Pengangguran digaji?

Sungguh, frase “ pengangguran digaji ” jika memiliki kaitan dengan program pra kerja Jokowi adalah misleading yang meninggikan harap.

“Duh, politik”.

Kata siapa? Baca dulu sampai habis. Jangan jadi golongan pembaca judul ya. Hehehe.

Coba cek di Google, portal media apa saja yang menggunakan judul “ pengangguran digaji ”? Siapa yang tidak mau mengganggur dan tetap mendapatkan penghasilan. Passive income. Tetapi, faktanya tidak seperti itu. Memang, dipenghujung tahun 2019, Presiden terpilih untuk periode 2019 - 2024, Pak Jokowi membuat wacana untuk memberikan pelatihan dan pembinaan kepada teman-teman yang sedang mencari pekerjaan. Bukan, benar-benar diberi gaji alias pengangguran digaji.

Bukannya tanpa alasan, keuntungan demografi yang dimiliki oleh Indonesia pada tahun 2019 disinyalir mampu membangkitkan laju ekonomi bangsa ditengah maraknya isu perang dagang dan resesi.

pengangguran digaji

Keuntungan demografi seperti apa?

Tahun 2019 adalah tahun dimana Indonesia memiliki lebih banyak jumlah penduduk usia produktif (68%) daripada usia non-produktif (32%). Nah, keuntungan demografi inilah yang dinilai sebagai peluang bagi Indonesia. Tetapi, itu juga bisa menjadi duri dalam daging bagi bangsa jika potensi yang SDM yang dimiliki Indonesia tidak bisa dikelola dengan baik.

Haduh, formal banget ya bahasanya. Oke deh, oke deh.

Pada artikel ini, SoftwareSeni tidak akan berfokus pada Pak Jokowi. Bukan juga program pra kerja nya. Tetapi, lebih menekankan pada bagaimana SDM di Indonesia dapat memiliki akses ke industri kerja. Inilah bagian yang seru. Mau tahu kenapa? Itu karena, siapapun presidennya, seperti apapun programnya, pengangguran adalah salah satu masalah yang perlu ditangani bersama. Bukan cuma pemerintah saja, tetapi juga kamu, kita.

Mulai cari tahu angka pengangguran di Indonesia, yuk! Ini datanya (sumber BPS):

pengangguran digaji

Memang, jika dilihat angka pengangguran di Indonesia terus menurun hingga tahun 2018, tetapi ada sesuatu yang menarik. Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi naik sebesar 25% hanya dalam 2 tahun, 2017 - 2019. Wow, bukankah seharusnya, justru para sarjana ini lebih disiapkan untuk kebutuhan profesional? Apa yang keliru? Ada dua hal, jika dilihat dari peningkatan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi:

a. Kurang nya skill yang dibutuhkan pasar
b. Kurang nya kesempatan kerja / lowongan kerja dipasar

Yuk bahas satu per satu!

Kurang nya skill yang dibutuhkan pasar

Menurut Linkedin, berikut adalah skill yang paling dicari pada tahun 2019:

  • Cloud Computing
  • Artificial Intelligence
  • Analytical Reasoning
  • People Management
  • UX Design
  • Mobile Application Development
  • Video Production
  • Sales Leadership
  • Translation
  • Audio Production
  • Natural Language Processing
  • Scientific Computing
  • Game Development
  • Social Media Marketing
  • Animation
  • Business Analysis
  • Journalism
  • Digital Marketing
  • Industrial Design
  • Competitive Strategies
  • Customer Service System
  • Software Testing
  • Data Science
  • Computer Graphics
  • Corporate Communications

Coba kamu perhatikan skill yang paling diminati di atas. Skill yang dibutuhkan sudah sangat spesifik. Bukan lagi hanya mencantumkan divisi management, marketing, software developer, dan lainnya. Spesialisasi.

PENCARI KERJA (Job Seeker)

Dalam dunia kerja, ada dua jenis pencari kerja. Generalist & Specialist. Fokus dengan yang generalis, ya. Ehe.

Generalis

Apa itu pencari kerja generalis? Dari kata generalis sendiri bisa kamu artikan sebagai umum. Artinya, jika pencari kerja adalah lulusan management, ia berminat untuk masuk ke perusahaan yang menawarkan pekerjaan berupa marketing, sales, keuangan, ataupun HRD. Biasanya ini diisi oleh para teman-teman Freshgraduate. Karena apa? Kurangnya pengalaman bekerja secara profesional dan sedikitnya exposure terhadap skill yang spesifik.

Pencari kerja yang bersifat generalis cukup banyak. Biasanya, banyak perusahaan yang menggunakan program Training, untuk mengetahui potensi terbesar serta skill spesifik dari si pencari kerja.

pencari kerja ( pengangguran digaji )

Kamu sudah lihat kan polanya? Iya, pada akhirnya para pencari kerja generalis pun akan menjadi specialist.

Nah, disini letak permasalahannya. Program training yang diadakan oleh perusahaan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tentu dengan maraknya perusahaan startup di Indonesia, penggunaan anggaran perusahaan harus lebih bijak. Itu pula yang menyebabkan sedikitnya program training di pasar kerja. Disinyalir, program training di pasar tidak sebanding dengan supply freshgraduate yang ada.

Lalu, jika sudah seperti itu apa yang harus dilakukan? Simak beberpa tips berikut:

1. Sering-seringlah melihat informasi lowongan pekerjaan

Dengan membaca informasi terkait lowongan pekerjaan, pencari kerja setidaknya tahu, apa pekerjaan yang sekiranya cocok dengan kepribadian / ketertarikan minat. Selain itu, pencari kerja juga bisa mengukur tingkat tanggung jawab / responsibility pada tiap jenis pekerjaan. Dengan demikian, setidaknya pencari kerja juga dapat mempersiapkan mental ketika bekerja.

Tidak, pencari kerja tidak diharuskan langsung mendaftar lowongan kok. Hanya saja, perhatikan poin-poin seperti (Perusahaan pemberi kerja, lokasi, tanggung jawab, kriteria / requirement). Jika pencari kerja sudah menemukan pola “ah, sepertinya aku jatuh cinta terhadap pekerjaan ini deh”, cari tahu tantang jenjang karir posisi yang dimaksud. Mulai lah dari paling bawah (untuk freshgrad).

2. Cari tahu skill apa yang dibutuhkan pada posisi tersebut

Nah, ini yang menarik. Dengan mengetahui jenis pekerjaan yang diinginkan, pencari kerja akan mengetahui skills apa saja yang dibutuhkan. Biasanya, para pemberi kerja akan menginfokan secara spesifik softskill & hardskill apa yang dibutuhkan. Urutkanlah skills apa yang menjadi prioritas pemberi kerja. Mulailah dari yang paling mudah.

3. Cari sertifikasi skill yang dibutuhkan

Mulai adalah kuncinya. Sekarang ini, mencari ilmu tidak harus jauh-jauh sampai negeri China. Cukup duduk santai sembari membuka laptop / handphone, ilmu yang dibutuhkan ada & tersedia. Dalam dunia profesional, sertifikasi skills itu sangat membantu dalam proses mendapatkan pekerjaan loh! Kenapa? Dengan memiliki sertifikat, pencari kerja akan memiliki bukti valid & terukur terhadap skill yang diminati.

Misalnya, kamu tertarik menjadi seorang digital marketer. Salah satu skill yang wajib kamu punya adalah skill analisis menggunakan Google Analytics. Nah, untuk meyakinkan pemberi kerja, kamu bisa mengikuti kelas Google Analytics Academy. Jika berhasil menyelesaikan kelas, kamu akan mendapatkan sertifikat google analytics berdasarkan kelas (beginner, advance). Jangan sedih, sertifikasi tersebut GRATIS!

4. Optimasi akun di job portal

Lengkapi infomasi terkait pencari kerja. Misalnya, preferensi bidang pekerjaan yang diinginkan, pengalaman kerja, hingga pendidikan. Portal job apa saja? Sebenarnya ada banyak sekali job portal yang asik. Tetapi, hanya dua job portal saja yang akan dibahas.

Linkedin

Bagi para pencari kerja, harusnya ini adalah salah satu job portal yang paling familiar. Alasannya? Linkedin adalah social media. Sehingga, linkedin memiliki UI yang cukup familiar. Selain itu, fasilitas untuk memiliki koneksi yang satu preferensi (bidang pekerjaan, industri, dan lainnya), memudahkan pencari kerja untuk masuk kedalam circle career yang diinginkan. Asiknya, jika akun linkedin dioptimasikan degan baik, pemberi kerja akan menawarkan pekerjaan kepada pencari kerja tanpa mendaftar.

Bagaimana cara melakukan optimasi akun di Linkedin?

Baiklah. Mulai dari langkah pertama.

--> (ABOUT)

Pastikan bagian ini bisa menjelaskan siapa kamu. Biasanya bagian ini memiliki kata kunci (preferensi pekerjaan / skill yang dikuasai / keduannya).

--> (EXPERIENCE)

Yap, pengalaman kerja. Freshgraduate? Jangan sedih, kamu bisa input pengalaman magang, proyek dosen. Kalau tidak punya keduanya? Ada bagian organisasi yang bisa kamu isi. Tidak punya juga? Mungkin kamu pernah menulis journal? Tidak punya juga? Hmmm. Serius deh, untuk memiliki CV / Resume yang “baik”, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk bisa membangunnya.

--> (LICENSES & CERTIFICATION)

Masukkan sertifikasi yang dimiliki. Punya sertifikat dari Google Academy, Facebook Blueprint, dll? Masukan! Ini akan menjadi acuan skill yang dimiliki pencari kerja. Kalau belum punya? Cari dong! Banyak yang GRATIS kok. Serius deh.

--> (SKILLS)

Dengan informasi lowongan yang diminati, pencari kerja diharapkan memiliki skills yang diingikan oleh pencari kerja. Tulislah skill yang benar-benar kamu kuasai. Jangan bohong terhadap diri anda sendiri.

Nah, profile linkedin sudah siap. Pastikan profile kamu bisa ditemukan oleh mbak & mas HR ya. Caranya? Ada fitur yang akan menjelaskan status pencari kerja. Apakah sedang mencari? Apakah sudah bekerja tetapi terbuka untuk tawaran kerja? Atau tidak mencari kerja? Kamu bisa mengaturnya. Dan yang tidak kalah penting adalah fitur job preference. Dimana kamu bisa memilah notifikasi / pemberi kerja perihal ketertarikan kamu pada suatu pekerjaan. Hihihihi.

Jobstreet

Ini adalah salah satu job marketplace tertua di Indonesia. Berbeda dengan linkedin, ini benar-benar murni job marketplace, dan tidak ada embel-embel social medianya.

Bagaimana cara optimasi akun?

Hampir sama seperti linkedin. Isi semua form dengan percaya diri. Mulai dari “about” hingga “skills” harus kamu isi SESUAI dengan kapasitas kamu. Jangan mengada-ada. Karena, mbak & mas HR tahu persis siapa yang jujur. Hehehehe.

Apa special nya ini portal? Karena jobstreet merupakan salah satu dedengkot dunia job marketplace, banyak perusahaan yang memasang lowongan di portal tersebut. Sehingga, macam pekerjaan yang ditawarkan cukup variatif.

Intinya, para pencari kerja harus jujur pada diri sendiri. Jangan melebih-lebihkan / mengurang-ngurangkan kemampuan yang dimiliki.

Dari tadi pencari kerja melulu. Sedih amat. Kayaknya pengangguran terjadi itu karena pencari kerja yang kurang kompeten. OH TIDAK JUGA.

PEMBERI KERJA (Employer)

Ada sedikit cerita nih dari mas & mbak HRD.

“Duh, banyak lowongan kerja, banyak pencari kerja juga, kenapa susah sekali ya memikat para pencari kerja untuk mendaftar”

ADA BANGET!

Hehehehehe.

Biasanya ini terjadi di perusahaan yang “namanya” belum cukup dikenal khalayak luas. Tetapi, jangan sedih. Ada yang namanya Employer Branding.

employer ( pengangguran digaji )

Apa itu employer branding?

Employer branding merupakan nilai yang dimiliki oleh suatu perusahaan dalam menarik / memikat pencari kerja. Kalau bahasa gaulnya sih employee value proposition. Tiap perusahaan pasti memiliki ciri khas yang berbeda. Nah, perbedaan itu lah yang ditonjolkan. Gunanya apa?

Untuk memikat pencari kerja yang memiliki “value” yang sejenis.

Dalam hal mencari pekerjaan pasti pencari kerja memiliki beberapa kriteria perusahaan yang ingin didaftarkan. Ada yang karena “nama” perusahaan, gaji, status pekerjaan, dan lainnya. Nah, keunikan perusahaan is a BIG DEAL! Karena bisa menambah nilai jual perusahaan dimata pencari kerja. Tentunya, ini akan menarik talenta yang berpotensi baik bagi perusahaan.

Kira-kira, apa saja ya yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk memikat talenta terbaik untuk mendaftar ke perusahaan tersebut? Yuk bedah satu per satu!

1. Blog

Blog merupakan cara terbaik bagi perusahaan untuk melakukan aktivitas digital marketing. Tujuan dari digital marketing itu banyak sekali. Mulai dari memasarkan produk hingga employer branding! Ya, kamu tidak salah dengar. Tetapi, bagaimana jika perusahaan tidak memiliki website? Jangan sedih, ada portal Medium.com untuk perusahaan. GRATIS!

Tetapi, kalau perusahaan ingin membuat website company profile yang memiliki fitur blog, SoftwareSeni siap membantu! Mulai dari 18an juta, perusahaan kamu sudah bisa memiliki website berkualitas, bukan kaleng-kaleng!

Bagaimana jika perusahaan sudah memiliki website tetapi belum memiliki fitur blog? Jangan bingung, panggil saja SoftwareSeni untuk membantu melakukan functionality development website perusahaan. Hehehehe.

Serius deh, hal pertama yang bisa perusahaan lakukan untuk memikat pencari kerja adalah melalui website. Karena mencari informasi perusahaan adalah aktivitas pertama yang pencari kerja lakukan sebelum mendaftar. Tidak percaya kalau first impression (impresi pertama) website itu penting banget bagi perusahaan? Coba baca ini dulu deh!

2. Career Page

Ngapain? Kan sudah ada linkedin & job marketplace. Eits jangan salah. Dengan memiliki fitur career page pada website perusahaan akan memberikan kemerdekaan terhadap pengelolaan talent yang mendaftar pada career page perusahaan. Memang benar jika linkedin & job marketplace cukup banyak membantu mbak & mas HR untuk mencari talent. Tetapi, sadarkah kamu, banyak perusahaan yang menjadikan linkedin & job marketplace sebagai distributor informasi lowongan saja?

Jika pencari kerja hendak mendaftar pada lowongan tersebut, kebanyakan mereka akan dialihkan ke career page website perusahaan. Kenapa? Jika perusahaan bergantung pada linkedin & job marketplace, selain perusahaan harus berbagi informasi terkait pelamar kerja, perusahaan juga harus menggelontorkan sejumlah dana untuk terus menggunakan fitur job listing yang strategis.

Selain itu, jika perusahaan memiliki career page, pencari kerja akan dapat merasakan “value” dari calon pemberi kerja bahkan ketika baru mendaftar. Alasanya? Tema page bisa di sesuaikan dengan brand perusahaan, tata cara pendaftaran, hingga tata kata pada career page. Memberikan pengalaman “ekstra” bagi pencari kerja adalah nilai tambah bagi perusahaan. Bukan begitu?

“Tetapi, boro-boro punya career page, website saja tidak punya”

Ya itulah masalahnya. Memang, masih banyak yang berpikir bahwa tidak semua perusahaan butuh website apalagi career page. Tetapi, percayalah, cepat atau lambat, perusahaan-perusahaan tersebut akan “dipaksa” untuk memiliki platform tersebut. Kenapa? Aksesibilitas informasi perusahaan.

“Loh, kan sudah ada social media?”

Perlu diingat, bahwa tidak semua perusahaan cocok menggunakan social media. Dan juga, trend social media cepat sekali berganti. Apakah perusahaan sanggup untuk selalu beradaptasi dengan social media? Bukankah waktu & biaya nya akan lebih baik untuk mengembangkan website perusahaan. Bisa untuk menambah fitur, konten dan lainnya.

Tidak punya sumber daya yang bisa membangunkan perusahaan website / menambah fitur career page pada website?

Aduh, udah akhir 2019 loh ini. Jangan sedih, Software House professional akan membantu perusahaan dalam melakukan digitalisasi bisnis loh. Mulai dari company profile website, career page, hingga software yang kompleks sekalipun, bisa. Jadi, jangan kaget kalau ada perusahaan non-IT bisa punya website yang menarik, atau software yang unik.

Tetapi, perusahaan juga tidak boleh sembarangan memilih software house. Coba deh baca 4 cara memilih Software House yang tepat.

3. Social Media

Nah, ini sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, ya. Social media juga sangat berperan besar dalam memikat pencari kerja untuk bekerja di perusahaan. Namun, yang perlu diingat, social media ini bukanlah tempat yang cukup “aman” untuk melakukan konversi. Kenapa? Perihal keamanan data & informasi pencari kerja.

Jika perusahaan memiliki dedicated career page website, informasi yang diberikan oleh pencari kerja tidak akan dibagikan kepada pihak ketiga, dan data akan tersentralisasi di dalam database website. Begitu banyak penyalahgunaan lowongan kerja di social media. Mulai dari lowongan “abal-abal” sebagai modus data mining, hingga modus penipuan. Siapa yang dirugikan? Tentu perusahaan yang dibawa “nama” nya oleh penipu. Berbahaya bagi reputasi perusahaan tersebut. Dan pastinya pencari kerja. Kegigihan dalam mendaftar lowongan kerja dimanfaatkan dan informasi yang diberikan disalahgunakan tanpa persetujuan para korban.

Jadi, bagaimana mas & mbak HR. Kira-kira, hal apa saja yang sudah dilakukan untuk menjemput “bola”. Semangat ya! Pasti ada jalan! Hehehehe.

OPORTUNIS (Orang yang pandai melihat peluang)

Percaya deh, yang membaca artikel ini bukan hanya pencari kerja maupun perusahaan pemberi kerja. Tetapi, ada juga orang-orang yang mencari peluang di tengah suatu masalah. Dan harus diakui bersama kalau pengangguran adalah suatu masalah yang harus segera ditangani bersama. Itu karena untuk memenuhi hak dasar HAM; mendapatkan pekerjaan yang layak. Bukan kah begitu?

Bagi para oportunis, mungkin beberapa hal di bawah ini bisa membantu kamu menemukan ide dalam memecahkan masalah pengangguran sembari mendapatkan cuan. Bak sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Hihihihihihihi.

1. E-Learning Bersertifikat

Untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja dimana skill specialist lebih diminati daripada generalis, keberadaan e-learning dinilai sangat membantu. Dengan menyelesaikan pembelajaran, serta serangkaian ujian, setidaknya pencari kerja memiliki acuan perihal posisi yang diminati. Selain itu, keberadaan sertifikat juga mampu membantu mas & mbak HR untuk melihat bukti hitam diatas putih yang menyatakan bahwa benar si pencari kerja memiliki skill yang dibutuhkan.

Namun, dalam menciptakan e-learning tidak bisa sembarangan. Perlu kejelasan pasar. Sekarang ini memang, sudah banyak e-learning yang beredar. Namun, akan ada selalu celah karena skill & ilmu akan terus bertambah & berkembang.

Bagaimana bisa cuan?

Pikir-pikir panjang jika ingin menarik dana dari end-user. Pasalnya, banyak platform e-learning yang gratis. Jika e-learning, belum memiliki “nama” atau value proposition yang kuat, siapa yang mau membayar hanya untuk menikmati fasilitas e-learning.

Coba gunakan metode iklan. Ya, pada tahap awal, akan lebih bijak jika platform e-learning disisipkan iklan. Baik dari google display, atau iklan yang sifatnya direct. Namun, ini juga harus di filter, tidak semua iklan bisa ditampilkan. Hanya iklan yang relevan yang bisa diambil. Kenapa? Lucu jika e-learning disisipkan iklan jual beli barang. E-learning adalah untuk kegiatan produktif. Jika iklan yang disisipkan bersifat konsumtif ya lucu. Tidak koheren dan berbahaya bagi platform.

Nah, semakin banyak e-learning bersertifikat, semakin banyak pula pilihan bagi pencari kerja untuk mempertajam kemampuan mereka. Bukan kaleng-kaleng! Hahahahaha.

2. Job Marketplace

“Katanya tadi mas & mbak HR dianjurkan membuat career page sendiri, kok sekarang justru disuruh membuat job marketplace?”

Jangan salah, apakah pada artikel ini ada pernyataan melarang penggunaan job marketplace? Kan tidak. Justru karena melihat masih banyaknya job marketplace yang kurang memberikan keleluasaan bagi pemberi kerja dalam mengelola database pelamar, ini adalah kesempatan bagus!

Keamanan data & privacy is a big deal! Jika kamu bisa meyakinkan pelamar tentang keamanan data yang akan mereka peroleh, tentu itu adalah sinyal baik. Bukankah begitu?

3. Talent Acquisition Management System

Inilah yang paling underrated! Padahal, pasar di Indonesia itu luar biasa banyak. Oleh karena itu, pemain untuk bisnis Talent Acquisition Management System tidak terlalu banyak. Hanya pemain-pemain besar seperti Taleo dari Oracle & Workday yang mendominasi pasar. Penggunanya pun masih perusahaan-perusahaan besar.

Tetapi, sadarkah kamu, jika SDM adalah hal inti pada suatu perusahaan? Oleh sebab itu, proses rekrutmen juga tidak boleh asal-asalan. Nah, pada sistem ini, perusahaan sangat memungkinkan untuk melakukan semua proses hiring dalam sistem. Mulai dari greeting, notifikasi kepada para pelamar, hingga fitur video interview. Semuanya terdata & terekam dengan baik.

Apakah kamu berani menggoncang pasar dengan menawarkan Talent Acquisition Management System yang bisa dijangkau oleh perusahaan kecil sekalipun? Jika ya, SoftwareSeni siap membantu kamu dalam membangun sistem yang reliable dan professional!

4. All-in-One System

Coba bayangkan bagaimana jika e-learning bersertifikat, job marketplace, dan Talent Acquisition Management System dijadikan satu platform? Para pencari kerja & pemberi kerja tidak perlu repot-repot berpindah platform untuk memenuhi kebutuhan mereka. Semuanya tersedia di platform tersebut.

Menarik banget, serius! Apakah di Indonesia sudah ada? Hmmmm, mungkin tidak. Pun kalau ada jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari! Ya, mungkin linkedin. Tetapi, itu lebih ke social media. Yakin tidak mau mengisi kekosongan pasar all-in-one talent system? Seru banget sih ini. Dan sangat kompleks. Butuh tim software engineer ahli & berpengalaman dalam membangun platform. Serius. It will cost you a lot! Tetapi akan worth the price! Asal, tahu bagaimana cara memperkenalkan sistem ini ke masyarakat.

Harusnya, dengan wacana Pak Jokowi dengan program pra-kerja nya, percepatan penyaluran SDM ke industri akan lebih cepat. Asal tidak diartikan sebagai "pengangguran digaji". Tetapi, janganlah bergantung pada pemerintah saja. Sebagai pencari kerja, kamu harus bertindak. Sebagai pemberi kerja, kamu juga harus bertindak. Begitu juga para oportunis. Semuanya akan berjalan dengan baik jika ada keharmonisan & keselarasan kerja antar pihak-pihak terkait. Kamu punya peran! Serius.

Kesimpulan

Sekalipun Pak Jokowi sudah mewacanakan program pra kerja atau para media menyebut dengan istilah " pengangguran digaji ". Pemerintah tidak boleh bekerja sendirian! Semua pihak terkait harus gotong-royong untuk menuntaskan permasalahan pengangguran di Indonesia. Kenapa? Mendapatkan pekerjaan yang layak adalah salah satu hak dasar dari Hak Asasi Manusia. Tetapi, ada satu hal yang cukup mengejutkan. Data BPS bulan Februari 2019 menunjukan adanya loncatan angka 25% pengangguran lulusan perguruan tinggi. Ada apa ini? Bukan kah seharusnya mereka jauh lebih siap bekerja sebagai professional?

Kebutuhan pasar kerja tiap tahunnya berubah-ubah. Begitu juga dengan skill yang dibutuhkan pasar kian bertambah & berkembang. Nampaknya, fleksibilitas perguruan tinggi dalam mengatur kurikulum belum cukup untuk mengantisipasi hal tersebut. Lalu, pencari kerja bisa apa? Banyak! Mulai dari mengambil kelas online bersertifikat, hingga optimasi akun linkedin.

Tetapi, tentu tidak bisa pencari kerja bergerak sendiri. Mas & mbak HR dari perusahaan pemberi kerja juga harus memberikan akses kepada pencari kerja. Bagaimana? Bisa melalui blog, career page, hingga social media. Beri tahu pencari kerja tentang talent seperti apa yang dibutuhkan hingga budaya perusahaan yang seperti apa agar pencari kerja tertarik untuk melamar.

Namun, ditengah masalah pengangguran yang tak kunjung usai, ada celah-celah peluang bagi oportunis untuk mengembangkan sayap. Buat platform e-learning bersertifikat, job marketplace, hingga berikan kenyamanan bagi mas & mbak HR dengan talent acquisition management system. Kalau mau yang lebih keren, gabungin saja semuanya menjadi 1 platform. All in One talent management system.

Butuh bantuan untuk melakukan digitalisasi perusahaan? Terkait dengan talent atau bidang lainnya? Konsultasikan saja ke SoftwareSeni. Jangan sedih, Software house professional akan memberikan hasil produk berkualitas loh! No kaleng-kaleng, katanya hehehehe.

Yuk, jadikan Indonesia menjadi negara yang ramah bagi pekerja. Sehingga, bisa menarik talenta-talenta Indonesia di luar untuk berani pulang ke rumah!