Kerja di Startup: Node Js. atau PHP Developer?

Uncategorized
Published on November 23, 2018

Teknologi baru yang mencoba merubah dunia web development bermunculan hampir setiap hari. Bahasa pemrograman bagian belakang layar dari sebuah website, atau yang lebih dikenal dengan istilah back-end, juga terbagi menjadi spesialisasi khusus. Bahasa pemrograman untuk back-end diantaranya adalah PHP, Node Js., Ruby, Python, dan banyak lainnya.
 
Jarang perusahaan yang mencari developer dengan mencantumkan kalimat Back-end Developer. Umumnya, yang lebih sering ditemui adalah lowongan pekerjaan untuk Node Js. Developer, Ruby Developer, PHP developer, dll. Artinya, yang dibutuhkan industri teknologi informasi saat ini adalah tenaga profesional dengan spesialisasi khusus.
 
Dengan waktu dan sumber daya yang terbatas sebagai developer, Anda harus membuat keputusan tentang bagaimana waktu Anda diinvestasikan.
 
Sekarang, pertanyaan yang harus Anda tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang dapat saya investasikan dalam hal waktu dan upaya, untuk karir dan masa depan saya sebagai developer dalam hal pengetahuan, gaji, dan kepuasan?
 
Ini tidak berarti memilih jalur yang paling mudah. Ini berarti memilih alat yang memungkinkan Anda untuk tetap relevan dan kompetitif selama mungkin sembari meningkatkan keterampilan Anda untuk menjadi developer senior.
 
Kami akan membandingkan dua teknologi back-end; PHP vs NodeJS. Perlu dicatat, artikel ini tidak bermaksud untuk menghancurkan reputasi PHP. Data menunjukkan statistik yang dapat diandalkan untuk memutuskan apa yang harus dipelajari. Data yang digunakan pun merupakan data worldwide, secara kontekstual region mungkin meleset. Tapi jika Anda tertantang untuk memiliki skill diatas rata-rata atau bekerja di luar negeri, data ini akan sangat berguna.
 
Kami akan menggunakan dua jenis analisis dalam artikel ini: Analisis Prospek Pekerjaan dan Analisis Teknis. Mari kita mulai:
 
node js atau php
 
Pertama-tama, mari kita definisikan PHP dan Node.js. PHP adalah bahasa script server-side. Diciptakan pada tahun 1994 oleh Rasmus Lerdorf untuk development web. Awalnya PHP adalah singkatan dari Personal Home Page, tetapi sekarang singkatannya berubah lebih rekursif menjadi – PHP: Hypertext Preprocessor.
 
Biasanya, PHP diproses oleh interpreter, didukung oleh Zend Engine, yang diinstal pada server web seperti Apache dan Nginx. Juga code PHP dapat disematkan ke markup HTML atau HTML5. Fleksibilitas ini berkontribusi pada popularitas bahasa, sehingga PHP sekarang digunakan pada lebih dari 80% server web.
 
Node.js adalah environment run-time JavaScript open-source yang digunakan untuk mengeksekusi code JavaScript di server-side. Proses pengembangan Node.js telah mengubah paradigma bahwa JavaScript digunakan hanya untuk client-side. Itulah sebabnya Node.js telah menjadi salah satu elemen dasar dari paradigma “JavaScript di mana-mana”. Node.js dibuat oleh Ryan Dahl pada tahun 2009.
 
Didukung oleh Google V8 JS engine, mesin yang sama yang digunakan di peramban web Google Chrome. Environment runtime JS ini tidak memerlukan server web terpisah atau dependensi lainnya, ada pustaka bawaan yang mengurusnya. Dibandingkan dengan PHP, Node.js relatif muda, tetapi sudah dikenal dan digunakan oleh perusahaan raksasa seperti Microsoft, Yahoo, LinkedIn, dan PayPal.
 

Node.js vs PHP – Analisis Prospek Pekerjaan

Kami akan menggunakan Stackoverflow Developer Survey dan LinkedIn untuk analisis ini. Kami juga hanya akan fokus pada teknologi yang terkait dengan web development.
 

Tingkat Kepopuleran:

Selama enam tahun berturut-turut, JavaScript adalah bahasa pemrograman yang paling umum digunakan. Penggunaan Python menyalip PHP untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Di mana posisi Node.js? Node.js adalah runtime javascript. Dalam bahasa non-teknis: Node.js adalah cara untuk menggunakan Javascript seperti Anda menggunakan PHP di sisi server. Untuk saat ini, pikirkan Node.js sebagai Javascript.
 
kerja di startup node js atau php
 
Seperti yang Anda lihat, Node.js dan Javascript menduduki peringkat teratas sementara PHP secara signifikan kurang populer.
 
Dalam lima tahun Stackoverflow mengumpulkan data untuk Developer Survey, mereka melihat bahasa seperti Javascript dan Node.js semakin populer, sementara penggunaan PHP menurun:
 
node js atau php
 
TensorFlow adalah yang paling disukai di antara para developer, mengungguli React yang tahun sebelumnya ada di posisi pertama. Namun, Node.js adalah yang paling dicari kedua dan lima besar yang paling disukai :
 
node js atau php
 
node js atau php
 

Gaji dan Peluang:

Developer yang menggunakan bahasa pemrograman yang tercantum di atas garis oranye ini, seperti Go, Rust, dan Clojure dibayar lebih banyak sebanding dengan berapa banyak pengalaman yang mereka miliki. Developers yang menggunakan bahasa pemrograman di bawah garis oranye seperti PHP dan Visual Basic 6, dibayar lebih rendah.
 
Ukuran lingkaran dalam bagan ini menunjukkan berapa banyak developer yang menggunakan bahasa tersebut dibandingkan dengan yang lain. Reward bagi PHP developer sepertinya menurun tidak peduli berapa lama pengalaman yang mereka miliki.
 
node js atau php
 
Di LinkedIn, Anda dapat melihat lowongan pekerjaan di seluruh dunia untuk developer Node.js jauh melebihi developer PHP hingga hampir di angka 10.000. Ini terlepas dari fakta bahwa Node.js adalah teknologi yang jauh lebih muda dibandingkan dengan PHP, dan fakta bahwa PHP digunakan secara masif untuk WordPress yang menguasai 30% dari semua situs web di internet.
 
node js atau php
 
node js atau php
 

Node.js vs PHP – Analisis Teknis

Mari kita lihat pro dan kontra dari setiap teknologi.
 

Kelebihan Node.js:

  • Sangat cocok untuk aplikasi yang membutuhkan komunikasi real time antara client dan server. Tools seperti socket.io dapat membangun produk seperti aplikasi chat dengan sangat mudah. Fitur yang sama membuat Node js. cocok untuk aplikasi yang memproses data dari perangkat IoT (Internet of Things) dan Single Page Application (SPA).
  • Native serialisasi dan deserialisasi dengan JSON yang bekerja dengan baik untuk request AJAX di web.
  • Bagus untuk aplikasi yang memiliki non-blocking Input/Output (I/O adalah komunikasi antara sistem pemrosesan informasi, seperti komputer, dan dunia luar, seperti manusia atau sistem pemrosesan informasi lain seperti Databases).
  • Anda belajar Javascript dan Node.js. Anda tidak perlu mempelajari bahasa lain seperti PHP. Itu berarti Anda dapat menghabiskan semua daya Anda menguasai Javascript dengan semaksimal mungkin. Anda dapat menulis code frontend dan backend hanya dengan satu bahasa.
  • Banyak framework client-side populer seperti React, Vue, dan Angular ditulis dalam JavaScript yang merupakan bahasa utama browser modern. Saat menggunakan Node.js sebagai server-side, Anda memiliki semua manfaat dari satu bahasa scripting di seluruh stack development aplikasi Anda. Memiliki bahasa yang sama baik di FE dan BE sangat baik untuk pemeliharaan: Ini membuat pekerjaan antara semua anggota tim lebih mudah untuk aplikasi, karena developer frontend dan backend bekerja dengan struktur data JavaScript, fungsi, dan konvensi bahasa yang sama.
  • Sistem single-threaded event sangat cepat ketika menangani banyak request sekaligus dari client.
  • Ada pustaka dan paket pihak ketiga yang terus berkembang dan dapat diakses melalui NPM untuk client-side dan server-side, serta command lines tools untuk development web. Selain itu, sebagian besar di-host di GitHub, sehingga Anda dapat melaporkan issue, atau Anda dapat membuat kode sendiri untuk menyesuaikannya.
  • Ini telah menjadi environment standar untuk menjalankan tools yang terkait Javascript dan development web lainnya, termasuk task runner, minifiers, linter, formatters, preprocessors, bundlers dan analytics processors.
  • Didukung secara native di banyak API dan layanan baru seperti AWS Lambda.
  • Peningkatan performa V8 yang merupakan interpreter Google JavaScript Google yang mana Node.js dibangun di atasnya. Karena engineer Google terus meningkatkan kinerja V8, Node.js mendapat benefit development secara gratis.

 

Kontra Node.js:

  • Paket NPM yang disebutkan di atas dapat membuat overload coding Anda, tidak aman, dan sulit untuk menemukan paket mana yang bagus karena ada begitu banyak opsi (Melihat unduhan dan statistik GitHub adalah salah satu cara untuk memperbaiki masalah ini).
  • Banyak cara untuk membangun server menggunakan paket Node.js dan npm. Ini membuat developer baru kesulitan untuk memilih.
  • Tidak ideal untuk server yang bergantung pada CPU consuming code yang berat (yaitu algoritma berat seperti pemrosesan gambar atau penyortiran). Secara umum, apa pun yang bukan I/O dapat dianggap sebagai CPU consuming code. Biasanya environment server multithreaded adalah pilihan yang lebih baik daripada Node.js dalam kasus ini (Solusi: jika diperlukan, Anda dapat menyerahkan bagian-bagian intensif CPU dari coding Anda ke program yang ditulis dalam C).
  • Node tidak menggunakan semua inti sistem atau mesin yang mendasarinya. Anda harus menulis logika sendiri untuk menggunakan prosesor multi-core. Hal ini dapat dicapai dengan banyak cara tetapi membutuhkan sedikit kerja ekstra (Ini menjadi keuntungan ketika Anda dapat memaksimalkan penggunaan CPU dari sistem).

 

Kesimpulan untuk Node.js:

Node.js sangat cocok untuk aplikasi yang memiliki banyak koneksi konkuren dan setiap request hanya membutuhkan sedikit siklus CPU. Ini membuatnya sangat ideal untuk banyak aplikasi yang saat ini ada di internet seperti real time aplikasi dan SPA.
 
Menggunakan pemrosesan asinkron bawaan JavaScript, seseorang dapat membuat code server-side yang sangat scalable, sehingga dapat memaksimalkan penggunaan satu CPU dan memori, juga mampu menangani lebih banyak request bersamaan dibanding server multithread konvensional.
 
Node.js hadir dengan sangat sedikit dependensi, aturan dan pedoman, yang memungkinkan developer untuk memiliki kebebasan dan kreativitas dalam mengembangkan aplikasi mereka dengan cara yang mereka inginkan. Developer dapat memilih arsitektur terbaik, pola desain, modul dan fitur untuk proyek mereka sambil mendapatkan semua manfaat dari komunitas melalui NPM.
 

Kelebihan PHP:

  • Basis komunitas kuat dan besar.
  • PHP memiliki basis code yang kuat dan mencakup platform populer untuk membangun website (yaitu WordPress, Joomla, Drupal). CMS (Content Management Systems) seperti WordPress, membuatnya mudah untuk deploy blog atau website e-commerce dalam hitungan menit dan memungkinkan non-developer menyesuaikannya dengan mudah.
  • Lebih mudah diatur dengan tools non-developer dan lebih disukai untuk individu atau perusahaan kecil yang tidak perlu memiliki pengetahuan tentang server SSH dan Linux. Banyak aplikasi PHP (yaitu cPanel) ditawarkan oleh platform basic hosting yang dapat diinstal dalam satu klik.
  • Tidak seperti bahasa pemrograman untuk general purpose yang lain, PHP dirancang khusus untuk web. PHP menawarkan solusi server-side yang bagus, di mana tidak perlu repot-repot dengan JavaScript di browser karena semua halaman dapat dengan mudah dibuat dan ditampilkan di server. Ini berguna jika Anda ingin menghindari delivery yang terlalu banyak code di client-side. Node.js juga dapat melakukan ini, tetapi solusinya tidak sesederhana itu.
  • Perkembangan PHP7 dan HHVM (Didukung oleh facebook) meningkatkan kinerja PHP… tetapi baru-baru ini ada kabar buruk untuk HHVM.

 
Kekurangan PHP:

  • PHP hanya digunakan di back-end. Ini berarti Anda masih perlu belajar Javascript jika Anda ingin bekerja di client-side atau full stack developer.
  • Dengan PHP, rendering server-side yang berat dan banyak request ke server untuk membuat dan merender halaman bukanlah pilihan yang baik untuk Single Page Application.
  • Setiap client aktif memakan satu proses server. Tidak ideal untuk aplikasi dengan banyak koneksi client.
  • Native support untuk PHP pada API dan layanan baru seperti AWS Lambda terbatas dibandingkan dengan Node.js.
  • Ini mengikuti model client-server klasik di mana setiap request halaman memulai aplikasi, koneksi database, dan rendering HTML. Ini membuat PHP lebih lambat saat Anda me-navigasi website dibandingkan dengan aplikasi Node.js yang berjalan secara permanen dan hanya perlu untuk menginisialisasi satu kali. Karena ini, Node.js lebih cocok untuk arah yang lebih baru yaitu perkembangan website dengan HTML5, AJAX dan WebSockets.

 

Kesimpulan untuk PHP:

PHP lebih mudah dipelajari dengan komunitas besar di belakangnya. Ini adalah pilihan yang baik untuk solusi standar seperti blog atau situs berita. Ia memiliki kekuatan WordPress yang merupakan CMS paling populer, dan memungkinkan Anda untuk membuat blog yang dapat disesuaikan tanpa terlalu banyak coding. Namun, lebih sederhana dalam hal ini bukan kualitas yang baik.
 
Semakin mudah untuk mempelajari suatu teknologi, semakin mudah bagi seseorang untuk memasuki pasar dan meningkatkan sdm supply, maka semakin rendah Anda harus mengenakan biaya untuk layanan Anda.
 

Perubahan Lanskap Web Development dan Open Source Community

Dalam Node.js Interactive Europe, Sarah Saltrick Meyer, Software Engineer di Buzzfeed, percaya bahwa transparansi dan debat penting dalam komunitas Node.js. Sarah berbagi pemikiran ini secara lebih rinci dan mengapa Node.js membawa benefit yang besar bagi developer dan berbeda dari bahasa pemrograman lain yang pernah ada sebelumnya.
 

 
Di acara yang sama, Nuno Job, CEO YLD, membahas mengapa lebih banyak bisnis menggunakan Node.js untuk development dan bagaimana teknologi tersebut berdampak pada budaya developer dalam organisasi.
 

 
Matteo Collina, Software Architect di nearForm, menghabiskan hari-harinya dengan Node.js, Ruby, Java dan Objective-C – development mengalir dalam darahnya. Matteo berbicara tentang mengapa dia secara pribadi senang bekerja dengan Node.js dan bagaimana perusahaan mendapat manfaat dari teknologi ini.
 

 
Ingin mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana developer, engineer, dan architect menggunakan Node.js? Ada banyak video hebat dari Node.js Interactive Europe yang dapat ditonton di sini. Berikut juga beberapa alasan dari NASA, Lowe, dan Groupon.
 

Kesimpulan:

PHP adalah salah satu bahasa pemrograman top di era Web 1.0 seiring dengan popularitas WordPress. Node.js diluncurkan pada tahun 2009 dan secara teknis bukan bahasa tetapi runtime environment untuk Javascript. Ia adalah juara dari generasi web development yang lebih muda dan lebih cocok untuk membangun aplikasi event-based, data driven, aplikasi I/O berat yang banyak Anda temui di era Web 2.0.
 
Secara khusus, arsitektur Node.js yang asynchronous dan event-based membuatnya sangat cocok untuk aplikasi real-time seperti messaging dan aplikasi kolaboratif di mana banyak request terjadi secara bersamaan dan ada banyak bolak-balik antara client dan server . Tidak dapat hidup tanpa WordPress? Nah, Node.js memiliki CMS sendiri yang luar biasa bernama Keystone.js.
 
Selalu ada yang harus dikorbankan. Tidak akan pernah ada satu teknologi yang dapat Anda pelajari yang akan menyelesaikan semua masalah, dan akan membuat Anda kebal terhadap keusangan pekerjaan. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menganalisis pilihan dan memilih salah satu yang akan mendapatkan return investasi terbaik. Melihat analisis prospek pekerjaan dan analisis teknis di atas, kita bisa melihat pemenang dengan jelas.
 
Meskipun semua teknologi itu hebat jika digunakan dengan cara spesifik mereka sendiri, kita hidup di dunia dimana informasi begitu berlimpah sehingga kita harus membatasi jumlah topik yang dapat kita fokuskan dan pelajari secara mendalam.
 

Apa pendapat anda?

Diskusi seputar teknologi harus terdapat pendapat dari kedua belah pihak. Bacalah berbagai sumber dan minta pendapat mentor Anda. Akan selalu ada yang harus dilepas, dan tools apa yang Anda gunakan pada akhirnya terserah Anda. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencari berbagai pilihan yang ada dan tidak sembarang memilih. Dengan kata lain, bersedia mempertimbangkan pendapat yang berbeda dari Anda.
 
Jika Anda tertantang dengan pengalaman baru, menjadi Node js. developer, segera bergabung bersama kami.
 
lowongan pekerjaan it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *