereka membuat dari 0. 

Manfaat teknologi otomatisasi di Indonesia pada sektor industri

Setelah tahu hambatan yang mungkin menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan teknologi otomatisasi di Indonesia, simak beberapa manfaat dari teknologi otomatisasi berikut ini:

1. Meningkatkan produktivitas

Teknologi otomatisasi terbukti dapat meningkatkan produktivitas. Betapa tidak, kemampuan dalam mengurangi waktu untuk menyelesaikan task dalam tiap workflow dan business process tentu akan meningkatkan jumlah output dari proses tersebut. Misalnya saja pada e-commerce. Jika, website e-commerce dapat menggunakan teknologi otomatisasi pembayaran, waktu yang dibutuhkan bagi konsumen untuk mendapatkan notifikasi pembayaran, dapat diterima near-to-real time setelah konsumen melakukan transfer. Begitu juga dengan penjual, akan segera mendapatkan notifikasi order masuk dan paket siap untuk dikemas & dikirim tepat setelah konsumen melakukan pembayaran.

Bayangkan jika itu semua dilakukan secara manual. Berapa orang yang diperlukan untuk memastikan konsumen dan penjual mendapatkan notifikasi? Berapa banyak waktu yang dihabiskan dalam 1 transaksi? Padahal dalam website e-commerce akan ada kemungkinan dimana bisa lebih dari 1 transaksi yang dilakukan secara bersamaan.

Tentu kehadiran teknologi otomatisasi dalam bisnis e-commerce sudah menjadi kebutuhan primer!

Tetapi, jika berbicara pada sektor industri manufacturing, ada yang ditakutkan jika produksi meningkat. Kualitas. Ya, acap kali kualitas akan menjadi pertanyaan bagi pelaku usaha. Bagaimana jika kualitas produk akan menurun? 

Nah, justru teknologi otomatisasi akan memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha untuk menentukan standar kualitas serta standar error dari tiap produk yang diproduksi. Alih-alih menurunkan kualitas produk. Justru kini perusahaan memiliki kekuatan lebih dalam melakukan standarisasi kualitas secara terukur. Sehingga, dapat meminimalisir defect produk dalam proses produksi. Menarik, ya?

2. Mengurangi beban waktu dan biaya

Ketika produktivitas meningkat, akan ada 2 beban yang berkurang. Yang pertama adalah waktu. Peningkatan produktivitas (dalam jangka waktu yang sama) akan mengurangi beban waktu untuk menyelesaikan 1 proses produksi. Katakan lah dalam tiap 1 proses produksi dapat menghemat waktu sebanyak 2 detik. Memang terlihat kecil ya. Tetapi, coba bayangkan jika tiap harinya ada lebih dari 1000 proses produksi. Kalian saja 2 dan 1000. Yap, 2000 detik tiap hari yang akan dikurangi dan diganti dengan peningkatan produksi. 

Dengan demikian, beban biaya pun akan berkurang. Bagaimana bisa? Yuk coba logika kan bersama. Dengan biaya 10,000,000 Rupiah, sebelum melakukan implementasi teknologi otomatisasi pada bisnis proses / sistem, sebuah perusahaan dapat memproduksi 1,000 produk dalam waktu 1 bulan. Setelah teknologi otomatisasi pada bisnis proses / sistem, dalam 1 bulan perusahaan tersebut dapat memproduksi 1,100 produk. Sebelum melakukan otomatisasi, perusahaan memerlukan biaya 10,000 rupiah tiap produk. Sedangkan, setelah menggunakan otomatisasi bisnis proses, beban biaya berkurang menjadi 9,090. Berapa biaya yang bisa mereka hemat dalam 1 bulan? 910,000 rupiah dapat mereka tekan tiap bulan. Cukup lumayan, ya?

3. Meningkatkan kepuasan pelanggan 

Sebuah fakta menyebutkan jika pada tahun 2020, konsumen akan melakukan “bisnis” dengan komposisi 80% tanpa ada interaksi manusia. Yang artinya, hanya 20% dari bisnis proses yang akan membutuhkan interaksi antar manusia. Sisanya? RPA. RPA? Ya, robot process automation. Jika, kamu mengalami keterlambatan dalam implementasi teknologi otomatisasi dalam bisnis proses, apa lagi dalam sistem informasi perusahaan, maka itu adalah kabar buruk. 

Kabar baiknya, jika kamu tepat sasaran, dan tepat waktu dalam implementasi teknologi otomatisasi dalam sistem customer handling, maka peningkatan kepuasan pelanggan bukan angan angan. Loh, kenapa sih kepuasan pelanggan itu penting?

Jika konsumen merasa puas melakukan bisnis dengan perusahaan kamu. Peluang untuk melakukan repurchase itu sangat besar. Persentase hingga 70 - 80%. Dibandingkan dengan  konsumen baru yang hanya memiliki 5 - 20% dalam hal keinginan melakukan bisnis dengan perusahaan kamu. Itu sebabnya, banyak perusahaan yang rela menggelontorkan dana yang cukup besar untuk menjalin hubungan dengan konsumen yang sudah pernah melakukan transaksi. Kenapa? 70 - 80 % pendapatan datang adalah dari loyal customer. 

Nah, teknologi otomatisasi dapat meningkatkan responsivitas dalam menangani klien, hingga secara otomatis memberikan selamat ulang tahun, bahkan memberikan reward terhadap klien yang telah berkontribusi banyak terhadap peningkatan pendapatan perusahaan. Sehingga, banyak perusahaan yang rela berinvestasi besar-besaran dengan harapan sejalan dengan peningkatan kepuasan pelanggan.

Jadi, kamu mau kapan?

Kesimpulan

Teknologi otomatisasi di Indonesia masih sepi peminat, meskipun permintaan akan teknologi tersebut terus meningkat. Memang, bahkan secara global, tercatat hanya 53% executive yang bersedia untuk mengaplikasikan teknologi otomatisasi pada bisnis proses / sistem mereka. 47% masih ragu untuk terjun dan mencoba teknologi otomatisasi sebagai solusi. 

Ada beberapa hal yang menghambat implementasi teknologi otomatisasi di Indonesia. Yang pertama adalah cultural resistance. Jika sebuah perusahaan memiliki corporate culture yang resisten terhadap perubahan, tentu akan berdampak pada lambatnya implementasi teknologi baru pada perusahaan. Jika paksaan muncul, baru perusahaan mau menggunakan teknologi tersebut. Seperti kasus transformasi digital bisnis. Dipaksa, baru jalan. 

Kedua adalah kekurangan tenaga ahli IT. Melakukan rekrutmen dan seleksi tenaga ahli IT itu tidak gampang. Perusahaan harus tahu benar teknologi apa yang akan dipakai. Sayangnya, tidak semua perusahaan itu paham tentang kebutuhan IT mereka. Sehingga, banyak perusahaan besar sekalipun yang melakukan kerja sama dengan perusahaan IT atau Software House Professional untuk mengembangkan sistem dengan teknologi otomatisasi di Indonesia. Sehingga, perusahaan dapat fokus terhadap core business mereka. Sedangkan urusan IT, di percayakan pada pihak ke-3. Akan tetapi, kamu tidak bisa sembarangan dalam memilih partner IT. Ada 4 cara tepat memilih Software House yang berkualitas.

Ketiga adalah masalah biaya. Tidak dipungkiri bahwa biaya menjadi pertimbangan yang cukup besar sebelum mengimplementasikan teknologi otomatisasi pada bisnis proses / sistem informasi perusahaan. Namun, jangan pernah sekali-kali terperangkap dalam jebakan “murah”, dalam proses development sistem perusahaan. Ingin untung, malah buntung. Tidak percaya? Coba simak kenapa low-cost software development itu buruk.

Nah, dari banyaknya hambatan yang sudah disebutkan tadi, sebenarnya teknologi otomatisasi itu banyak manfaatnya, loh!

Manfaat yang pertama dari teknologi otomatisasi bisnis proses / sistem adalah dapat meningkatkan produksi. Siapa yang tidak ingin produktivitas perusahaannya meningkat? Teknologi otomatisasi dapat membuat keinginanmu akan peningkatan produksi tercapai. Dengan peningkatan produktivitas perusahaan, terjadi penurunan beban waktu dan biaya.

Apakah kamu tahu bahwa 70 - 80% pendapatan perusahaan itu datang dari konsumen yang pernah memakai layanan tersebut? Yap, dengan teknologi otomatisasi, kepuasan pelanggan dapat ditingkatkan. Artinya apa? Optimasi pendapatan dari peningkatan angka konsumen yang melakukan repurchase terhadap produk perusahaan. Menarik, ya?

Tentu untuk menjamin proses transformasi digital hingga implementasi teknologi otomatisasi bisnis / sistem harus dilakukan dengan hati-hati, dan diserahkan kepada pihak yang tepat. Jangan sampai proyek IT kamu gagal. Simak 4 hal yang membuat proyek IT gagal.

Semangat memajukan bisnis mu dengan teknologi, ya!  Just for your information, SoftwareSeni siap loh jadi partner bisnis yang bisa kamu andalkan. Hubungi SoftwareSeni, ya. Siapa tahu kita jodoh. Hehehehehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *