Kesuksesan Gojek menjadi startup Indonesia yang berhasil menyandang gelar Decacorn pada tahun 2019, turut menambah animo masyarakat untuk membuat perusahaan startup yang tidak kalah menarik. Dengan harapan, bisa sebesar Gojek. Atau bahkan lebih besar. Tetapi, faktanya ada lebih dari 90% perusahaan startup GAGAL hanya dalam waktu 1 tahun beroperasi, bahkan kurang. Kira-kira, apa penyebabnya? 

Tentunya tidak semua kasus gagalnya perusahaan startup bisa disama ratakan. Sama perihalnya mengenai cara bisnis perusahaan startup. Yang menjadi masalah adalah persepsi masyarakat tentang perusahaan startup. Kebanyakan masyarakat menganggap semua perusahaan IT adalah startup. Padahal, bukan demikian. 

Yuk, mulai perbaiki persepsi tentang perusahaan startup. Dari dasar dulu, ya. 

Apa Itu Startup? 

Perusahaan Startup memang sedang naik daun. Tetapi, apa sih sebenarnya arti dari perusahaan startup? Jawabannya adalah tidak ada penjelasan yang cukup valid akan hal ini. Tetapi, ada beberapa referensi yang bisa menjadi acuan untuk bisa memahami tentang perusahaan startup. Dalam website Startups.com, ada banyak sekali pengertian tentang startup dari berbagai perspektif. 

Menurut Eric Ries (The Creator of Lean Startup Methodology), perusahaan startup adalah perusahaan yang didesain untuk menciptakan produk atau jasa baru dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Maksudnya apa?

Jadi begini, perusahaan startup adalah perusahaan yang mencoba untuk mendobrak pasar dengan produk / jasa baru. Nah, kata “mendobrak” ini akan menimbulkan dua reaksi. Yang pertama adalah sukses menembus pasar / market penetration succeed. Yang kedua adalah terpental karena tidak mampu untuk mendobrak pasar. Mirip seperti hukum newton 3. Aksi = Reaksi.

Dari kata “membuat produk / jasa baru”, kamu bisa melihat bahwa perusahaan startup itu tidak melulu tentang IT. Mungkin kebanyakan masyarakat menilai bahwa semua perusahaan yang memiliki produk SaaS (Software as a Service) adalah perusahaan startup. Padahal, bukan begitu. Perusahaan startup itu memiliki arti yang lebih general dari itu (perusahaan IT). Bisa pada bidang pertanian, perikanan, pariwisata, dan masih banyak lainnya.

Kamu pasti pernah mendengar nama GoPro. Ya, produk kamera dengan segmen pasar yang cukup niche. Pada awal dikembangkan, tentu perusahaan GoPro adalah sebuah startup. Mereka melihat ada kekosongan pasar pada industri kamera. Adventure. Memang, kamera bukanlah sebuah produk yang benar-benar baru, tetapi GoPro sanggup membuat inovasi sehingga pasar mampu melihat produk kamera GoPro sebagai sesuatu yang baru. Segmen kamera yang berhasil dipopulerkan yaitu pada kategori action cam.

Itu hanya 1 dari begitu banyaknya perusahaan startup yang cukup sukses. Sehingga, lambat laun, kata “startup” sudah tidak lagi relevan untuk perusahaan mereka.

Untuk mempermudah pembahasan pada bagian ini, bisa dikatakan bahwa TIDAK semua perusahaan rintisan adalah perusahaan startup. Perusahaan startup harus menciptakan produk / jasa “baru”. Jadi, kalau ada perusahaan rintisan yang “ikut - ikutan” dalam menciptakan produk / jasa yang sudah ada di pasar, apakah status sebagai perusahaan startup masih relevan? Entahlah. Toh tidak ada standarisasi khusus perihal status “startup” pada suatu perusahaan. Sah-sah saja bagi setiap founder untuk menamai perusahaan sebagai startup. 

Padahal, tidak mudah loh mengemban status perusahaan startup. 

Masih tertantang untuk membuat perusahaan startup? Yuk Buat, siapa takut!

Cara Membuat Perusahaan Startup

Dalam proses membuat perusahaan startup, sedikitnya ada 5 elemen yang setidaknya ada dalam perusahaan startup. Yuk simak pembahasan dibawah ini!

1. Idea

Idea adalah salah satu elemen termahal dari perusahaan startup. Dari munculnya suatu idea unik, yang mungkin dapat memecahkan masalah yang ada dimasyarakat, dapat berubah menjadi produk yang bernilai fantastis. Tentu menarik. Siapa yang tidak ingin memiliki idea yang bisa dijual dengan nominal yang jumlahnya tidak sedikit. Tetapi, percayalah. Menjadi pioneer dalam mengembangkan pemikiran yang bernilai itu tidak gampang. 

Sikap kritis, analitis dan realistis itu harus ada. Kenapa? 

Yang pertama. Kenapa kritis? Dalam melihat suatu masalah secara menyeluruh. Misalnya, pada kasus macet Jakarta, apakah banyaknya volume kendaraan roda 4 adalah pemicu utama kemacetan? Apa justru kebiasaan pengguna jalan yang tidak tertib? Atau bahkan karena hal lain? Tentu masalah macet Jakarta tidak bisa dilihat dengan satu perspektif saja. Jika itu terjadi, ada kemungkinan, masalah inti yang memicu kemaceta di Jakarta tidak tersentuh. 

Pada suatu kasus, akan memiliki beberapa masalah. Namun, dari masalah-masalah tersebut terdapat 1 masalah inti. Jika masalah inti dapat ditangani dengan baik, maka ada poteni masalah-masalah lainpun akan reda. Nah, inilah yang dicari. 

Ada satu tool yang bisa kamu pakai untuk melatih cara berpikir kritis, yaitu Fishbone / Ishikawa Diagram. Apalagi itu?

Jika menggunakan fishbone / ishikawa diagram ini, kamu bisa melihat causal effect pada suatu kasus dengan lebih gamblang. Misalnya, banjir jakarta. Efeknya adalah banjir. Pemicunya? Banyak hal. Misalnya, gorong-gorong yang tersumbat sampah. Tetapi, apakah itu masalahnya? Bisa saja bukan. Mungkin karena orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Eits, tetapi, pasti ada alasan kenapa masyarakat gemar / hobi membuang sampah sembarangan. Mungkin karena akses terhadap tempat sampah umum yang kurang. Atau mungkin karena eduksi masyarakat yang masih terbatas. Atau mungkin memang dengan membuang sampah sembarangan itu bisa membuat orang-orang bahagia? 

Analisa dengan fishbone / ishikawa diagram untuk melihat, pemicu apa sih atau bisa dibilang root of problem. Macam mana sih penampakan fishbone / ishikawa diagram? Begini loh wujudnya.

fishbone / ishikawa analysis membuat perusahaan startup

Sudah tahu kan bentuknya? Jadi, yuk mulai berpikir kritis. Hehehehehe

Yang kedua adalah analitis. Kamu kira, setelah bertemu dengan masalah pemicu, sudah selesai? Tidak semudah itu Ferguso. Hahahahaha. Analisis masalah pemicu perlu dilakukan. Mulai dari alternatif solusi, hingga kemungkinan masalah terburuk yang bisa muncul. Semuanya dianalisis. Memang tidak mudah, dan memakan banyak waktu. Tetapi, percaya deh, hasil analisis yang kamu pegang bisa menjadi dasar idea yang kuat. 

Latar belakang terbentuknya produk, hingga urgency dari suatu masalah. Itu selling point dari idea kamu.

Yang jelas, idea yang kamu buat itu tidak boleh hanya sebatas opini. Semuanya harus terukur dan teruji secara empiris. Kamu harus bisa membenturkan hipotesa masalah dengan idea yang kamu miliki. Hasil analisis harus bisa membuktikan bahwa benar atau setidaknya terbukti, jika idea kamu memang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah. 

Biasanya, dilakukan dengan survey, hingga experiment secara terukur. 

Misalnya, kamu sudah penat dengan banjir Jakarta. Setelah menggunakan fishbone diagram, kamu melihat ternyata ada 1 penyebab banjir yang harus segera dituntaskan. Akses pada tempat sampah umum. 

Nah, untuk menguji, apa benar, akses tempat sampah umum itu benar-benar terjadi, dan butuh segera ditangani. Kamu melakukan uji lapangan. Menginterview masyarakat yang “ketahuan” sedang berbagi sampah dengan jalanan. Ternyata benar, akses terhadap tempat sampah lah yang menyebabkan prilaku membuang sampah sembarangan. 

Semua orang tahu, sharing is caring. Tetapi, tidak dengan sampah!

Dari hasil analisis yang kamu dapatkan, kamu memiliki ide untuk menyediakan aplikasi dan tempat sampah “pintar”. Tentu saja itu keren! Namun, kamu tidak boleh gegabah untuk mewujudkannya.

Realistis. Ya, idea yang kamu miliki harus memiliki tingkat implementasi yang realistis. Maksudnya apa? Jadi begini loh, idea / solusi yang kamu tawarkan harus bisa dipakai, dijangkau, dan masuk akal. Coba perhatikan dua solusi di bawah:

1. Masalah banjir itu karena masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan. Yuk lakukan brainwash / hipnotis masal, biar tidak ada lagi orang-orang yang membuang sampah sembarangan.

2. Masalah banjir itu karena masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan. Ternyata itu karena akses tempat sampah yang sulit. Masih jarang jumlahnya. Yuk, bangun aplikasi pencari tempat sampah terdekat & buat tempat sampah jadi lebih menarik dengan teknologi IT. Menurut survey yang dibuat sih, masyarakat punya kecenderungan positif terhadap solusi tersebut.

Coba bandingkan, mana solusi yang paling realistis? Please jangan jawab yang brainwash ya! Hahahahaha.

Tentu jika dilihat dari dua pilihan di atas, tentu opsi B lebih masuk akal dan realistis. Bukan karena pemanfaatan IT, ya. Tetapi, itu karena dengan implementasi opsi B, optimasi solusi dapat terukur. Bayangkan jika opsi A yang dipilih. Ukuran apa yang bisa dipakai untuk menghitung optimasi solusi yang dipakai? Tidak ada angka. Seperti itu kira-kira.

2. Tim

Percaya atau tidak, perusahan besar di dunia, kecuali Warren Buffett, setidaknya para Founder perusahaan memiliki satu sampai dua co-founder. Artinya apa? Sebagian besar, pendiri perusahaan, merasa membutuhkan partner / tim untuk membangun empire yang hebat. Namun, menemukan partner / tim itu tidak mudah. Pastinya. Hahahahaha.

cara memilih co-founder | membuat perusahaan startup

Faktanya, berdasarkan data dari cbinsights.com, sekitar 13% perusahaan startup yang gagal terjadi karena tidak harmonisnya tim dalam perusahaan. Artinya apa? Memilih tim / partner dalam membuat perusahaan startup tidak bisa yang hanya sekadar “ah dia pintar”, “ah dia mampu” dan lainnya. Padahal, dalam menjalani bisnis dalam perusahaan startup, keharmonisan tim itu sangat diperlukan. 

Kenapa?

Apakah kamu masih ingat dengan opini Eric Ries (The Creator of Lean Startup Methodology), perusahaan startup adalah perusahaan yang didesain untuk menciptakan produk atau jasa baru dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi? Nah, ada kata tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam membuat perusahaan startup. Namun, dengan memiliki tim yang harmonis tingkat ketidakpastian yang tinggi dapat di bagi rata. Beban tidak akan timpang sebelah. Memang terlihat simple ya? Tetapi, jika kamu sudah berkecimpung dalam perusahaan startup, barulah kamu bisa mengerti kenapa memilh tim / partner dalam membuat perusahaan startup itu penting. 

Lalu, bagaimana cara memilih tim / partner yang cocok?

Tidak ada standar khusus dalam “tutorial memilih co founder yang benar”. Tetapi, Bruce Eckfeldt yang merupakan founder & CEO dari E&A, menuturkan ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan dalam memilih tim / co-founder yang tepat.

Tentukan Nilai Inti dari Perusahaan

Biasanya, dalam menciptakan nilai / value pada perusahaan startup, nilai / value yang dibawa oleh founder sangatlah berperan besar. Kenapa? Dalam menciptakan ekosistem yang “unik” dalam perusahaan startup, karakteristik personal & profesional seorang founder akan menentukan bagaimana bisnis perusahaan startup akan berjalan. 

Nah, bukan hanya itu. Sepak terjang founder pun akan berperan besar akan hal ini. Kenapa? Tentu saja stakeholder perusahaan startup, dalam hal ini termasuk co-founder, akan tau seberapa jauh optimisme founder dari perusahaan startup yang dibangunnya. Untuk apa masuk kedalam perusahaan startup jika si founder memiliki sepak terjang yang negatif / merugikan. Bukankah begitu?

Tentu saja, karakteristik & sepak terjang founder perusahaan startup bukanlah satu-satunya faktor yang bisa menentukan value & nilai inti dari suatu perusahaan. Butuh kesepakatan antar stakeholder agar terjadi harmonisasi argumen. Sehingga, pada implementasi value & nilai inti perusahaan tidak menjadi ambigu. 

Misalnya, Gojek, perusahaan tersebut melakukan highlight pada kata “Cerdikiawan”. Yang menuntun para konsumen dan stakeholder Gojek lainnya (shareholder, employee, dll) memiliki persepsi bahwa mereka adalah cerdikiawan. Cerdas melihat peluang, cerdas menyelesaikan masalah, dan lainnya. Itu berhasil. Tetapi, dalam menentukan nilai inti dari perusahaan Gojek, tentu harus melihat dari sisi helikopter. Lihat seluruh aspek perusahaan. Apa nilai pembeda yang bisa perusahaan junjung sebagai identitas dan diversifikasi ide.

Jika kamu sanggup mencari orang yang sanggup dan meyakini value & nilai inti dari perusahaan startup, mereka bisa kamu jadikan  kandidat sebagai co-founder yang sesuai.

Tentukan Batas “Anti-Value” Yang Bisa Ditoleransi

Meskipun kamu sudah menemukan tim yang bisa “menerima” value & nilai inti dari perusahaan startup mu, tetap saja mereka adalah manusia. Ada satu dua pandangan yang akan berbeda. Contoh yang paling mudah. Perbedaan business principal dengan co-founder. Founder  menginginkan valuasi setinggi-tingginya, sedangkan co-founder menginginkan profitabilitas setinggi-tingginya. Profit dan valuasi adalah dua hal yang berbeda. Nah, apakah hal tersebut bisa ditoleransi atau justru akan mengganggu kestabilan perusahaan. 

Banyak perusahaan startup yang gagal juga karena masalah ketidakharmonisan antara  founder & co-founder. Maka dari itu, hal penting bagi kamu, nilai-nilai apa yang bisa kamu tolerir sebagai founder. Terdengar otoriter, ya? Hahahahaha. Tetapi jangan salah, pada awal sebelum melakukan rekrutmen untuk tim yang lebih banyak lagi, harus ada satu kepala yang membuat keputusan loh. Apalagi jika mengingat perusahaan startup memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Harus ada satu orang yang siap untuk mengambil risiko. Bukan begitu?

Diskusikan Bagaimana Kamu dan Co-Founder Menangani Kondisi Yang Tidak Terduga

Kamu sudah tahu tentang kondisi kebanyakan perusahaan startup yang mana tingkat ketidakpastiannya tinggi. Nah, hanya ada dua kondisi untuk menggambarkan kondisi kesehatan perusahaan. Sakit lalu mati, atau sehat lalu terbang tinggi. Ketika kamu membuat perusahaan startup, tentunya yang perlu dipikirkan itu bukan hanya perihal produk saja, tetapi juga perihal bisnis.Oleh sebab itu, perlunya bertukar pikiran dengan orang yang sekiranya “cocok” untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dalam menentukan entry strategy dan exit strategy.

3. Prototype & Produk

Produk hadir sebagai perantara kamu dalam melakukan delivery idea dan nilai. Oleh sebab itu, kamu benar-benar teliti dan berhati-hati dalam mengembangkan produk sebagai media dalam mendemonstrasikan idea dan value perusahaan kamu.

Biasanya, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan membuat prototype. Nah, kamu sudah tahu jika perusahaan startup itu tidak melulu tentang perusahaan IT, kan? Namun, untuk bagian ini, perusahaan startup yang menjadikan Saas (Software as a service) akan digunakan sebagai contoh. 

MVP | minimum viable product | membuat perusahaan startup

Dalam proses software development, ada istilah MVP dalam membangun produk software. Apa itu MVP? MVP merupakan akronim dari Minimum Viable Product. MVP merupakan sebuah konsep dari lean startup yang menekankan pada pembelajaran dalam pengembangan produk baru (new product development). Menurut Eric Ries, MVP merupakan sebuah versi dari produk baru yang memberikan keleluasaan pada tim development untuk mendapatkan hasil maksimum yang valid mengenai target konsumen dengan usaha yang minimal. 

Misalnya, kamu berencana untuk mengembangkan aplikasi pendeteksi tempat sampah. Mari kita namakan “TrashMe”. Tujuan akhir dari aplikasi ini adalah untuk merubah kebiasaan masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Nah, fitur akhir yang ingin dicapai dari aplikasi ini adalah dengan menyediakan jasa pembuangan sampah yang akan mengambil sampah rumah tangga tiap minggunya. Metode pembayaran yang akan digunakan untuk menggunakan jasa ini adalah dengan tipe subscribe.

Tetapi, sebelum aplikasi full feature dari “TrashMe” ini diluncurkan, tentu perusahaan perlu tahu, dimana lokasi yang memiliki tendensi / kecenderungan membuang sampah sembarangan karena kurangnya fasilitas tempat sampah umum atau jasa pembuangan sampah. Nah, untuk membaca kebiasaan masyarakat, perusahaan cukup menyediakan MVP. MVP dengan fitur seperti pencarian tempat sampah terdekat, hingga mencari jasa pembuangan sampah. Namun, belum sampai tahap menyediakan layanan pembayaran dalam sistem serta fitur penunjang lainnya.

Intinya, usahakan fitur dalam MVP seminimal mungkin dengan kapasitas pemenuhan kebutuhan sebanyak mungkin.

Tunggu, kok udah sampe pembuatan produk MVP? Kamu pasti sedang berpikir “Padahal, aku tidak ada background IT, mana bisa hamba ini membuat produk aplikasi / software begitu”.

Tenang shay, apakah kamu sudah tahu jika ada dua metode dalam membuat software / aplikasi, loh? Simak penjelasan berikut ini, ya!

- Insourcing

Ini untuk kamu yang punya kapabilitas untuk membangun software / aplikasi sendiri, ya. Entah itu karena kamu adalah seorang software engineer, atau karena partner & tim kamu adalah software engineer yang handal. Tetapi, kamu perlu membuat perhitungan modal dalam membuat software / aplikasi tersebut loh. Misalnya saja internet, laptop, tempat akomodasi, makan, minum, dan biaya fix & variabel lainnya yang tidak kamu sadari. Belum kalau mati lampu, atau jika internet mati, atau bahkan jika tim kerjamu ada yang liburan. Haduh, bisa-bisa melesat dari target. Namun, jika kamu sanggup, kamu hebat! 

Untuk yang tidak sanggup membangun produk software / aplikasinya sendiri, jangan bersedih. Ada metode kedua yang bisa jadi solusi asik buat kamu!

- Outsourcing

Melakukan setup perusahaan startup itu tidak mudah. Banyak sekali hal krusial yang butuh kamu tangani. Mulai dari pematangan ide bisnis, konsep bisnis, strategi bisnis, hiring team, pitching investor, dan hal lainnya. Nah, ketika kamu sudah memiliki idea produk, brand, flow produk, dalam hal ini software / aplikasi, ada baiknya kamu untuk mempertimbangkan pengembangan awal produk MVP kamu pada Software House profesional yang sudah berpengalaman dalam membangun software / aplikasi.

Tetapi, kamu juga perlu hati-hati dalam memilih Software House. Apalagi jika produk software / aplikasi tersebut merupakan core business perusahaan. Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah. Yuk simak 4 cara memilih Software House yang tepat!

Kamu tidak usah khawatir jika produk yang kamu buat akan diduplikasi / dijual kembali oleh Software House. Software House professional seperti SoftwareSeni contohnya, akan ada surat perjanjian confidential agreement untuk memastikan data klien tidak tersebar / dijual kepada pihak ke-3. Selain itu, ketika produk software / aplikasi sudah jadi, seluruh asset, baik source code hingga aset yang lain akan diserahkan sepenuhnya kepada klien. Sehingga, Intellectual Property Ownership dari produk software / aplikasi tersebut adalah jelas. 

Gimana? Kamu sudah tahu 2 cara yang bisa dipilih dalam membangun produk software / aplikasi. Jadi, pilih yang mana? Yang jelas kedua cara di atas akan memakan “biaya” yang kurang lebih sama.

4. Legalitas

Legalitas perusahaan startup itu penting. Kenapa? Idea! Ya, idea itu mahal. Kamu harus punya legalitas yang jelas akan produk yang kamu miliki. Daftarkan brand kamu kepada HAKI untuk menghindari plagiarism dan lain sebagainnya. Selain itu, pastikan legalitas perusahaan jelas dan memiliki no. NPWP. Taat pajak, ya! Apalagi jika perusahaan startup milikmu sudah memiliki revenue yang harus dilaporkan. 

legalitas dalam membuat perusahaan startup

Tetapi, untuk di Indonesia sendiri memang hal ini menjadi memiliki tingkat kerumitannya sendiri. Birokrasi yang terbilang membingungkan kerap memicu kata “ogah” bagi para founder perusahaan startup untuk memastikan legalitas perusahaan mereka jelas. Namun, kamu harus tetap memperjuangkan legalitas perusahaan kamu, ya! Jangan sampai hal ini yang justru akan jadi penghalang perusahaan untuk berkembang. 

Nyatanya masyarakat Indonesia masih kurang peduli dengan legalitas. Sehingga, banyak perusahaan startup yang ilegal mampu mengelabui konsumen. Akibatnya? Konsumen yang dirugikan. Paling banyak adalah pada model investasi bodong, binary option, dan lainnya. Jadi, pastikan legalitas perusahaan kamu jelas. Baik untuk konsumen, baik juga untuk perusahaan. Win-win solution pastinya.

Ada 6 dokumen legalitas perusahaan startup yang perlu kamu ketahui.

1. Akta pendirian usaha

2. NPWP badan usaha

3. Surat Izin Usaha Perdagangan(SIUP)

4. Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP)

5. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

6. Merek Dagang / Copyright

Banyak ya? Tenang, kamu bisa mengurusnya sambil berlari kok. Yang jelas, pastikan legalitas perusahaan tidak mengganggu perkembangan bisnis kamu.

5. Strategi Bisnis

Setiap perusahaan punya caranya sendiri untuk stand out from the crowd. Nah, untuk bagian ini kayaknya bakal lebih seru untuk dibuat part terpisah. Kenapa? Biar analisis bisa lebih dalam lagi. Kalau digabung dalam artikel ini, nanti jadi panjang sekali. Kisi-kisinya itu adalah pembahasan secara asik tentang valuasi dan profitability dan kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh perusahaan startup. Udah, ya. Kasihan kamu bacanya. Hehehehe. Tunggu Part 2 untuk strategi bisnis perusahaan startup, ya!

part 2 | strategi bisnis dalam membuat perusahaan startup

Kesimpulan 

Kata siapa membuat perusahaan startup itu mudah. Persepsi yang masih amburadul tentang perusahaan startup juga menyumbang suara sumbang akan citra bisnis ini. Perusahaan IT itu startup, ya? Memang sebagian besar masyarakat masih berpikir demikian. Tetapi, faktanya bukan demikian. Tidak semua perusahaan IT adalah startup. 

Lalu, kenapa 90% perusahaan startup gagal? Sesusah itukah? 

Pertama, kamu harus tahu bahwa tidak ada standar khusus mengenai bagaimana suatu perusahaan dapat dinamai perusahaan startup. Jadi, suka-suka si empunya perusahaan. Tetapi, menurut Eric Ries (The Creator of Lean Startup Methodology), perusahaan startup adalah perusahaan yang didesain untuk menciptakan produk atau jasa baru dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Balik lagi, itu hanya lah opini.

Nah, sebenarnya, jika kamu menghitung perusahaan startup berdasarkan penjelasan dari Eric Ries tadi, mungkin jumlahnya tidak sebanyak yang diklaim. Jauh lebih ramping. Dan tentunya, perhitungan rasio gagal sukses perusahaan startup 90 10 sudah tidak lagi relevan.

Setuju?

Jika kamu adalah orang yang siap untuk menantang diri sendiri dan berani mengambil resiko, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan benar-benar. 

Yang pertama adalah idea. Idea kamu itu berharga. Apalagi jika itu benar-benar dibutuhkan dan bisa menyelesaikan masalah tanpa menciptakan masalah baru (bukan pegadaian loh ya). Tetapi, kamu harus memastikan jika idea yang kamu punya itu memiliki 3 elemen. Kritis, analitis, dan realitis. Memang, kenapa jika suatu idea tidak memiliki ke tiga elemen? Simpel sih jawabannya. Ambyar. Bayangkan saja, idea yang kritis, analitis, tetapi tidak realistis. Ya kan? 

Hal kedua yaitu tim. Kamu tidak bisa sendirian dalam membuat perusahaan startup. Kamu butuh co-founder, atau bahkan tim. Kenapa? Akan ada banyak sekali hal yang harus kamu lakukan. Untuk menyelesaikan semuanya, nampaknya 24 / 7 saja kurang untuk memenuhi target deadline. Jangan siksa diri kami. Carilah orang yang memiliki visi dan misi sama dengan mu, bentuk nilai & value perusahaan, dan pastikan buat strategi bisnis untuk kondisi / situasi bisnis yang berlawanan. 

Jika kamu sudah menemukan tim yang tepat. Saatnya bangun produk mu. Kalau produk yang akan kamu buat adalah SaaS (software as a service), kamu memerlukan software engineer handal untuk memastikan produk mu siap untuk konsumen. Untuk kamu yang berpikir “loh, tim aku tidak ada yang bisa membuat software / aplikasi nih, gimana dong?”, jangan khawatir. Perusahaan software house professional siap membantu. Tetapi, kamu juga perlu memastikan kapabilitas software house tersebut, ya. Jangan salah pilih! Coba deh simak 4 cara untuk memilih software house yang tepat

Produk sudah jadi nih, lanjut pastikan legalitas merek dagang produk software / aplikasi mu jelas ya. Bukan hanya itu, ada 6 dokumen legalitas yang perlu kamu urus. Kelihatan ribet, ya? Tidak apa-apa ribet di awal, daripada perkembangan bisnis harus terhambat karena masalah legalitas, kan?

Wah sudah siap bertempur nih. Eitsssss, kata siapa? Sudah menyusun strategi perang? Amunisi apa yang sudah kamu siapkan? Yakin ada yang mau pakai? Tunggu artikel di blog SoftwareSeni selanjutnya, ya?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *