7 Kebiasaan Efektif Untuk Menghadapi Digital Transformasi

Tech
Published on October 9, 2018

Investasi Teknologi Baru

Transformasi digital adalah transformasi sumber daya manusia

Gunakan pendekatan customer-sentris

Buat tim baru

Memelihara kolaborasi bahkan setelah produk rilis

Selalu siap dengan perubahan

Adopsi mentalitas startup

Mendorong management buy-in (MBI)

Transformasi Digital Mengubah Peran Website

Kami hadir untuk membantu Anda
 

Teknologi-sentris sebagai mindset perusahaan untuk menghadapi transformasi digital adalah penyebab kegagalan yang utama. Mulailah untuk mengubah haluan dengan fokus pada kepuasan pelanggan.

Jika Anda seorang CIO yang siap menghadapi transformasi digital, atau pemilik bisnis skala menengah yang ingin memperluas pasar & produk Anda, artikel ini untuk Anda.

Menghadapi Digital Transformasi

Salah satu kompetensi yang disebut di buku bestseller Stephen Covey, “The 7 Habits of Highly Effective People” adalah memulai dengan tujuan akhir. Dihubungkan dengan konteks bisnis saat ini, perusahaan perlu mencari tahu apa arti transformasi digital untuk bisnis dan apa tujuan mereka, sebelum memiliki atau meluncurkan sejumlah teknologi baru ke target pasar yang tidak jelas.

Jika terlalu fokus pada kompetisi dan inovasi, serta menempatkan sebagian besar upaya Anda ke perkembangan teknologi, Anda mungkin saja akan kehilangan pasar.

Kita dapat ambil contoh kasus pada Foodpanda Indonesia, yang akhirnya gulung tikar. Perusahaan ini bukan tidak melakukan proses transformasi digital, akan tetapi terlambat melakukan antisipasi dan pemahaman mendalam pada kultur bisnis kuliner lokal.

Dikutip dari DailySocial, Foodpanda yang didesain khusus hanya untuk mitra dan melayani pengantaran jarak dekat, untuk menjaga kualitas, tak bisa bersaing melawan armada yang berbekal kantong plastik biasa dan tidak menggunakan kotak penyimpanan khusus selama perjalanan.

Apa lagi perusahaan yang tidak melakukan transformasi digital. Di tahun 2017 lalu kita sudah banyak melihat beberapa perusahaan retail besar yang gulung tikar. Mereka kalah bersaing dengan pesaing yang telah lebih dulu melakukan transformasi digital dengan e-commerce.

Investasi Teknologi Baru

Transformasi digital adalah integrasi teknologi digital ke dalam semua sektor bisnis, dan sangat penting bagi bisnis, semua jenis dan ukuran, untuk tumbuh dan sukses.

Teknologi, tentu saja, adalah pendorong utama. Proyeksi International Data Corporation (IDC) memperkirakan persentase perusahaan yang melakukan transformasi digital akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020, dari 22 persen menjadi 50 persen. Alokasi anggaran untuk digitalisasi pun meningkat dari 18 persen pada 2017, menjadi 28 persen tahun 2018 untuk perusahaan pada umumnya. Sementara untuk perusahaan-perusahaan besar, peningkatannya adalah dari 34 persen tahun ini menjadi 44 persen tahun depan.

Namun, sejumlah besar perusahaan tidak melakukan proses transformasi dengan tepat karena adanya kebingungan mendasar tentang apa transformasi digital sebenarnya, kata Brian Solis, analis utama dan futuris di Altimeter, dari Prophet.Inc Amerika.

Hasil riset Altimeter menemukan bahwa selagi perusahaan berinvestasi dalam teknologi inovatif, sebagian besar justru tertinggal atau gagal menanggapi ekspektasi konsumen karena “kurang literasi digital.” Laporan ini juga menemukan banyak perusahaan memiliki budaya sendiri dan “politik, ego dan ketakutan adalah hambatan utama dalam kolaborasi dan solidaritas yang diperlukan perusahaan untuk membuat perubahan yang diinginkan oleh konsumen digital.”

Menghadapi Digital Transformasi

Ketika perusahaan berorientasi pada inovasi teknologi, mereka tidak memahami apa itu transformasi digital yang sebenarnya. Brian Solis berpendapat banyak perusahaan dan CIO pada umumnya, jatuh ke dalam ‘perangkap teknologi.’ Artinya, mereka membangun pondasi digital dengan hal-hal baru.

“Ada konsepsi umum yang mengatakan jika kami menggunakan teknologi terbaru untuk pelanggan – dalam bentuk aplikasi web, aplikasi seluler atau chatbots, kami akan terbebas dari disrupsi.” Kata Brian, “dan saya pikir hal tersebut tidaklah buruk, namun merupakan jebakan yang lazim terjadi di proses evolusi transformasi digital.”

Untuk melihat bagaimana transformasi digital dilakukan dengan benar, berikut adalah tujuh kompetensi transformasi digital yang sangat efektif.

Transformasi digital adalah transformasi sumber daya manusia

Ketika Shamim Mohammad menjadi CIO sekaligus wakil presiden senior CarMax (perusahaan otomotif asal US) beberapa tahun yang lalu, “Saya tidak fokus pada transformasi teknologi, tetapi bagaimana diri kita mentransformasi kita sendiri… sehingga kita semua dapat bergerak dengan kecepatan yang sama.”

Sentimen yang sama juga diamini oleh James Lowey, CIO di TGen, yang mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam transformasi bisnis adalah membuat tenaga kerja bekerja semakin cepat dengan keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam perubahan ini.

“Memiliki tim sempurna yang selalu antusias dengan teknologi terbaru sangat membantu … karena sering kali, laju perubahan teknologi melebihi kemampuan pendidikan formal untuk mengimbanginya,’ katanya. “Saya percaya memiliki orang-orang yang bersemangat, ingin tahu dan termotivasi adalah kunci keberhasilan dalam strategi transformasi digital yang benar.”

Beberapa tahun yang lalu, Pitney Bowes (perusahaan ekspedisi berbasis teknologi asal US) mulai melakukan riset tentang pergerakan teknologi pada 10 bidang fungsional, termasuk seluler, data, analitik, pembelajaran mesin, API, SaaS, dan merancang pengalaman pengguna. “Kami menyadari penting bagi perusahaan untuk bergerak maju selain memiliki strategi teknis yang jelas, kami perlu memiliki strategi sumber daya manusia,’ ulas James Fairweather, wakil presiden senior teknologi dan e-commerce.

Kurikulum disusun melingkupi 10 area tersebut, dan setiap orang dalam perusahaan, sekitar 1.200 orang diminta untuk memilih salah satu dari 10 kurikulum tersebut dan berkomitmen untuk mempelajarinya selama satu tahun. James Fairweather mengatakan mereka telah membuat komitmen kepada karyawan untuk meningkatkan keterampilan dan aset kekayaan intelektual pribadi mereka.

Pergeseran pola pikir ini telah menggerakkan perusahaan jauh ke depan. “Kami memiliki 80 akuisisi selama 10 tahun terakhir tetapi… memiliki orang-orang yang telaten mendalami salah satu topik menciptakan banyak komunikasi silang, dan hubungan baru terbentuk ketika orang-orang saling mengenal satu sama lain. Kami mendapat manfaat yang luar biasa dari pelatihan proaktif,” kata James Fairweather.

Menghadapi Digital Transformasi

Gunakan pendekatan customer-sentris

Sementara dunia bisnis memiliki acuan ‘perubahan perilaku dan preferensi pelanggan’ sebagai penggerak utama transformasi digital, kurang dari 50% pelaku bisnis berinvestasi dalam memahami pelanggan digital, menurut laporan Altimeter.

“Beberapa memulai dengan benar melalui pendekatan luar-dalam,” kata Solis. “Mereka melihat sesuatu yang rusak atau hilang untuk memecahkan masalah,” dan kemudian melibatkan ROI dan indikator kinerja utama (KPI) ‘untuk menunjukkan kemajuan dan kesuksesan.’

Mereka juga fokus pada pengalaman pertama pelanggan. “Mereka memperhatikan perjalanan pelanggan (customer journey) atau bagian dari perjalanan tersebut; khususnya perjalanan seluler, dan mereka juga memperhatikan setiap peluang lebih besar yang muncul sehingga mereka dapat memenangkan peluang tersebut.”

Itulah yang ditemukan oleh Mohammad dari CarMax setelah tim eksekutif senior melakukan perjalanan safari teknologi ke West Coast Amerika, dan mengunjungi beberapa perusahaan yang sukses untuk belajar tentang teknologi dan ‘seni probabilitas seputar teknologi’,” kata Mohammad.

Salah satu kesimpulannya adalah mereka tidak harus selalu memenuhi apa yang diinginkan pelanggan. Meskipun CarMax memiliki situs web yang langsung berhadapan dengan pelanggan, dan membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan bagi sebuah fitur baru untuk diimplementasikan “karena tim tidak diatur dengan benar,” katanya. “Kami tidak memiliki skema terstruktur untuk kerja cepat.”

Buat tim baru

CarMax tahu konsumen menginginkan pengalaman yang lebih dari sekedar membeli mobil di situs webnya. Untuk melakukan itu, pihak management mengorganisir para karyawan menjadi tim-tim produk yang semuanya memiliki “tiga peran penting dan tidak dapat dirundingkan”: seorang manajer produk, seorang developer/engineer utama dan seorang pakar user experience. Mereka dilengkapi oleh anggota development, jaminan kualitas, keuangan, dan staff operasi lain dari 7 hingga 9 orang.

Satu ide yang ingin dicoba oleh manajemen adalah mengirim mobil ke rumah seseorang. Salah satu tim produk membangun aplikasi seluler dan kemampuan yang disematkan sehingga pelanggan dapat memesan mobil dari perangkat seluler dan mengirimkannya ke rumah mereka dalam beberapa minggu. Tim “tidak mencari solusi sempurna pada hari pertama; mereka mendapatkan ulasan dari pelanggan dan dengan cepat bekerja untuk membuatnya menjadi lebih baik,’’ Mohammad menambahkan.

Mobil pertama dikirim ke kota Charlotte, North Carolina USA, satu-satunya pasar dengan kemampuan itu sekarang.

Semua tim mengadakan “open house” selama dua minggu untuk memberi transparansi internal dan pembaruan tentang bagaimana mereka memenuhi target bisnis dan kebutuhan pelanggan.

Hasilnya, dengan tim yang tepat, dapat “memberikan ide hebat dalam hitungan jam: coba, lihat cara kerjanya dan buat jadi lebih baik. Ini adalah perubahan yang besar,’’ kata Mohammad.

Menghadapi Digital Transformasi

Pendekatan ini mirip dengan yang dilakukan John Deere (perusahaan alat berat untuk pertanian asal US), dimana para eksekutif menemukan cara untuk mengintegrasi visi perusahaan dengan sistem kerja yang terkoneksi dan cerdas. Ruang kerja seluas 660 meter persegi yang dijuluki ‘Foundry’, dibangun di salah satu pabrik perusahaan, dilengkapi dengan ketinggian meja yang lebih rendah, sehingga orang dapat berkolaborasi dengan lebih leluasa. Di sana, tim-tim baru akan disatukan untuk mempelajari metodologi agile dari para ahli yang akan memandu karyawan seperti sebuah siklus development.

“Kami mengadopsi metode agile karena itu membantu dalam membangun budaya pembelajaran di perusahaan, maka kami sekarang menggunakan siklus sprint” untuk mengembangkan produk setiap dua bulan, kata Ganesh Jayaram, wakil presiden TI di John Deere. “Kami memecahkan proyek dan mencoba menyelesaikannya dalam dua bulan. Kemudian kami mengevaluasi dengan berkata, “Apakah kami memenuhi harapan pelanggan?” Daripada menunggu berbulan-bulan atau bertahun-tahun berlalu sebelum kami membuat prototipe untuk solusi baru. ”

Langkah selanjutnya adalah membentuk tim karyawan yang berinovasi dengan serangkaian lokakarya untuk mendidik mereka tentang apa yang akan dibutuhkan oleh proses ini, kata Ganesh. “Ini cara yang sangat berbeda dalam bekerja. Untuk selanjutnya, kami mencoba bekerja dengan pendekatan dimana aplikasi, infrastruktur, dan unit bisnis dapat terintegrasi dan bekerja sama. ”

Berbagi informasi strategi antar perusahaan digital yang terhubung dilakukan melalui eksternal benchmarking dan wawancara internal untuk memastikan TI memahami apa yang CEO, dan beberapa rekan Ganesh di bidang fungsional, harapkan dari tim TI.

“Di masa lalu kami dianggap sebagai pusat pembiayaan,” katanya. “Ke depannya, kami akan berada di depan dan di tengah. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah John Deere yang kami pimpin untuk fokus pada apa yang dibutuhkan perusahaan. Kami mengambil mandat dan berkata, ‘Bagaimana membuatnya nyata bagi kami?’ ”

Memelihara kolaborasi bahkan setelah produk rilis

Ketika Pitney Bowes merancang kurikulum di bidang-bidang teknologi yang ditargetkan, pihak eksekutif juga membentuk tim strategi teknologi dan forum meja bundar inovasi skala global untuk mendorong kolaborasi yang lebih besar. “Semua tim berbagi praktek untuk menguji integrasi dan pengiriman berkelanjutan, sehingga semua aplikasi yang beralih ke digital mendapat benefit,” kata James.

Dengan bantuan dari trailblazing team, perusahaan menstandarisasi chain tool dan seperangkat best-practice yang kemudian diperluas dengan membangun komunitas di sekitar devops.

James menambahkan, manajemen percaya bahwa facetime adalah hal penting dan para eksekutif mendorong terjadinya interaksi tatap muka untuk mempererat hubungan antar tim yang terpisah secara geografis.

Menghadapi Digital Transformasi

Upaya kolaboratif terbukti membuahkan hasil. “Sebagai hasil dari sharing practices, kami telah mengidentifikasi kasus-kasus kegagalan yang umum terjadi dalam integrasi berkelanjutan, pengiriman dan praktik operasional kami – dan kemudian kami dapat melakukan perbaikan di seluruh tim,” ujar James.

Manajemen juga melakukan review terhadap program tersebut. James membagi salah satu umpan balik yang diberikan karyawan: “Daripada menjadi roda penggerak, lebih baik saya menjadi pemberi informasi yang baik. Bagian terbaik dari belajar bersama kolega adalah mendapatkan kontak baru. Kami menjadi lebih kuat secara organisasi global dalam menguasai 10 bidang ini karena kami berpengalaman.”

Selalu siap dengan perubahan

Dengan tenaga sales sebesar 25.000 orang, terjadi resistensi ketika raksasa industri GE mulai menerapkan teknologi digital ke dalam operasi penjualan globalnya. Namun, sebagian besar tidak mengubah cara mereka dalam memasarkan produk selama lebih dari 20 tahun.

“Kami memang memiliki penentang, tetapi jika Anda ingin mencoba melakukan perubahan dalam bentuk apa pun, jangan pedulikan mereka,” kata Cate Gutowski, wakil presiden GE Commercial dan digitalTHREAD.

Cate menjelaskan lebih lanjut, “Ketika Anda melakukan hal itu, sebenarnya Anda mengumpulkan sekelompok early adopters dan inovator,”. Dia juga percaya teori Law of Innovators, dari buku Start with Why, yang mengatakan bahwa untuk merubah inisiatif menjadi suatu tindakan – perlu mengidentifikasi para inovator, yang merupakan 2,5% dari prosentase. “Jika Anda fokus pada grup itu, Anda dapat menciptakan pengaruh dan mendorong semua jenis perubahan,” katanya.

Dia juga mengakui, untuk menggerakkan transformasi bukanlah pekerjaan untuk orang berhati lemah, tetapi sebaliknya, hanya untuk yang bermental baja.

Gutowski juga belajar bahwa “Anda harus terlebih dahulu membiasakan diri pada perubahan, mudah memaafkan saat terjadi kesalahan dan Anda juga harus merasa nyaman untuk terus-menerus merasa tidak nyaman.” Mendapatkan dukungan dari tim kepemimpinan GE, tentu saja sangat membantu. Lalu dia berhasil mendapatkan tenaga sales profesional dengan melakukan banyak crowdsourcing, serta mendengarkan umpan balik dari pelanggan tentang apa yang mereka inginkan.

Adopsi mentalitas startup

Pada tahun 2014, operator prabayar AT&T merger dengan Cricket Wireless. Dua perusahaan prabayar yang saling bersaing perlu bertransisi menjadi satu pemain nasional besar.

Seperti John Deere dan CarMax, Cricket Wireless juga mengadopsi agile model, kata Darin Morrow, wakil presiden dan CIO. Dengan demikian, perusahaan dapat beroperasi dengan “gesit dan penuh integritas, memastikan semuanya berjalan dengan benar.”

Ketika perusahaan semakin besar, beberapa departemen atau sektor tertentu cenderung tidak bersedia atau tertutup untuk berbagi informasi dengan departemen lain, menciptakan mentalitas silo, ujarnya. “Mentalitas startup membantu meruntuhkan tembok-tembok itu dan mendorong komunikasi antar tim.”

mentalitas startup

Dikutip dari Tech in Asia, startup biasanya memiliki ruang gerak yang lebih luas dan lebih bebas mengambil risiko serta bertindak cepat tanpa harus memikirkan protokol atau birokrasi perusahaan. Kultur seperti ini mendorong terciptanya inovasi dalam perusahaan.

Mendorong management buy-in (MBI)

Agar berhasil dalam transformasi digital, setiap tingkat kepemimpinan dalam suatu organisasi perlu dilibatkan dalam perubahan — mulai dari anggota eksekutif hingga manajemen tingkat menengah dan bawah. Setiap orang di dalam organisasi memiliki seperangkat keterampilan dan pengalaman unik, dan semua harus berkontribusi pada transformasi digital perusahaan.

    • Anggota dewan (board member): Meskipun dominasi dewan bervariasi antar perusahaan, dalam banyak contoh transformasi digital, anggota dewan memiliki kesempatan untuk memulai atau mendukung inisiatif perubahan digital. Terutama dalam kasus di mana organisasi harus mempertimbangkan atau melakukan restrukturisasi mendasar, sangat penting untuk anggota dewan memahami dan percaya pada inisiatif tersebut.

 

    • C-suite: C-suite adalah sekumpulan pejabat, tetapi transformasi marketing umumnya dipimpin oleh CMO. Seiring waktu, kedudukan CMO semakin kuat, memfasilitasi proses reformasi karena mempertahankan kepemimpinan yang konsisten membantu dalam keberhasilan penyelesaian proyek.

      Proses transformasi digital memiliki banyak ketidakpastian, dan seperti perubahan hebat lain, hal ini pasti membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang semula direncanakan. Untungnya, durasi sebagian besar masa jabatan CMO saat ini memungkinkan penerapan perubahan strategi digital tanpa kendala.

 

    • Manajemen atas tingkat (upper level): Menurut penelitian Econsultancy, manajemen tingkat atas (yang terdiri VP dan EVPs) adalah level paling sukses dari tingkatan manajemen dalam hal integrasi digital. Ini mungkin karena keberadaan “digital natives” pada tingkat ini di banyak perusahaan. Selain itu, sebagian besar orang yang memicu inisiatif pendidikan digital dalam perusahaan berada di level VP/EVP.

 

  • Manajemen tingkat menengah ke bawah (mid-lower level): Anggota organisasi yang lebih muda dapat menawarkan perspektif baru yang berharga tentang inovasi digital dan implementasi strategi. Meskipun memiliki lebih sedikit pengalaman dan permasalahan senioritas, mereka memiliki kemampuan unik untuk mendorong pemikiran “out-of-the-box”, menawarkan ide-ide yang tidak terpikirkan oleh para eksekutif.

Perusahaan yang benar-benar ingin merangkul era digital harus fleksibel, mudah beradaptasi, dan mau belajar dari generasi yang lebih muda.

Menghadapi Digital Transformasi

Transformasi Digital Mengubah Peran Website

Salah satu pertanyaan utama yang harus ditanyakan oleh perusahaan adalah bagaimana website atau aplikasi web mencapai visi bisnis saat ini dan yang akan datang.

Dulu memiliki website hanya untuk menaruh informasi perusahaan atau organisasi Anda di dunia internet. Saat ini website atau aplikasi web harus dirancang untuk memecahkan masalah, tidak hanya berfungsi dan terlihat cantik, karena proses development semakin rumit dan saling terintegrasi dengan banyak pihak untuk membuatnya bekerja dengan maksimal.

Baca tulisan ini untuk memahami tahapan pembuatan aplikasi web dan peran setiap orang yang terlibat di proses tersebut.

Entah Anda menjalankan perusahaan besar atau UKM, adalah suatu keharusan untuk memiliki website atau aplikasi web untuk menghadapi transformasi digital dan meningkatkan pengalaman pelanggan. Dengan kata lain, website memainkan peran penting dalam transformasi digital.

Sayangnya, salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan perusahaan selama masa transisi digital adalah mengabaikan kekuatan website atau aplikasi web. Terlepas dari apa kata sebagian orang, website adalah aset terbesar bagi bisnis digital, dan karena itu harus tangguh, dinamis, dan menarik agar bisnis dapat mencapai kesuksesan.

Memiliki website atau aplikasi web juga merupakan langkah penting dalam meningkatkan cara perusahaan melibatkan dan berkomunikasi dengan pelanggan. Caranya dengan mengintegrasikan semua saluran web dan seluler untuk memastikan konsistensi di seluruh titik kontak pelanggan.

Bisnis kecil dan menengah dan harus cepat menyadari bahwa memiliki website menciptakan dunia baru yang penuh dengan kreativitas dan inovasi, yang pada akhirnya memiliki dampak signifikan pada pertumbuhan bisnis.

Sebagai bagian dari strategi bisnis, website atau aplikasi web memiliki peran baru untuk dimainkan; ia harus dikembangkan dengan penuh pertimbangan dan konfigurasi khusus untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Memang lebih muda jika hanya melakukan revamp website, seperti mengubah template saja, namun hal ini tidak selaras dengan apa yang benar-benar dibutuhkan untuk jangka panjang.

Ponsel juga bagian penting dari strategi ini; lebih dari sekedar memastikan website Anda terlihat bagus di perangkat seluler atau mengubah ukuran website di layar, tetapi memang membangun aplikasi mobile dari nol. Membuatnya benar-benar responsif – bukan hanya bagus untuk dimiliki, tetapi juga esensial.

Menghadapi Digital Transformasi

Isi aplikasi itu dengan konten yang diperbarui secara rutin, relevan dengan pelanggan Anda, bawa mereka ke dalam customer journey yang berkesan, dan yang terakhir – user friendly – adalah suatu kewajiban.

Kami hadir untuk membantu Anda

Transformasi digital adalah suatu keharusan karena TI tidak lagi hanya sebatas infrastruktur semata; namun telah menjadi inti dari strategi baru dan katalis untuk pertumbuhan.

Di SoftwareSeni, kami adalah sekumpulan profesional yang membantu pemilik bisnis untuk mencapai target bisnis dan melampaui visi mereka.

Tim kami terdiri dari karyawan yang bersemangat dan berdedikasi, tahu persis apa yang dibutuhkan untuk mensukseskan bisnis Anda, baik untuk perusahaan kecil, menengah, atau besar.

Hubungi kami hari ini untuk menemukan semua hal tentang pembuatan website yang kreatif dan efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *