Bagaimana perkembangan Smart City di Indonesia?

Smart City. Sudah pernah dengar? Ya, akhir-akhir ini Smart City di Indonesia memang menjadi perbincangan banyak orang. Apa lagi mengingat tahun 2019 adalah tahun politik. Banyak orang yang memasukkan program Smart City dalam kampanye sebagai solusi masalah perkotaan. Tetapi, kira-kira pemahaman mereka terhadap program Smart City itu seberapa dalam ya? Yuk pelajari Smart City bersama!

Smart City merupakan bagian dari implementasi Internet of things (IoT) di Indonesia. Objek dari program Smart City di Indonesia adalah masyarakat, pemerintah, dan infrastruktur kota. Intinya, Smart City bertujuan untuk mengintegrasikan informasi dari ketiga objek di atas untuk pelayanan yang efisien. Lalu, bagaimana cara mengintegrasikan masyarakat, pemerintahan dan infrastruktur kota? Salah satu caranya yaitu membuat aplikasi. Lantas, apakah kota yang memiliki banyak aplikasi bisa disebut Smart City? Bisa, dan tidak. Memiliki banyak aplikasi bukanlah satu-satunya indikator Smart City. Tetapi, bisa sebagai acuan pengembangan kota menuju Smart City.

Setiap kota memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Untuk mengaplikasikan Smart City di Indonesia tidaklah mudah. Belum tentu metode yang dipakai Kota Jakarta untuk program Smart City bisa dipakai juga oleh kota-kota lain di Indonesia. Untuk itu, mengetahui kebutuhan setiap kota menjadi penting untuk menciptakan aplikasi yang tepat. Contohnya adalah Jakarta. Dalam proses pengembangannya, kota Jakarta fokus terhadap transportasi publik. Banyak aplikasi yang dibuat untuk mempermudah warga Jakarta mengakses informasi tentang transportasi massal. Informasi mengenai rute, jadwal, hingga tarif semua jenis transportasi menjadi inti dari aplikasi tersebut. Tentu fokus kota Jakarta kini untuk mengurai kemacetan yang semakin tidak masuk akal, tetapi perlu diperhatikan bahwa tidak semua kota di Indonesia memiliki masalah kemacetan. Untuk daerah rawan bencana, aplikasi yang berfokus pada informasi tentang bencana, dan rute evakuasi bisa jauh lebih solutif.

6 Indikator Smart City

Untuk tercapainya program Smart City di Indonesia, ada beberapa indicator yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya. Menurut Beesmartcity, perusahaan penyedia solusi perkotaan asal Jerman menyebutkan bahwa ada enam indikator Smart City.

Indikator yang pertama adalah Smart Economy. Mendorong berkembangnya ekonomi melalui industri kreatif pada bidang digital, merupakan contoh dari pengembangan Smart Economy. Dengan memanfaatkan teknologi digital, banyak peluang usaha baru yang muncul dan tak jarang yang menghasilkan solusi efektif untuk suatu masalah perkotaan. Namun, solusi tidak berhenti pada industri kreatif saja. Keseluruhan iklim bisnis juga perlu diperhatikan. Pada intinya, bagaimana cara pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk menarik investor, dan meningkatkan daya tarik kota. Akhirnya, akan membuka lapangan kerja baru, percepatan pertumbuhan ekonomi, dan keuntungan ekonomi lainnya.

Yang kedua adalah Smart Environment. Waste management, water management, dan energi alternatif yang ramah lingkungan menjadi objek untuk dikembangkan. Misalnya, kini pemerintah Indonesia sedang gencar mengurangi sampah plastik. Berbagai cara dilakukan untuk mendaur ulang sampah plastik dan memperlambat pertumbuhannya. Salah satunya dengan mengembangkan plastik sebagai campuran aspal untuk jalanan. Untuk merespon tindakan baik pemerintah tentang pengurangan sampah plastik, kini banyak rumah makan / restoran yang tidak lagi memberikan sedotan dalam paket penjualan.

Smart Government menjadi indikator Smart City yang ketiga. Sebagai salah satu agen terpenting Smart City, pemerintah harus dapat memfasilitasi perubahan, dan perkembangan social dengan baik. Misalnya, lewat regulasi ekonomi strategis yang dibuat untuk mendorong perkembangan UKM & industri kreatif. Atau dengan regulasi denda elektronik dengan memanfaatkan teknologi untuk mengurangi campur tangan oknum yang tidak bertanggung jawab. Hasilnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta transparansi akan tercipta. Apalagi, setelah populernya system Blockchain, transparansi transaksi akan bisa dilacak oleh masyarakat dengan mudah.

Smart living yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat menjadi indikator selanjutnya. Memberikan fasilitas berupa informasi tentang kesehatan, mengembangkan kurikulum melek digital, dan membangun fasilitas ramah difabel merupakan beberapa cara untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Misalnya, dengan melek digital, masyarakat dapat mengurangi penyebaran berita bohong atau Hoax yang marak terjadi di Indonesia. Dengan berkurangnya informasi bohong, masyarakat akan diuntungkan dengan informasi yang valid dan benar adanya. Contohnya informasi tentang bencana alam. Jika masyarakat melek digital, mereka dapat mengakses situs institusi terkait bencana seperti BMKG. Mereka dapat mengetahui status bencana dari sumber yang terpercaya.

Apakah kalian mengikuti perkembangan berita MRT dan LRT? Indikator Smart City selanjutnya masih berkaitan dengan MRT & LRT. Smart Mobility berfokus pada peningkatan kualitas transportasi bagi masyarakat urban. Apalagi, kemasyhuran Jakarta sebagai kota macet, MRT & LRT dipandang sebagai solusi pengurai macet Jakarta.

Lalu, bagaimana dengan kota selain Jakarta? Bagaimana menjalankan Smart Mobility? Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa masalah setiap kota itu berbeda. Maka, berbeda pula fokus, prioritas, dan solusinya. Misalnya, kota yang memiliki potensi pertanian, bisa mengembangkan teknologi yang mendukung pertanian. Contohnya, mendorong para petani untuk menjual hasil panennya melalui e-commerce. Sudah ada TaniHub yang menyediakan platform e-commerce bagi petani untuk menjangkau lebih banyak pembeli.

Dan indikator yang terakhir adalah Smart People. Bagaimana bisa menjalankan Smart City di Indonesia kalau masyarakatnya belum smart? Semua indikator kuncinya yaitu pada kualitas masyarakat dan pemerintahnya. Tanpa ada kerjasama dari kedua pihak, mustahil Smart City di Indonesia bisa berjalan dengan baik.

Setiap indikator tidak bisa berjalan sendiri. Masing-masing dari indikator tersebut memiliki peran masing-masing dan saling keterkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, untuk terciptanya Smart Economy, diperlukan Smart People untuk bisa berjalan. Smart Living membutuhkan Smart Government untuk membentuk regulasi yang mendukung dan mempermudah terlaksananya program.

Lalu, dari mana kita harus memulai membangun Smart City di Indonesia setelah tahu 6 indikatornya?

Mulailah dari sumber daya manusia. Sebelum memulai program Smart City, pastikan pemerintah dan masyarakat siap untuk menghadapi perubahan yang mungkin terjadi. Membangun sumber daya manusia yang siap guna untuk membangun Smart City memang tidak sebentar. Namun, berkat kemajuan teknologi, bukanlah tidak mungkin pembekalan masyarakat dan pemerintah mengenai Smart City menjadi lebih cepat. Misalnya, sosialisasikan kemungkinan-kemungkinan kondisi masa depan suatu kota. Media sosial dirasa paling ampuh & terjangkau karena ada sekitar 81 juta orang pengguna dan masih terus bertambah hingga 103 juta pengguna pada tahun 2023 nanti.

Selain itu, sumber daya manusia ini pula sebagai kunci dari research & development (R&D) dalam pengembangan Smart City di Indonesia. Yang perlu diketahui, Smart City bukan lah kota sekali bangun, namun akan selalu terjadi perubahan mengikuti kemajuan teknologi dan lingkungan. Oleh sebab itu, studi penelitian dan pengembangan Smart City di Indonesia harus terus dilakukan dan diperbaharui secara berkala. Jika sumber daya manusia nya tidak mampu mengikuti perubahan atau kemajuan zaman, maka pengembangan Smart City akan berhenti.

Setelah sumber daya manusia siap dengan program Smart City, lakukan studi penelitian dan pengembangan. Studi penelitian & pengembangan ini bertujuan untuk menganalisis masalah dan pokok masalah dalam perkotaan. Contohnya, Jakarta membawa kemacetan sebagai masalah yang perlu diurai. Namun, dalam kemacetan tersebut ada banyak faktor pendukung yang terlibat. Misalnya, cara pengendara yang kurang tertib, jumlah kendaraan yang kurang proporsional dengan luas jalan, dan lainnya. Untuk mengatasi masalah macet tadi, pemerintah atau pihak terkait perlu menangani bukan hanya macetnya saja tapi juga faktor pendukung kemacetan. Jika pemerintah terlalu fokus pada kemacetan Jakarta dan tidak memedulikan faktor pemicu, sehebat apapun solusinya, masalah macet akan tetap ada.

Tahapan - tahapan menuju Smart City

Akan muncul pertanyaan tentang studi penelitian dan pengembangan bidang apa saja yang diperlukan.

Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu dipahami bahwa ada beberapa tahapan yang harus dilewati untuk menuju Smart City.

Tahapan pertama yaitu inisiasi Smart City. Ya, terlihat sepele memang. Tetapi, tahapan ini cukup krusial untuk mengetahui tingkat antusiasme dan kematangan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Dengan itu, pemerintah akan tahu dari mana mereka harus memulai program Smart City. Misalnya, jika masyarakat kota A kurang antusias atau bahkan acuh pada program Smart City, pemerintah bisa memulai sosialisasi Smart City. Namun, jika masyarakat kota A antusias menyambut Smart City, pemerintah bisa memulai perencanaan lebih lanjut agar Smart City dapat segera diwujudkan. Lho, kenapa sikap acuh dan tak acuh masyarakat jadi indikator? Seperti ini, misalkan kamu tertarik sama seseorang pasti kamu cari akan mencari cara biar bisa selalu deket sama orang itu, kan? Ya kurang lebih analoginya begitu. Kalau masyarakat antusias dengan Smart City, mereka secara sendirinya akan berusaha mencari tahu lebih dalam. Jadi, pemerintah tidak perlu sosialisasi besar-besaran tentang Smart City.

Hemat biaya.

Tahapan selanjutnya merupakan tahapan kesiapan sumber daya manusia (pemerintah & masyarakat). Hal ini bisa dimulai dengan cara transformasi digital. Ingat dengan 6 indikator yang sudah dijelaskan sebelumnya? Smart government dan smart people bisa mulai dibentuk pada tahapan ini. Memperbanyak akses internet publik bisa menjadi salah satu cara untuk menghilangkan angka buta internet. Mulai lah bekerja sama dengan institusi pendidikan setempat dengan membuat proyek-proyek kecil sederhana. Kalian pasti pernah dengar atau bahkan berpartisipasi pada kegiatan KIR (Karya Ilmiah Remaja), kan? Aktivitas tersebut bisa menjadi cikal bakal Smart People yang baik.

Ketika masyarakat & pemerintah siap dengan kedatangan Smart City di Indonesia dan segala potensi yang dibawanya, bawa hal kecil seperti transformasi digital dalam kehidupan sehari-hari dan hasil dari kegiatan KIR pada institusi pendidikan untuk naik kelas. Apa maksudnya? Bawa dampak transformasi digital ke lingkup yang lebih besar. Misalnya, mulai gunakan sistem antrian untuk layanan publik via internet. Bisa pula, dengan menyediakan website pengaduan masyarakat. Dan masih banyak lagi. Tidak perlu pusing untuk menyediakan sistem atau website. Kini banyak perusahaan penyedia website, sistem, bahkan aplikasi.

Setelah pemerintah & masyarakat terbiasa dengan transformasi digital, dan penggunaan sistem informasi dalam kehidupan sehari-hari, artinya mereka siap untuk menyambut Smart City. Dengan simulasi sederhana seperti antrian online, dan pengaduan masyarakat online, pemerintah bisa mulai membuat rencana 10 tahun kedepan dan membuat skala prioritas.

Namun tentunya, untuk membuat skala prioritas, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menggali masalah apa saja yang ada di daerah tersebut. Misalnya saja daerah pesisir pantai. Skala prioritas yang bisa diterapkan lebih pada pencegahan bencana tsunami menggunakan teknologi informasi. Bukan berarti teknologi transportasi tidak penting, tetapi mengingat ada urgensi lebih pada penanganan bencana dibandingkan dengan kebutuhan transportasi berbasis teknologi informasi. Bisa juga pengembangan wisata daerah pesisir dengan mengintegrasikan informasi agar lebih mudah diakses khalayak ramai. Yang perlu diingat adalah skala prioritas. Skala prioritas ini yang akan menentukan berapa banyak biaya yang dibutuhkan pada setiap proyeknya.

Mungkin akan ada yang bertanya. Apakah pengembangan proyek Smart City tidak bisa dilakukan secara bersamaan?

Bisa. Tidak ada yang tidak mungkin. Tetapi, coba bayangkan ketika pengembangan dua proyek dilakukan secara bersamaan. Misalnya, pengembangan sistem transportasi dan sistem ekonomi. sudah pasti tidak akan menemui titik temu bukan? Pengembangan sistem transportasi memerlukan biaya yang tidak sedikit. Di sisi lain, pengembangan sistem ekonomi memiliki tujuan untuk mempercepat penyerapan pendapatan dan pemerataan kesejahteraan sosial, bukan? Justru, bisa jadi, bukan hasil positif yang didapatkan, melainkan hasil negatif yang akan muncul.

Kenapa bisa demikian?

Ingat, pengembangan sistem tidak akan terjadi dalam satu kedipan mata. Proses perencanaan, dan pengembangan berkelanjutan akan menjadi kunci sukses program SmartCity. Dua proyek pengembangan sistem yang dilakukan secara bersamaan akan memicu dua sumbu api yang berbeda. Di satu sisi bisa mempercepat program SmartCity. Di sisi lain, jika masyarakat dan pemerintah lalai dan cenderung belum siap dengan cepatnya proses pengembangan, kata GAGAL bukan suatu hal yang mustahil.

Maka dari itu, melakukan Smart Project untuk mendukung kesuksesan program Smart City perlu diperhatikan. Apa bedanya Smart Project dengan Project pengembangan pada umumnya?

Smart Project adalah proyek yang direncanakan untuk mendukung proyek-proyek lainnya. Misalnya, proyek pengembangan sistem transportasi guna mendukung proyek pengembangan sistem ekonomi. Contohnya, dengan membangun sistem transportasi yang cerdas dan baik, tentu akan berdampak pada meningkatnya mobilitas masyarakatnya. Dengan begitu, pergerakan ekonomi akan menyebar di penjuru daerah dan tidak terpusat pada satu wilayah saja. Tetapi, perlu diperhatikan bahwa kedua proyek tidak dilaksanakan secara bersamaan.

Hal terpenting dalam semua proses menuju Smart City yaitu pengembangan berkelanjutan. Kenapa bisa begitu? Kalian yang lahir pada era 90 an pasti familiar dengan merek “Nokia”, bukan? Analogi ini sama dengan hp produksi merek “Nokia”. Karena Nokia meremehkan para pesaingnya, kini Nokia tidak lagi dianggap sebagai merek yang merajai pasar smartphone. Hanya karena perkara Nokia menganggap sudah cukup “perkasa” sehingga mereka melupakan fakta bahwa teknologi tumbuh begitu cepat. Bayangkan saja, jika pengembangan Smart City berhenti hanya karena dianggap sudah menjadi kota yang cukup “cerdas”, bukan tidak mungkin yang konon dulunya kota “cerdas” 5 tahun lagi sudah menjadi kota “tertinggal”.

Lalu, kira-kira ide apa saja yang bisa dikembangkan untuk memulai program Smart City? Simak pembahasan berikut.

5 Ide proyek Smart City di Indonesia yang menarik untuk dikembangkan

Digital City Guide

Indonesia sudah terkenal dengan bentang alamnya yang menakjubkan. Setiap daerah memiliki keunikan yang khas. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, informasi mengenai keindahan alam Indonesia cepat tersebar ke penjuru dunia. Pemerintah berinisiatif membuat program “Wonderful Indonesia” sebagai jargon kampanye pariwisata Indonesia.

Tidak dipungkiri, industri pariwisata merupakan industri subur yang bisa mendatangkan banyak pemasukan bagi negara. Khususnya jika ada wisatawan asing berkunjung yang bisa memberikan pemasukan devisa. Untuk itu, tidaklah rugi mengembangkan sistem digital City Guide untuk mempermudah wisatawan mendapatkan informasi mengenai pariwisata di daerah tersebut. Misalnya, menyediakan website khusus untuk informasi wisata daerah tersebut. Contohnya kota Batang. Mereka membuat program Visit Batang 2022 sebagai langkah jitu menarik wisatawan.

Konten yang disediakan tidak melulu tentang tempat-tempat indah yang harus dikunjungi, tapi juga tentang makanan-makanan khas daerah. Tentu potensi yang diberikan tidaklah sedikit. Mari kita coba kalkulasikan potensi di bidang pariwisata di Indonesia, berdasarkan dari informasi yang didapatkan, industri pariwisata Indonesia akan menyentuh nilai investasi sebesar 500 Triliun pada tahun 2024. Yakin gak mau kebagian?

Mobile Payment

Go-pay dan OVO memang sedang menjadi raja mobile payment di Indonesia. Berbagai fitur yang mereka berikan memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi. Selain itu, perkembangan mobile payment di Indonesia dapat mempercepat perputaran uang. Percepatan perputaran uang ini juga sebagai salah satu indikator percepatan ekonomi suatu daerah. Memang, membiasakan masyarakat membayar dengan yang virtual tidaklah mudah dan membutuhkan waktu untuk penyesuaian.

Cangkupan industri yang bisa menggunakan mobile payment sangatlah luas. Jika pemerintah serius untuk mengembangkan sistem mobile payment ini, masyarakat akan memiliki banyak pilihan untuk bertransaksi. Terlebih lagi jika membayar parkir bisa menggunakan sistem mobile payment ini. Tidak akan ada lagi kata “gak ada kembalian mas”. Dan tentunya, parkir ilegal akan berkurang karena akun user untuk bertransaksi langsung masuk ke pemerintahan daerah. Terdengar efisien, bukan?

Integrated Crisis Response System

Jangan terlalu bangga dengan bentang alam Indonesia yang menakjubkan. Tentunya semuanya ada hal positif dan negatifnya. Positifnya, pariwisata Indonesia menjadi industri yang hangat untuk dikelola. Meskipun demikian, Indonesia menjadi sasaran empuk terjadinya bencana alam. Bisa dibilang, kemanapun anda pergi, bencana alam siap menanti. Ya, karena Indonesia berada di cincin api Pasifik, bencana alam vulkanik menjadi hal yang wajar.

Tetapi, mungkin ini juga yang menjadi rambu merah bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Hal ini yang menjadi dasar penyebaran informasi tentang respon krisis bencana suatu daerah sangat penting. Memiliki sistem respon krisis bencana yang terintegrasi akan menjadi nilai positif. Karena, hal ini akan memudahkan evakuasi dan mempercepat datangnya bantuan.

Misalnya ada erupsi gunung berapi, informasi bencana ini bisa segera disiarkan melalui frekuensi ponsel dengan metode SMS Blaster berdasarkan area terdampak. Dan juga, SMS blaster bisa digunakan untuk menghubungi masyarakat daerah aman untuk bisa mengirimkan bantuan dari daerah aman terdekat. Restoran cepat saji saja sudah menggunakan metode SMS Blaster ini untuk promosi, masa pemerintah tidak? tentunya hal ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab menyebarkan informasi bohong.

Solar Energy

Sinar matahari menerangi Indonesia sepanjang tahun. Sebagai bagian dari salah satu negara tropis, Indonesia memiliki banyak kelebihan. Salah satunya yaitu kelebihan sinar matahari. Dari kelebihan ini, harusnya matahari bisa menjadi penunjang kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Bukan cuma untuk mengeringkan jemuran saja. Potensi energi matahari sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan harusnya menjadi opsi terbaik saat ini. Tetapi kenapa sepertinya pertumbuhan pemberdayaan energi matahari cukup tertinggal?

Bayangkan berapa banyak biaya yang bisa dihemat dan kerusakan lingkungan yang dapat dikurangi dengan memaksimalkan energi matahari. Memang sudah ada beberapa langkah-langkah positif pemerintah untuk memberdayakan energi matahari. Seperti, penggunaan energi matahari untuk menghidupkan penerangan jalan pada malam hari. Tapi, rasanya masih belum maksimal.

Bagi pemerintah yang serius mengembangkan Smart City di daerahnya, energi matahari bisa menjadi acuan awal untuk mendirikan daerah mandiri energi. Selain dapat mengurangi biaya kelistrikan yang memang tidak sedikit, energi matahari juga bisa sebagai cara ampuh pemerintah mengurangi dampak lingkungan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Program satu atap satu panel bisa menjadi langkah cerdas menuju masyarakat mandiri energi. Itu juga menjadi salah satu indikator sukses Smart City.

Paperwork limitation

Pembatasan penggunaan kertas merupakan langkah nyata untuk memaksa masyarakat dan pemerintah beralih pada produk digital. Selama ini kita terbiasa dengan menggunakan kertas, mencoret-coret kertas yang tentu saja bukanlah aktivitas yang produktif. Selain itu, sampah kertas juga akan bertambah. Memang, sampah kertas bisa didaur ulang, tapi bukannya lebih baik jika mengurangi sampah itu sendiri? Berapa banyak pohon yang harus ditebang lagi untuk memenuhi kebutuhan kita. Padahal, fasilitas produk digital bisa menggantikan kertas dan bahkan jauh lebih aman menyimpan dokumen pada produk digital daripada kertas.

Transformasi digital dinilai ampuh untuk hal ini. Transformasi digital bisa dimulai dari hal-hal kecil disekitar kita. Yang jelas, tujuan akhir dari transformasi digital selain untuk mengurangi penggunaan kertas juga sebagai langkah nyata membentuk kebiasaan guna menyambut perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Kesimpulan

Smart City di Indonesia merupakan program pengembangan berkelanjutan yang bertujuan untuk memberikan kemudahan untuk mendapatkan akses informasi. Aktor utama dalam pengembangan program Smart City adalah masyarakat itu sendiri, karena masyarakat merupakan End-User dari program Smart City ini. Ada 6 indikator yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Smart City di Indonesia. Namun, untuk memastikan semua aspek Smart City berjalan dengan baik, Smart People perlu mendapatkan fokus yang lebih.

Kesiapan Sumber Daya Manusia menjadi acuan untuk memulai program Smart City. Hal ini untuk menentukan dari titik mana harus memulai. Tetapi, kerja sama antara pemerintah sebagai pembentuk regulasi dan masyarakat sangatlah penting dalam program Smart City. Tidak lucu apabila program Smart City di Indonesia berjalan tanpa ada peraturan yang menyertainya.

Untuk memulai program Smart City ada 9 langkah yang perlu dilewati. Yang perlu digaris bawahi yaitu jangan sampai program pengembangan Smart City berhenti hanya karena merasa kota tersebut sudah cukup “pintar”. Karena kunci dari kesuksesan Smart City di Indonesia adalah pengembangan berkelanjutan.

Ada 5 ide yang bisa dikembangkan dalam proses pengembangan Smart City di Indonesia. Industri pariwisata dengan Digital City Guide. Penanggulangan bencana alam dengan Crisis Response System yang terintegrasi. Mendorong penggunaan mobile payment untuk mempercepat perputaran ekonomi. Memanfaatkan Solar System untuk menjadi masyarakat mandiri energi. Dan juga pembatasan penggunaan kertas sebagai langkah progressive menyambut Smart City dengan transformasi digital.

Setelah penjelasan di atas, kapan daerah kalan bisa mewujudkan program Smart City? Apakah sudah ada kabar dari pemerintah daerah kalian tentang wacana program Smart City? Kini banyak perusahaan yang bersedia membantu daerah mewujudkan program Smart City dengan menyediakan website, software, dan aplikasi. Rencanakan, kembangkan, wujudkan!

Comments are closed.