Mobile Apps mengubah cara bekerja para pengguna smartphone. Bukan tanpa alasan. Kini, smartphone bukan lagi barang mewah (terkecuali untuk beberapa produk). Bayangkan saja, menurut dailymail, pengguna smartphone di Indonesia menghabiskan rata-rata 4 jam 35 menit setiap harinya dalam menggunakan mobile internet. Selamat! Indonesia berada di posisi ke 4 sedunia. Itu baru penggunaan online ya, belum lagi offline. Tentu screen time rata-rata pengguna smartphone di Indonesia, jauh diatas itu. 

Dalam satu hari, anggaplah kamu tidur 8 jam, tentu waktu yang tersisa untuk beraktivitas adalah 16 jam. Katakanlah rata-rata kamu menghabiskan waktu 5 jam dalam berinteraksi dengan smartphone yang kamu punya. Nyaris 30% waktu produktif kamu ada di smartphone. Wow. Tidak berasa, ya?

pengguna smartphone di Indonesia

Dengan angka penggunaan smartphone harian di Indonesia yang sangat tinggi, tentu banyak perusahaan yang mulai berpikir tentang bagaimana bisa menghasilkan keuntungan dari kebiasaan pengguna smartphone. Satu demi satu layanan mulai bermunculan. Fase pertama yaitu social media. Bahkan, facebook pun membuat mobile apps khusus. Bukan cuma 1, bahkan 3 aplikasi yang facebook keluarkan untuk smartphone. Sampai-sampai, ada beberapa layanan social media yang fiturnya hanya bisa dinikmati secara penuh melalui smartphone. Instagram dan snapchat (dan mungkin masih ada beberapa yang lain).

Sungguh, mobile apps mengubah cara bekerja perusahaan penyedia jasa / service / layanan.

Kenapa Mobile Apps?

Tentunya, argumen tentang mobile apps mengubah cara bekerja perusahaan penyedia jasa / service / layanan bukanlah tanpa alasan. Coba simak pembahasan ini:

1. Google 

- Memberikan prioritas pada mobile-friendly website

Ada apa dengan mbah Google? Ya, google memiliki caranya tersendiri untuk memberikan “peringkat” pada suatu website. Atau yang biasa orang kenal dengan SERP (Search Engine Result Page). Nah, setiap perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan, bukan hanya ditampilkan pada halaman pertama. Tetapi juga mendapatkan posisi pertama pada target keyword pada website bisnis mereka. Alasannya? Coba kamu lihat gambar dibawah.

CTR Google Search 2017

Visualisasi dari Ignite Visibility diatas, menggambarkan jika website dengan posisi 1 pada Google Search memiliki tingkat CTR (click-through-rate) yang paling tinggi. Tentu CTR tinggi adalah hal yang diidamkan oleh banyak perusahaan, bukan? 

Lalu apa hubungannya dengan mobile apps mengubah cara bekerja perusahaan jasa / service / layanan? 

Jadi begini, dalam algoritma yang Google pakai untuk menentukan website mana yang akan berada di posisi 1 dalam mesin pencarian mereka, Google akan memberikan prioritas bagi website yang ramah bagi mobile. Maksudnya? Ya, website yang tampilannya dioptimasi untuk perangkat mobile, akan mendapatkan nilai tambah. Sehingga, nilai tambah tersebut mampu membuat suatu website bertengger di posisi 1 pada mesin pencarian Google. 

Dominasi Google yang “memaksa” website untuk membuat website yang ramah mobile nampaknya terpengaruh oleh pertumbuhan pengguna smartphone dan user online mobile yang semakin membengkak. Dengan adanya trend ini, jelas banyak perusahaan yang semakin aware terhadap website yang mobile-friendly

- Progressive Web App (PWA)

Google tidak hanya memberikan prioritas bagi website yang mobile-friendly saja, tetapi juga menghadirkan progressive web app (PWA) sebagai solusi bagi developer. Dengan konsep mobile-first approach, kini perusahaan diberikan pilihan dalam mengembangkan mobile apps (software development). Native mobile apps vs PWA katanya. Tentu masing-masing metode software development memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 

Tetapi, google mengklaim jika PWA sanggup memberikan reliabilitas, kecepatan, serta lebih menarik jika dibandingkan dengan native mobile apps. Buktinya, perusahaan besar seperti  Tokopedia, Shopee, tiket.com, mamikos, Google, twitter sudah menggunakan PWA sebagai metode software development mereka. 

Jika diamati, sepertinya Google memiliki agresivitas yang cukup tinggi, ya? Tentunya agresivitas untuk merespon pertumbuhan smartphone yang kian tidak terbendung. Jika kamu tertarik untuk mengetahui lebih dalam perihal metode progressive web app (PWA). Kamu bisa baca artikel Membuat Aplikasi Dengan Progressive Web Application (PWA) yang sudah SoftwareSeni siapkan untukmu.

2. User Experience

Kini, User Experience (UX) tidak bisa dipandang remeh. Alasannya? Banyak alternatif layanan yang bisa dinikmati pengguna. Sehingga, jika pengguna / user merasa website / aplikasi yang mereka gunakan tidak cocok / tidak memberikan pengalaman yang dapat memenuhi kebutuhan, maka akan ditinggalkan. Semudah itu. 

Sudah diketahui bahwa masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu 5 jam sehari atau lebih dari 25% waktu produktivitas dihabiskan untuk berinteraksi dengan smartphone. Nah, apa jadinya jika perusahaan tidak segera menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia? Tentu akan banyak pengguna yang beralih. Kecuali, jika kamu adalah satu-satunya pemain di pasar. Tetapi, kamu perlu mengingat bahwa dengan masuknya era IT, replikasi bisnis menjadi sesuatu hal yang lumrah. 

User Experience itu penting

Kasus ojek online vs ojek konvensional di Indonesia bisa menjadi contoh betapa User Experience berperan penting dalam menarik pengguna. Setelah Gojek & Grab melakukan sebuah gebrakan dengan meluncurkan mobile apps untuk pemesanan ojek, user experience yang kedua perusahaan tersebut tawarkan, nyatanya mampu melakukan revolusi cara memesan jasa. Sampai-sampai, perusahaan sebesar blue bird harus melakukan terobosan yang sama. Nah, itu kisah nyata betapa mobile apps mengubah cara bekerja masyarakat dan perusahaan. 

Bukan tanpa alasan. Jika mobile apps Gojek & Grab tidak memiliki User Experience yang baik, tentu tidak akan banyak orang yang berpaling. Nyatanya, kedua perusahaan sanggup memberikan User Experience yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna.

3. Aksesibilitas

Dulu, internet mahal. Keberadaan wifi pun masih jarang. Apalagi kecepatan internet. Nonton youtube saja sering buffering. Pada awal perkembangan smartphone, harganya pun selangit. Hanya segelintir orang yang mampu membelinya. Seiring dengan perkembangan teknologi, internet & smartphone sudah bisa di akses oleh sebagian besar masyarakat. Sebagian besar? Ya, karena SoftwareSeni tidak mau menutup mata jika memang masih ada daerah yang belum tersentuh internet. Lanjut, ya? Dengan semakin mudahnya mengakses internet melalui smartphone, tentu peluang untuk memberikan layanan melalui kedua teknologi tersebut semakin besar. 

e-payment, e-money dan e-wallet di Indonesia

 

Contoh yang paling terlihat ada pada cara masyarakat melakukan transaksi. E-wallet, e-payment, e-money, coba sebutkan yang lain. Penetrasi mobile e-commerce juga memperkuat penetrasi e-wallet, e-payment, dan e-money. Sampai-sampai, kini banyak bank berlomba-lomba untuk memasuki pasar fintech. Caranya? Dengan membuat  mobile apps untuk keperluan transaksi dengan bank terkait. Bukan tanpa alasan. Smartphone & internet mobile kini lebih aksesibel daripada harus pergi ke mesin ATM. Sehingga, pengguna tidak perlu pergi ke ATM terdekat untuk melakukan transaksi. Kini, hanya usapan jari pun kamu bisa mengirim uang ke luar negeri. Semudah itu. 

Dari ketiga alasan diatas, mana alasan yang menurutmu paling berpengaruh dalam argumen tentang mobile apps mengubah cara bekerja perusahaan dan masyarakat?

Apa saja yang diubah?

Nah, setelah kamu tahu alasan kenapa mobile apps mengubah cara bekerja perusahaan & masyarakat, yuk amati kira-kira apa saja cara bekerja yang diubah.

1. Distribusi Informasi

Sejak internet menjadi suatu hal umum, era Informasi nampaknya sudah cocok untuk diberikan kepada Indonesia. Pasalnya, internet memberikan fleksibilitas tinggi dalam melakukan distribusi informasi. Mulai dari email, chat, hingga social media, semuanya aset berbentuk informasi. Ditambah lagi dengan meningkatnya minat pasar terhadap smartphone, mobile internet semakin ramai. Jadi, bisa dibilang lalu lintas internet padat berasal dari 2 sumber, yaitu desktop dan mobile.

Sampai-sampai, bahkan kini heboh teknologi big data dimana bahkan informasi yang tidak terstruktur bisa memberikan aset berharga. Misalnya, informasi mengenai preferensi umum tentang tren pembelian di bulan Ramadhan, hingga prediksi ramalan cuaca. Semua informasi begitu berharga. Ditambah lagi, gencarnya iklan smartphone yang memberikan sanjungan terhadap teknologi artificial intelligence yang disematkan pada ponsel. 

Teknologi big data & artificial intelligence tidak akan berkembang secepat ini tanpa adanya kemajuan dalam distribusi informasi. Kenapa? Itu karena kedua teknologi tersebut membutuhkan informasi yang sangat banyak, beragam, dan kompleks untuk dapat diolah menjadi aset yang bernilai.

Lalu, apa hubungannya dengan mobile apps mengubah cara bekerja? 

mobile apps merubah cara bekerja (distribusi informasi)

Dengan berkembangnya teknologi big data & artificial intelligence berkat distribusi informasi yang semakin cepat, kini banyak mobile apps yang secara default bekerja dengan mengkombinasikan 2 teknologi tersebut. Sehingga, mobile apps dapat memiliki kemampuan memprediksi, hal apa yang kira-kira digemari oleh pengguna. Dengan demikian, suguhan konten yang cenderung homogen menjadikan banyak pengguna yang rela berlama-lama dalam aplikasi mobile apps. Jika dilihat dari sudut pandang bisnis, tentu hal ini merupakan sinyal positif, bukan?

Hanya saja, dengan laju distribusi informasi yang sangat cepat, ada sisi negatif yang akan muncul. Keamanan data / informasi. Ya, harus diakui kini penyalahgunaan data / informasi, hingga sabotase terjadi karena distribusi informasi yang kian tidak bisa di kontrol. Bahkan, perusahaan sebesar Facebook saja pernah kecolongan dengan kasus pencurian 1 juta akun pengguna di Indonesia. 

Masalah keamanan data ini harus ditangani dengan serius. Jika tidak, keamanan pengguna / user bahkan perusahaan lah yang akan menjadi korbannya. 

2. Transaksi

Apakah kamu termasuk orang yang pernah mendengar ketenaran kaskus dimasa lampau? Portal yang mengawali layanan jual beli dengan sistem rekber (rekening bersama) nya yang terkenal? Transaksi online pada generasi pertama e-commerce di Indonesia nyatanya tidak semudah sekarang. Banyak kasus penipuan, hingga yang paling kontroversial adalah kasus penggelapan uang yang dilakukan oleh akun kaskus blackpanda.

Meskipun demikian, perbaikan terhadap cara jual beli online yang efektif terus dilakukan. Hingga pada titik dimana teknologi otomatisasi pun turut dioptimalkan dalam melakukan transaksi jual beli online. Tentu ini menjadi angin segar. Untuk merespon terhadap perkembangan dunia smartphone, industri jual beli online pun ramai oleh platform e-commerce dalam bentuk mobile apps.

Setelah melihat respon pasar mengenai hadirnya mobile e-commerce yang sangat baik, banyak perusahaan e-commerce yang mulai menawarkan fitur e-wallet kepada pengguna. Fungsinya, tentu saja untuk mempermudah transaksi. Sampai-sampai, ada perusahaan e-commerce yang menawarkan harga spesial bagi pengguna yang mau bertransaksi melalui e-wallet mereka. 

mobile apps merubah cara bekerja (transaksi)

Begitu juga dengan bank. Dengan menjamurnya aktivitas jual beli online melalui smartphone, tentu bank tidak ingin ketinggalan ombak. Banyak bank yang mulai merambah ke sistem mobile banking. Sistem yang memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi perbankan. Mulai dari transfer uang, bahkan pembukaan rekening, bisa dilakukan via smartphone saja. 

Sekarang, konsumen dimudahkan dengan banyaknya metode pembayaran yang bisa untuk dipilih. Mulai dari mobile banking, hingga pembayaran secara konvensional di merchant rekanan platform e-commerce tersebut. Bahkan, yang paling booming akhir-akhir ini yaitu pembelian dengan metode cicilan dengan bantuan perusahaan fintech rekanan. 

Tentu fitur-fitur pada mobile apps mengubah cara bekerja banyak perusahaan dan juga konsumen. Kini konsumen hanya perlu menggerakkan jari untuk bertransaksi, perusahaan pun semakin mudah menjangkau konsumen melalui platform mobile apps yang dikembangkankan. 

Apakah ada dampak negatifnya?

Pasti ada dong. Meskipun mobile apps mengubah cara bekerja konsumen dan perusahaan secara positif, tetap saja ada hal negatif yang harus ditangani dengan baik. Simak beberapa dampak negatif di bawah ini:

  • Impulsive purchase meningkat

Dengan mobile apps mengubah cara bekerja konsumen, kini pilihan bertransaksi semakin beragam. Intinya, konsumen dipermudah dalam melakukan transaksi. Imbasnya, perputaran uang akan sangat cepat. Namun, jika dilihat dari sudut pandang konsumen, sebenarnya hal ini dapat memicu pengeluaran yang tidak perlu. Keuangan bocor, kata anak millennial. Hal itu terjadi karena kemudahan transaksi yang dapat dilakukan. Hanya dengan usapan jari, kamu bisa membeli barang yang kamu inginkan. Tentu ini tidak baik. 

  • Ancaman akan penyalahgunaan data konsumen semakin besar

Ketika banyak transaksi yang dilakukan via mobile apps, maka informasi / data yang akan terekam akan sangatlah banyak. Sejak hadirnya teknologi big data & artificial intelligence, perusahaan pemilik platform mobile apps, dapat melakukan analisis dari tiap aktivitas yang terekam dalam mobile apps. Nah, yang menjadi dilema adalah apakah perusahaan tersebut dapat menjunjung tinggi integritas dalam penggunaan data konsumen yang sesuai dan tidak merugikan? 

Faktanya, banyak perusahaan yang secara diam-diam menggunakan data konsumen tanpa sepengetahuan konsumen tersebut. Yang paling menghebohkan adakah kasus Facebook. Untuk lebih detail kasusnya seperti apa, kamu bisa cari sendiri di mbah Google, ya.

3. Gaya Hidup 

Harus banget ya ini dibahas? Hehehehe, baiklah. Kamu masih ingat tentang kebiasaanmu bangun tidur sebelum ada smartphone dan booming mobile apps? Seperti lagu, ya? Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Tetapi, lirik lagu tersebut berubah setelah kehadiran smartphone dan mobile apps. Seperti ini, kira-kira. Bangun tidur ku buka IG, tidak lupa update di story, habis mandi ku story lagi, membersihkan citra di IG. Hahahahahaha. Sudah terverifikasi jika mobile apps mengubah cara bekerja dari kamu bangun tidur hingga menjelang tidur. 

mobile apps merubah cara bekerja (gaya hidup)

Jika dipikir, lucu memang. Tetapi, tidak bisa kita hindari, itu semua memang sudah menjadi kebutuhan. Baik secara personal, maupun profesional. Ditambah lagi, kehadiran mobile apps, nyatanya mampu untuk membuka banyak lapangan pekerjaan baru. Tentu itu adalah dampak yang sangat positif. 

Ketika smartphone hadir, tidak ada yang tahu bawa perkembangan mobile apps mengubah cara bekerja, bahkan gaya hidup masyarakat. Kondisi tersebut, sering disebut dengan istilah era disrupsi. Kenapa? Karena perubahan gaya hidup masyarakat terjadi dengan cepat melalui cara yang radikal. Radikal? Serem dong? Eitss, berarti kamu belum tahu arti kata radikal, ya? Yuk, coba kurangi nonton tv atau youtube yang kurang berguna dan perbanyak membaca. Cara radikal disini adalah cara yang diluar dari kewajaran yang secara “ekstrim” mengubah cara pandang / cara kerja suatu sistem.

Dalam hal ini, gaya hidup masyarakat telah berubah secara cepat sejak menjamurnya platform mobile apps dengan cara yang cukup “ekstrim”; lewat smartphone. 

Potensi Mobile Apps bagi bisnis

Dari tadi membahas tentang mobile apps mengubah cara kerja baik bagi masyarakat pada umumnya, hingga perusahaan. Sebenarnya apa sih yang bisa terjadi pada bisnis, jika perusahaan mampu membangun mobile apps untuk kebutuhan konsumen? Simak penjelasan dibawah:

1. Cutting Value Chain

Ini lagi, ini lagi (buat yang sering membaca artikel dari SoftwareSeni pasti tahu kenapa hehehehe). Untuk yang belum paham mengenai value chain, coba dibaca dulu artikel dari Investopedia. Tetapi, kenyataannya kini banyak perusahaan yang berlomba-lomba dalam memangkas value chain mereka. Alasannya? Tentu saja karena semenjak kehadiran smartphone dan mobile apps, “Lambat” adalah kata yang kurang relevan. 

Salah satu langkah awal dari perusahaan dalam memangkas habis value chain pada bisnis proses perusahaan adalah pada tahap distribusi output (produk akhir) kepada konsumen. Contoh perusahaan yang sukses dalam memangkas value chain perusahaan adalah Netflix. Bagi yang belum tahu, pada awalnya, Netflix merupakan perusahaan rental CD / VCD / DVD fisik. Dengan keunikan, dimana Netflix menyediakan layanan antar CD / VCD / DVD kepada konsumen. 

netflix

Coba hitung waktu yang dibutuhkan konsumen hingga bisa menikmati CD / VCD / DVD yang mereka sewa. Beberapa jam, hingga CD / VCD / DVD diantar ke depan pintu rumah. Setelah perusahaan Netflix mengubah bisnis proses mereka secara radikal, kini konsumen dapat menikmati layanan film yang mereka sewa, tepat setelah mereka melakukan pembayaran (subscription). Bahkan, Netflix memberikan masa coba selama 1 bulan gratis. Ya, Netflix memanfaatkan website app dan mobile app untuk memastikan konsumen dapat menikmati layanan mereka dimanapun dan kapanpun. Konsumen tidak harus menunggu untuk bisa menikmati layanan. Cukup klik tombol putar, maka film yang dipilih akan langsung dimainkan. Semudah itu.

Netflix telah berhasil memangkas habis value chain perusahaan mereka. Konsumen diuntungkan, perusahaan pun diuntungkan. Win-win solution. Tetapi, untuk memangun sistem web app, hingga mobile apps, tidaklah murah. Netflix cukup pintar untuk memandang langkah tersebut sebagai investasi masa depan. Sehingga, kematangan produk, serta optimasi aplikasi dapat dilakukan dengan tepat. Hasilnya bisa dirasakan sekarang. 

Sayangnya, masih banyak perusahaan yang tidak berpikir matang-matang mengenai aplikasi web hingga mobile apps mereka. Akibatnya, mereka lebih cenderung untuk tergiur dengan harga murah saat melakukan proses software development, dibandingkan peluang untuk optimasi aplikasi di masa yang akan datang. Nah, ini lah yang menjadi jebakan batman saat perusahaan melakukan transformasi digital bisnis

Jangan sampai kamu dan perusahaan kamu terkena jebakan batman ini, ya! 

2. Meningkatkan level kepuasan pelanggan

Ketika perusahaan dapat menempatkan layanan mereka sedekat mungkin dengan konsumen, akan ada tendensi ketergantungan yang sulit untuk dihilangkan. Lihat yang terjadi pada Gojek & Grab. Kira-kira aplikasi apa yang akan kamu buka jika ingin memesan makanan secara online? Mungkin salah satu dari kedua mobile apps tersebut, ya? Apa jadinya ketika kamu memerlukan layanan mereka dan tiba-tiba mereka menghilang? Sedih? Hehehehehe. 

Meskipun banyak kasus yang sering bermunculan terhadap dua perusahaan Gojek & Grab, mulai dari fake GPS hingga masalah bonus bagi mitra mereka, perlu diakui cara mereka “masuk” kedalam saku konsumennya itu berhasil.

Disadari atau tidak, kehadiran mobile apps telah menjadikan perusahaan yang menawarkan produk berupa service / layanan / jasa menjadi lebih dekat dengan konsumen. Sekarang, konsumen, bahkan calon konsumen bisa menggunakan layanan perusahaan tersebut melalui usapan jari. Tentu hal ini bukan tanpa alasan. Aksesibilitas masyarakat terhadap smartphone & internet sudah mendukung perusahan service / layanan / jasa untuk menjangkau calon konsumen yang lebih luas. 

mobile apps meningkatkan level kepuasan pelanggan

Nah, yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengukur tingkat kepuasan pelanggan saat menggunakan mobile apps. Apakah hanya sekedar melihat dari banyaknya aplikasi tersebut terinstall di smartphone? Tentu tidak, bisa saja setelah menginstal lalu tidak pernah dipakai sama sekali. Lalu apa? Intensitas yang pengguna lakukan ketika berinteraksi dengan mobile apps adalah yang terpenting. Semakin lama konsumen “betah” dalam berinteraksi dengan mobile apps, hampir bisa dipastikan, konsumen semakin “puas” dengan layanan mobile apps yang suatu perusahaan sediakan. 

Untuk sampai sini sudah paham? Yuk lanjut. 

Selain itu, ketika suatu perusahaan “berhasil” men-deliver service / layanan / jasa secara digital melalui mobile apps, konsumen hingga calon konsumen memiliki tambahan 5 jam tiap harinya dalam mengakses  service / layanan / jasa perusahaan tersebut. “Semakin dekat dengan konsumen” bukan lagi isapan jempol belaka.

Kesimpulan (mobile apps mengubah cara bekerja) 

Mobile apps mengubah cara bekerja perusahaan dan masyarakat. Bukannya tanpa alasan. Aksesibilitas akan smartphone & internet menjadikan mobile apps sebagai salah satu cara menjangkau konsumen & calon konsumen yang lebih luas. Ditambah lagi, rata-rata pengguna ponsel di Indonesia menghabiskan 5 jam dalam menggunakan ponsel mereka. Sehingga, banyak perusahaan yang berlomba-lomba menciptakan mobile apps. Tetapi, fenomena tersebut memunculkan masalah baru. "Aplikasi sampah"

Mungkin akan muncul pertanyaan. Kenapa mobile apps? Ada 3 alasan mengapa. Pertama yaitu Google. Bahkan, Google menjadikan website yang mobile friendly menjadi prioritas untuk muncul di mesin pencarian mereka. Yang kedua adalah user experience (UX). Semenjak pengguna smartphone di Indonesia meningkat tajam, pengalaman pengguna dalam menggunakan web app / mobile apps menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Yang terakhir adalah aksesibilitas akan smartphone & internet di Indonesia.

Dengan statement “mobile apps mengubah cara bekerja”, kira-kira apa saja yang diubah? Yang pertama adalah distribusi informasi. Yang kedua adalah transaksi. Dan yang terakhir adalah gaya hidup. 

Nah, dari berbagai aspek kehidupan yang telah berubah sejak berkembangnya teknologi mobile apps. Ada 2 potensi yang diberikan oleh mobile apps pada bisnis. Pertama adalah cutting value chain. Dan yang kedua adalah dapat meningkatkan level kepuasan pelanggan. 

Namun, ada perusahaan yang menganggap mobile apps bukan urusan yang serius. Sehingga, alokasi dana yang diberikan untuk pengembangan software sangat terbatas. Padahal, low-cost software development sangat buruk bagi bisnis. Ada banyak aspek yang harus dipenuhi untuk mewujudkan mobile apps yang berkualitas dan mendorong pengembangan bisnis secara digital. 

Perlunya edukasi tentang keamanan data, hingga potensi pengembangan mobile apps jangka panjang nampaknya harus lebih digencarkan. Yuk, bantu SoftwareSeni agar bisa memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa teknologi itu bukan untuk dinegosiasi! Jangan lupa share artikel ini agar semakin banyak orang mengenal potensi mobile apps bagi pengembangan bisnis mereka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *