SoftwareSeni Logo

Cara Tentukan Biaya Pembuatan Website, Software & Mobile Apps

May 7, 2019

SoftwareSeni

Latar belakang kenapa website butuh biaya

Banyak orang yang kurang peduli betapa pentingnya menentukan biaya pembuatan website, software & mobile app. Hubungan antara biaya pembuatan dan kualitas produk digital (website, software & mobile apps) sangatlah berbanding lurus. Masalahnya, sedikit orang yang paham seperti apa produk digital yang berkualitas. Utamanya mereka masih belum begitu mengerti kira-kira berapa biaya yang sesuai untuk membuat website, software ataupun mobile apps. Oleh karena itu, artikel ini menjadi solusi untuk masalah di atas. Tentukanlah biaya pembuatan website, software, atau bahkan mobile apps dengan tepat. Jadikan website sebagai alat untuk mendatangkan keuntungan bisnis. Anggaplah biaya pembuatan website sebagai investasi jangka panjang bagi bisnis. Dan yang tidak kalah penting, jangan sampai biaya pembuatan website, software & mobile apps melebihi kemampuan kalian.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan biaya pembuatan website dengan tepat:

  1. Alasan mengapa membuat website perlu biaya
  2. Hal yang perlu diperhatikan saat merancang biaya pembuatan website, software & mobile apps
  3. Tips membuat rancangan biaya pembuatan website, software & mobile apps.

Pada akhir artikel, kami akan menyediakan template biaya pembuatan website, software & mobile apps gratis. Jadi, untuk bisa menggunakan template yang kami sediakan, simak pembahasan mengenai cara tentukan biaya pembuatan website, software & mobile apps berikut ini.

 

Alasan mengapa biaya pembuatan website, software, & mobile apps itu penting

Tim SoftwareSeni pernah menulis artikel tentang low-cost software development. Yang intinya adalah low-cost bukanlah ide yang baik bagi bisnis. Jika kalian ingin tahu lebih detail betapa merugikannya strategi low-cost software development silahkan simak artikel kami berikut ini.

Ada 10 alasan mengapa mengembangkan atau membangun website, software, atau mobile apps murah itu BAHAYA bagi bisnis:

1. Impresi pertama pengguna menjadi taruhannya

Dalam menciptakan atau mengembangkan produk digital (website, software, & mobile apps), pengguna / user merupakan objek yang harus diperhatikan. Pengalaman pengguna dalam mengeksplorasi produk menjadi krusial. Impresi pertama pengguna produk digital merupakan titik balik. Dari situ lah ia akan memutuskan untuk menggunakan produk tersebut atau mencari alternatif lain.

Menurut Statistic Brain Research Institute, kalian hanya punya waktu 8.25 detik untuk memikat user. Dan dari situ lah keputusan user untuk terus menggunakan produk digital kalian akan terjadi. Jika produk digital (website, software, & mobile apps) tidak intuitif, susah untuk digunakan, dan berjalan lambat, besar kemungkinan mereka akan lari ke produk digital alternatif.

Untuk membuat produk digital (website, software, & mobile apps) yang intuitif, pastinya memerlukan biaya. Biaya bukanlah sekedar uang saja, tapi juga ada waktu, dan tenaga yang harus dikeluarkan. Masalahnya, banyak yang tidak bisa meluangkan waktu untuk melakukan penelitian kecil. Padahal hasil penelitian kecil sangatlah dibutuhkan. Penelitian kecil ini untuk mengetahui preferensi pengguna produk digital. Hasil dari penelitian bisa dijadikan referensi untuk menentukan berapa biaya yang diperlukan untuk membuat website, software, ataupun mobile apps.

2. Biaya perbaikan yang tidak murah

Jika masih nekat untuk memangkas ongkos pengembangan/pembuatan produk digital, waspadai biaya perbaikan yang tidak murah. Jalan berpikirnya begini:

Untuk membuat produk digital A diperlukan biaya normal sebanyak 100 juta. Tetapi, kalian ingin produk digital jadi dengan harga 50jt. Setelah Software Developer deal dengan harga 50jt, produk digital A diciptakan. Tetapi, masalah satu-persatu muncul karena banyak bugs pada produk digital A. Padahal ketika kalian coba, produk digital tersebut baik-baik saja. Untuk memperbaiki bugs pada produk digital tidaklah murah. Software Developer abal-abal akan menjebak kalian dengan memberikan biaya tambahan untuk memperbaiki bugs. Yang pada akhirnya, total biaya pembuatan produk dan biaya perbaikan justru lebih banyak dari harga normal.

Maka dari itu, pilihlah Software House Profesional untuk membantu anda mencegah masalah ini.  

3. Tidak sesuai dengan kepentingan bisnis

Menyesuaikan produk digital (website, software, & mobile apps) yang tepat bagi bisnis merupakan faktor utama dari Proyek IT. Untuk apa mengembangkan / membuat produk digital jika tidak ada tujuan. Entah tujuan tersebut sebagai produk utama bisnis, atau hanya sekadar pendukung kepentingan bisnis.

Tetapi, kasus tentang proyek IT yang tidak sesuai dengan kepentingan bisnis sering terjadi. Salah satu masalahnya yaitu biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan ekspektasi terhadap produk digital. Software Developer profesional pasti sudah memiliki standar untuk memastikan fitur produk digital sejalan dengan kepentingan bisnis. Namun, banyak pihak yang masih memandang sebelah mata dan memilih menyerahkan proyek IT mereka kepada pihak yang berani menawarkan produk murahnya. Padahal, oknum-oknum tersebut tidak bisa memastikan fitur didalamnya bekerja sesuai dengan kepentingan bisnis atau tidak.

4. Sulit untuk digunakan

Pembuatan atau pengembangan produk digital dengan embel-embel murah, sudah hampir pasti pengerjaannya tidak akan memakan waktu yang lama. Waktu adalah uang. Semakin lama proyek IT dilakukan semakin besar biaya yang dibutuhkan. Mana ada oknum penyedia jasa IT murah rela melakukan penelitian mendalam terkait fitur dan menghabiskan waktu untuk membangun produk digital dengan harga miring.

Akibatnya, pengembangan user experience (UX) tidak akan berjalan. Padahal, user experience (UX) itu penting dalam membuat produk digital (website, software, & mobile apps), sehingga user merasa kesulitan dalam menggunakan produk digital tersebut. Hal tersebut tentunya sangat merugikan bisnis. Bukannya meningkatkan performa bisnis, justru sebaliknya. Itu karena user sibuk mencari cara menggunakan produk digital dari pada fokus pada performa kerja mereka.

5. Website, software, atau mobile apps berjalan lambat

Ketika developer menciptakan dan mengembangkan website, software atau pun mobile apps, source code merupakan jiwa dari produk digital tersebut. Namun, apabila penciptaan code tidak efisien, produk digital bisa tidak stabil dan cenderung lambat. Masalahnya, penciptaan code yang efisien merupakan skill yang tidak murah.

Terlebih lagi, jika produk digital mengalami JavaScript Issue. Jika plugin tidak dieksekusi dengan benar, maka hal ini bisa memicu munculnya error pada JavaScript. Hal tersebut dapat menyebabkan delay pada saat loading website.

Oleh karena itu, memiliki partner penyedia jasa pembuatan produk digital yang profesional sangat lah penting. Dan tentu saja, untuk memiliki partner yang profesional dibutuhkan biaya lebih. Namun, perlu diketahui bahwa Software House profesional tidak menyembunyikan harga dan transparan perihal layanan yang mereka berikan. Bahkan, mereka akan memberikan garansi layanan jika terdapat error pada produk digital yang mereka kerjakan.

6. Banyak biaya tersembunyi hingga tidak lagi murah

Untuk menekan biaya produksi, biasanya oknum-oknum yang menawarkan layanan pembuatan produk digital murah akan memangkas habis-habisan biaya jasa mereka. Akibatnya, alokasi waktu pembuatan dan ekspektasi produk tidak sesuai. Hal ini berimbas pada banyak nya fitur yang tidak bekerja dengan baik. Tahukah kalian, untuk memperbaiki fitur-fitur dalam produk digital tidaklah murah.

Jika satu fitur yang rusak masih bisa ditoleransi. Tapi bagaimana jika ada 3 atau bahkan 5 fitur yang tidak bekerja? Ya, mungkin desain yang oknum-oknum tersebut tawarkan menarik. Namun, apakah fitur-fitur di dalamnya bekerja sesuai dengan ekspektasi? Apakah fitur-fitur tersebut dapat memenuhi kepentingan bisnis?

7. Pengerjaan yang seadanya

Untuk menekan biaya, oknum-oknum akan menawarkan waktu pengerjaan yang cenderung singkat. Alasannya? Tentu saja, mana ada orang yang mau untuk memberikan waktu nya secara cuma-cuma untuk menghasilkan produk digital yang berkualitas. Ada harga ada rupa. Pengembangan produk digital tidaklah sebentar. Untuk pembuatan e-commerce normalnya memakan waktu sekitar 2 – 3 bulan. Mungkin oknum-oknum yang menawarkan jasa murahnya menjanjikan dapat menyelesaikan dalam waktu kurang dari 1 bulan. Ya, memang produk digital tersebut selesai dalam waktu kurang dari 1 bulan. Tetapi, hati-hati dengan kualitas seadanya dan hal yang sudah dijelaskan di atas.

8. Tidak ada garansi produk digital

Tentu saja layanan yang diberikan secara “murah” akan mengorbankan beberapa komponen penting. Salah satunya yaitu garansi layanan. Perlu diperhatikan bahwa tidak ada produk digital yang sempurna. Maka dari itu, untuk menghindari error dalam produk digital, penting bagi kita untuk memiliki asuransi produk digital. Dalam hal ini, garansi merupakan pilihan baik. Begitu pula bagi perusahaan Software House. Jika perusahaan Software House berani memberikan garansi layanan mereka, itu bisa menjadi indikator yang baik bagi kualitas perusahaan tersebut.

Jika kalian ingin tahu bagaimana mencari Software House yang bagus. Silahkan cek artikel kami mengenai 4 cara tepat memilih Software House pada blog kami.

9. Tingkat kegagalan Proyek IT mengingkat

Ada 4 penyebab kegagalan proyek IT. Salah satu nya yaitu budget yang tidak realistis dengan skala ekspektasi. Apa maksudnya? Kalian menginginkan produk digital dengan kualitas yang baik dan memiliki fitur yang banyak. Tetapi, budget yang kalian punya tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Nah, biasanya hal ini yang dimanfaatkan oknum-oknum yang menawarkan jasa “murah” nya.

Tetapi, tentu saja, ada harga ada rupa. Kalian tidak bisa berekspektasi banyak pada kualitas pengerjaan mereka. Mungkin bisa saja dari tampilan kelihatan bagus, desain yang menarik. Namun tentu saja itu hanya untuk memanjakan mata. Yang lebih penting justru ada pada fungsi fitur-fitur di dalamnya. Jika fitur pada produk digital tidak bisa memenuhi kebutuhan bisnis, tentunya itu merupakan kegagalan proyek IT.

Jika pengerjaan dan pengembangan website, software atau pun mobile apps oleh perusahaan Software House profesional saja bisa ada masalah. Bayangkan apa jadinya jika proyek IT perusahaan anda dikerjakan oleh oknum yang bahkan tidak berani memberikan garansi layanan. Tentu persentase angka kegagalan akan semakin besar.

Rugi uang, rugi waktu, rugi tenaga.

10. Citra perusahaan akan terganggu

Impresi pertama pengguna dalam menggunakan produk digital anda berbanding lurus dengan citra perusahaan. Jika impresi pengguna baik dalam menggunakan produk digital anda, maka citra perusahaan produk digital tersebut akan meningkat. Tetapi, tentu saja itu bukanlah satu-satunya indikator. Namun, untuk menghadirkan citra baik bagi perusahaan, bisa juga dengan menyediakan website profil perusahaan dengan intuitif dan atraktif.

Masalahnya, masih sedikit perusahaan yang mengerti bahwa kehadiran informasi mengenai mereka di internet itu sangat membantu. Akibatnya, banyak perusahaan yang asal-asalan membuat website profil perusahaan. Hal ini tentu sangat tidak profitabel bagi citra perusahaan itu sendiri. Ya, mungkin salah satu faktornya karena lebih memilih “murah” daripada “kualitas” website.

Masih kurang? Sebenarnya masih banyak kerugian dari low-cost development untuk produk digital. Tetapi, nampaknya 10 alasan di atas sudah cukup kuat untuk meyakinkan kalian bahwa membuat atau mengembangkan produk digital perlu biaya yang memadai.

 

Hal yang perlu diperhatikan saat merancang biaya pembuatan website, software & mobile apps

 

Setelah mengetahui alasan mengapa low-cost development untuk produk digital itu buruk. Kami akan menyampaikan hal-hal yang perlu kalian perhatikan dalam membuat budgeting untuk proyek IT anda. Berikut adalah 5 hal yang perlu kalian perhatikan saat merancang biaya proyek IT:

1. Buat tujuan dari proyek IT

Merancang anggaran untuk proyek IT itu susah-susah-gampang. Kenapa begitu? Karena dalam proses perencanaan anggaran, proyek IT tersebut perlu dikategorikan sebagai proyek strategis atau proyek pendukung. Diferensiasi itu dibutuhkan untuk mengetahui seluas apa dampak dari proyek IT terhadap perusahaan / bisnis. Dari sini, tujuan dari proyek IT harus seiring dengan kategori proyek IT tersebut. Misalnya, proyek IT A masuk di kategori proyek strategis, maka tujuan yang dibuat juga merupakan tujuan strategis.

Sejatinya, pengkategorian proyek IT itu bukan hal yang wajib untuk dilakukan. Ini hanya untuk memudahkan formulasi dan sinkronisasi tujuan proyek IT. Tujuan proyek IT ini dapat menjadi gambaran skala proyek dan alokasi biaya untuk proyek IT. Akan lucu apabila alokasi dana proyek IT yang masuk pada kategori pendukung lebih besar daripada biaya proyek IT kategori strategis.

Maka dari itu, membuat tujuan yang jelas, dan mudah dipahami merupakan faktor yang krusial untuk menciptakan hasil proyek IT yang optimal. Biasanya, jika perusahaan merasa kesusahan untuk membuat tujuan proyek IT mereka, software house profesional seperti SoftwareSeni menyediakan fasilitas konsultasi proyek IT.

Contoh tujuan proyek IT:

  • Kategori Strategis

Meningkatkan sales produk B2C perusahaan dengan membuat e-commerce.

Pembahasan:

Angka Sales merupakan KPI performa perusahaan yang akan menentukan berapa banyak Revenue dan Profit perusahaan. Sedangkan B2C merupakan kepada siapa produk mereka akan dijual. Dan e-commerce merupakan solusi untuk meningkatkan angka sales perusahaan.

  • Kategori Pendukung

Membuat sistem live sales reporting untuk melihat progress sales produk B2C perusahaan.

Pembahasan:

Sistem live sales reporting merupakan solusi / produk akhir dari proyek IT, progress sales merupakan bagian dari departemen penjualan untuk mempermudah melacak progres penjualan. Dan produk B2C merupakan object yang akan di report.

Dari contoh kedua tujuan tersebut ada beberapa perbedaan yang perlu dipahami:

Kategori Tujuan Bisnis

Bagaimana? Sudah cukup jelas? Yuk evaluasi bagaimana tujuan proyek IT anda? Apakah sudah cukup jelas? Apakah masih perlu diperbaiki? Semoga penjelasan tentang tujuan proyek IT di atas membantu anda.

2. Pahami prioritas kebutuhan anda

Setelah mengetahui tujuan proyek IT apa yang ingin dicapai, tentukan hal-hal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, ada kalanya tidak semua hal yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Kok bisa? Ada faktor-faktor penghambat yang membuat beberapa kebutuhan perlu dikorbankan. Misalnya biaya atau waktu. Nah, skala prioritas inilah yang akan membantu jika hal tersebut terjadi. Mana kebutuhan yang harus dipenuhi, mana kebutuhan pendukung. Berikut adalah contoh dari skala prioritas pada proyek IT:

(Dalam pembuatan e-commerce berbasis web)

priorities fitur website

Tabel di atas hanyalah contoh kasar dari skala prioritas proyek IT. Pada kenyataannya, kebutuhan atau fitur yang dibutuhkan jauh lebih kompleks. Yang jelas, jangan sampai biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan ekspektasi yang diinginkan.

3. Cari Partner yang tepat

Untuk mengeksekusi proyek IT, kapabilitas partner proyek IT harus dapat memenuhi kebutuhan proyek. Misalnya, perusahaan A ingin membuat website e-commerce untuk bisnis mereka. Maka carilah partner yang memiliki pengalaman atau setidaknya mengerti seluk beluk dunia e-commerce.  Bekerja sama dengan Software House Profesional merupakan partner proyek yang paling aman. Selain berpengalaman dalam menangani berbagai macam proyek IT, mereka juga memberikan garansi layanan jika terjadi bugs pada produk digital.

Namun, untuk memilih Software House yang cocok untuk proyek IT kamu, ada 4 indikator yang bisa kamu pakai.

  • Cek portofolio Software House
  • Perhatikan review customer
  • Harga layanan & waktu pengerjaan
  • Jam kerja

4. Pengembangan berkelanjutan

Ketika suatu proyek IT selesai, maka tidak semena-mena akan berhenti sampai disitu saja. Cepatnya perkembangan dunia teknologi mengharuskan perusahaan untuk terus mengembangkan teknologi yang sudah mereka buat, atau upgrade teknologi yang telah mereka pakai. Alasannya tentu berkenaan pada peningkatan efisiensi kerja. Teknologi dibuat untuk membantu dan mempercepat pekerjaan manusia. Dan perusahaan pasti menginginkan peningkatan efisiensi kerja perusahaan. Untuk menciptakan sinergi tersebut membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Maka dari itu, menyisihkan anggaran untuk pengembangan teknologi merupakan investasi yang tepat. Mungkin banyak perusahaan yang beranggapan bahwa hal tersebut hanyalah membuang-buang uang. Tetapi, nyatanya pengembangan teknologi memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Contoh simpelnya, dahulu Kaskus merupakan salah satu pioneer platform jual beli. Namun, pada saat itu teknologi payment gateway belum populer. Jadi orang-orang harus menggunakan rekening bersama untuk bertransaksi. Lihatlah sekarang, e-commerce besar di Indonesia sudah menggunakan payment gateway sebagai media pembayaran dalam platform e-commerce mereka. Bayangkan apabila kita tidak mengembangkan website e-commerce. Ketika pesaing bisnis kita sudah menggunakan payment gateway pada platform mereka, dan kita masih melakukan transaksi secara konvensional.

5. Implikasi jangka panjang proyek IT

Pada saat merencanakan proyek IT, pastikan proyek tersebut memiliki pengaruh jangka panjang bagi perusahaan atau bisnis. Misalnya, ketika perusahaan A ingin secara radikal melakukan transformasi digital. Perusahaan A harus paham betul pengaruh perubahan pada bisnis. Rencana penembangan digital perusahaan A harus terstruktur. Perlu diketahui bahwa biaya transformasi digital perusahaan baiknya diperhitungkan sebagai investasi jangka panjang.

Mungkin akan muncul pertanyaan, gimana cara menghitung ROI nya kalau kita memasukan biaya tersebut ke dalam investasi?

ROI (Return of Investment) pada teknologi itu bisa dihitung dengan peningkatan efisiensi kerja dan produktivitas. Misalnya, ketika perusahaan A membutuhkan waktu 1 minggu dalam membuat proposal penawaran. Itu karena mereka masih menggunakan software microsoft word. Perusahaan A perlu mengedit secara manual, mengatur desain, dan lainnya secara manual. Tetapi ketika Perusahaan A beralih menggunakan software aplikasi berbasis website nusii.com, proses pembuatan proposal bisa selesai dalam waktu 2 hari. Selisih waktu 5 hari tersebut bisa disebut ROI bagi perusahaan A.

Buat rencana tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, dalam merencanakan proyek IT. Misalnya, dalam 1 tahun kedepan, tidak ada lagi dokumen dalam bentuk fisik kecuali yang berkenaan dengan legalitas. Dalam 5 tahun kedepan, tidak ada lagi penyimpanan dokumen secara On-Premises tapi berbasis Cloud. Dan sebagainya.

Tentu contoh di atas tidak bisa menjadi acuan tetap. Itu karena kebutuhan setiap perusahaan berbeda-beda.

 

Tips membuat rancangan biaya pembuatan website, software & mobile apps

 

Pembuatan rancangan biaya pembuatan website, software & mobile apps itu berbeda-beda. Teknologi yang digunakan pada tiap produk digital itulah yang menyebabkan rancangan biaya yang berbeda. Untuk membuat website, teknologi yang digunakan dan kebutuhan-kebutuhannya akan berbeda dengan pembuatan software ataupun mobile apps.

Maka dari itu, konsultasikan proyek IT anda kepada penyedia jasa pembuatan website, software atau mobile apps yang berpengalaman.

Karena kalian sudah membaca hingga bagian ini, kami akan menyediakan contoh template yang bisa kalian gunakan untuk membuat rancangan biaya proyek IT.

Download Contoh Template Biaya Pembuatan Website

Contoh template di atas merupakan estimasi biaya pembuatan website e-commerce. Biasanya untuk membuat custom website memerlukan biaya sekitar 100 hingga 300 juta rupiah. Namun, untuk pembuatan website biasa / company profile biasanya berkisar 30 hingga 70 juta rupiah. Banyak sedikitnya fitur dan tingkat kesulitan pembuatan fitur itulah yang mempengaruhi biaya pembuatan website.

Untuk membantu kalian membuat rancangan biaya, kami sudah menyediakan artikel khusus. Ada 67 checklist & estimasi biaya pembuatan website e-commerce yang bisa mempermudah anda menyusun estimasi anggaran.

Yuk, buat platform website, aplikasi, atau mobile apps menguntungkan mu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *